Soto Otak: Merayakan Kegilaan, Mengusik Kewarasan Lewat Puisi
Apa yang sebenarnya kita ketahui tentang kehidupan orang dengan gangguan jiwa? Selama ini, perhatian kita mungkin lebih banyak tertuju pada perilaku mereka yang dianggap berbeda. Kita juga seringkali begitu mudah menyebut seseorang gila, bahkan menjadikannya bahan tertawaan.
Padahal, di balik perilaku mereka yang seringkali kita anggap tidak biasa, bisa jadi ada banyak hal yang seharusnya coba kita mengerti.
Inilah yang membuat buku kumpulan puisi Soto Otak karya Tan Lioe Ie yang terbit pada 14 Oktober 2026 ini sangat menarik untuk dibaca.
Melalui puisi-puisi dalam Soto Otak, pembaca diajak mendekati kehidupan mereka dari perspektif yang lebih luas. Bukan sekadar membicarakan kegilaan, buku ini berusaha membuka ruang bagi kisah-kisah manusia yang jarang didengar, termasuk dari mereka yang menjadi saksi sejarah kelam Indonesia.
![]()
Menggali Kehidupan Penyintas ODGJ
ODGJ selama ini seringkali identik dengan skizofrenia. Sebuah gangguan mental kronis dan berat yang mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku, sehingga mereka seringkali kesulitan untuk membedakan antara kenyataan dan khayalan.
Namun, ODGJ memiliki spektrum yang lebih luas meskipun gejala antara satu jenis gangguan kejiwaan dengan yang lainnya cukup mirip. Penyintas ODGJ pun tidak selamanya merupakan orang-orang yang “kehilangan akal”.
Puisi-puisi dalam Soto Otak tidak membatasi gambaran ODGJ hanya pada penyintas skizofrenia.
Pembaca akan diajak melihat berbagai sisi kehidupan para penyintas ODGJ, termasuk isi pikiran, pengalaman personal, serta peristiwa yang turut membentuk perjalanan hidup masing-masing.
Beberapa puisi juga memuat kisah para penyintas ODGJ yang menjadi saksi sejarah atas tragedi berdarah Indonesia di tahun 1965-1966. Pengalaman semacam ini membuka ruang refleksi tentang bagaimana peristiwa traumatis dapat meninggalkan jejak mendalam dalam kehidupan seseorang.
Puisi dengan Proses Riset yang Mendalam
Meski ditulis menggunakan bahasa yang relatif sederhana, puisi-puisi dalam Soto Otak tidak lahir hanya dari imajinasi penyair. Proses penulisannya melibatkan riset, observasi langsung, serta percakapan dengan penyintas ODGJ, relawan, hingga psikiater.
Proses tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memahami pengalaman para penyintas ODGJ yang diangkat dalam puisi. Penulis tidak hanya mengamati kehidupan mereka dari kejauhan, tetapi juga berusaha mendengarkan cerita dan memahami realitas yang melatarbelakanginya.
Perpaduan antara riset dan ekspresi puitis ini menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda. Pembaca tidak hanya diajak menikmati pilihan kata dan suasana dalam puisi, tetapi juga menelusuri persoalan kemanusiaan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kesederhanaan bahasa menjadi pintu masuk untuk mendekati tema yang kompleks, tanpa mengharuskan pembaca memiliki latar belakang khusus dalam sastra atau psikologi.
Melihat Bali di Luar Pesona Pariwisatanya
Bali dan adat budayanya dipilih menjadi latar dalam puisi-puisi di buku Soto Otak.
Meski dikenal luas sebagai destinasi wisata internasional dengan keindahan alam, kekayaan budaya, dan kehidupan keagamaan masyarakatnya, puisi-puisi dalam buku ini memperlihatkan betapa kontras kehidupan Bali dengan para penyintas ODGJ yang terpenjara di pulau yang dijuluki sebagai “The Last Paradise” ini.
Di buku ini, Bali tidak hanya hadir sebagai latar tempat, tetapi juga sebagai ruang kehidupan dengan berbagai pengalaman dan persoalan manusia.
Mengenal Tan Lioe Ie, Penyair dari Denpasar
Tan Lioe Ie merupakan penyair, penulis cerpen, dan esais yang berbasis di Denpasar, Bali. Ia dikenal sebagai seniman yang juga memadukan puisi dengan musik. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media dan lebih dari 26 antologi bersama. Puisinya juga telah diterjemahkan ke sejumlah bahasa, termasuk Inggris, Belanda, Prancis, Mandarin, dan Bulgaria.
Dalam perjalanan kepenyairannya, Tan Lioe Ie menghasilkan sejumlah buku puisi, di antaranya Kita Bersaudara, Malam Cahaya Lampion, dan Ciam Si: Puisi-puisi Ramalan. Pada 2022, ia menerima penghargaan Bali Jani Nugraha atas kiprahnya sebagai penyair.
Kehadiran Soto Otak menambah karya Tan Lioe Ie yang membawa pembaca menjelajahi pengalaman manusia melalui puisi. Kali ini, perhatian diarahkan pada kehidupan para penyintas ODGJ beserta realitas sosial, budaya, dan sejarah yang berkaitan dengan pengalaman mereka.
Membaca Puisi untuk Memahami Manusia
Soto Otak menawarkan lebih dari sekadar kumpulan puisi tentang penyintas ODGJ. Melalui riset dan perjumpaan langsung dengan berbagai pihak, buku ini mengajak pembaca melihat kehidupan manusia yang sering kali dipahami hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Dengan bahasa sederhana dan tema yang berlapis, puisi-puisi di dalamnya membuka ruang untuk merenungkan stigma, pengalaman traumatis, kehidupan sosial, serta kisah-kisah para penyintas ODGJ yang jarang mendapat tempat dalam percakapan publik.
Bagi pembaca yang tertarik pada puisi, isu kesehatan mental, hingga sejarah Indonesia, Soto Otak menawarkan kesempatan untuk mendekati berbagai realitas tersebut melalui sudut pandang yang berbeda.
Buku ini sudah bisa dipesan melalui seluruh marketplace Bentang.
Ikuti seluruh media sosial Bentang untuk mendapatkan informasi terbaru terkait buku Soto Otak dan buku-buku terbaik lainnya.


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!