Habibie Muda dan Pergerakan Mahasiswa

Animo masyarakat hari-hari ini bergemuruh akibat serangkaian aksi demonstrasi yang dimotori mahasiswa. Banyak orang percaya bahwa pemuda adalah motor penggerak sebuah bangsa. Rudy (Habibie Muda) punya anggapan yang sama dengan kebanyakan orang. Menurut Habibie, kemerdekaan adalah hak tersulit manusia. Kemerdekaan hanya awalan, sementara hal tersulit dari kemerdekaan ialah mengisinya dengan berbagai upaya menyejahterakan kehidupan bangsa.

Rudy bilang, “Kita yang masih muda-muda tidak turut memanggul senjata, itu disebabkan kala itu kita masih kanak-kanak. Namun, sekarang kita sedang menuju kedewasaan. Tugas kita ialah mengisi kemerdekaan itu.” Tugas kita lebih berat karena “musuh” kita kelak di Tanah Air itu beraneka ragam dan berada dalam diri kita masing-masing.

Semasa kuliah di Aachen, Jerman, Habibie dan kawan-kawannya tak hanya berurusan dengan urusan kuliah dan bersenang-senang. Mahasiswa kala itu dipandang sebagai kelompok elite dan memiliki kekuatan politik yang besar. Gonjang-ganjing pemilu politik pada 1955 menjadi pemantik Rudy dan kawan-kawannya memikirkan arah Indonesia ke depan.

Visi Besar Habibie Muda

Segala persoalan tersebut diperparah dengan cita-cita Rudy untuk mendirikan industri pesawat di Indonesia saat ia pulang nanti. Mulailah ia mencari ide dari mana saja. Ia membaca, berdiskusi, dan bertanya kepada para pejabat pendidikan di Bonn. Namun, para pejabat tersebut lebih berfokus dengan situasi politik di Indonesia daripada membahas industri pesawat.

Rudy lantas bertanya kepada teman mahasiswa Jerman-nya, tetapi teman-temannya tak ambil pusing soal keresahan Rudy. Justru temannya malah balik bertanya, “Kalau kamu pikir keadaan bangsamu tidak stabil, sedangkan kamu ingin membuat pesawat, mengapa kamu tak terus menetap di sini saja? Kau bisa melakukan apa saja di sini, Rud.”

“Ya, tak bisa begitu, dong! Aku harus kembali ke Indonesia,” jawab Rudy sembari melotot.

“Lho, kenapa? Kan, kamu cerita kalau kamu tak terikat kontrak beasiswa dengan pemerintah,” balas kawan Jerman-nya.

“Tetapi, aku mau jadi ‘mata air’. Jadi orang yang berguna.”

“Memang kamu tak berguna di sini?” tanya kawannya.

Rudy menggeleng. “Berguna untuk Indonesia. Bukan untuk Jerman.”

Dari percakapan dengan teman Jerman-nya itu, Rudy mulai berpikir untuk mempererat jaringan mahasiswa di Jerman. Kata Rudy, mahasiswa Indonesia harus punya visi besar untuk bangsa ini ke depan. Sementara itu di Indonesia, Bung Karno membutuhkan dukungan mahasiswa dalam perebutan kendali poltik. Saat itu terdapat tegangan antara presiden, parlemen, dan militer pasca-Pemilu 1955.

Perjalanan Habibie Muda di PPI Jerman

Di Bonn, Chaerul  (tokoh pemuda yang diselamatkan Bung Karno) menganggap dukungan mahasiswa bisa didapat dengan membentuk perkumpulan mahasiswa Indonesia di Eropa. Chaerul Saleh merupakan tokoh pemuda yang ikut menculik Bung Karno ke Rengkasdengklok untuk mendesak Indonesia merdeka. Pada 1950 ia dikirim untuk sekolah Hukum di Universitas Bonn dan lima tahun kemudian ia lulus.

Secara umum, mahasiswa saat itu terbagi atas beberapa golongan. Kelompok Chaerul Shaleh dan Achmadi, ingin agar kekuasaan yang ada dijebol dan dibangun kembali.  Kelompok lainnya lebih filosofis, melihat Pancasila sebagai dasar moral dan etika bangsa. Jadi, bukan hanya soal politik, melainkan juga soal moral dan budaya bangsa. Ada lagi kelompok lain yang semata-mata hanya ingin belajar dan memperdalam ilmu. Ada pula kelompok lain di Eropa Timur yang terbina dalam CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) yang berafiliasi dengan PKI.

Pada 1955, di Bad Honnef diadakan pertemuan mahasiswa di seluruh Eropa yang melahirkan organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Chaerul Shaleh dan Achmadi mengambil peranan potensi mahasiswa yang revolusioner pada setiap cabang PPI. Akibatnya terjadi pertentangan di kalangan PPI. Kemunculan PPI di Eropa memicu mahasiswa-mahasiswa di tiap negara Eropa untuk membuat cabang dari PPI. Akhirnya, PPI Jerman didirikan pada 4 Mei 1956 di Bad Godesberg.

Saat itu, tiga orang terpilih menjadi pengurus PPI Aachen. Peter Manusama ditunjuk sebagai ketua. Ia dikenal sebagai pribadi yang penyabar. Rudy yang penuh semangat dan berapi-api ditunjuk sebagai Sekretaris PPI. Lalu,  Kang Kie (sahabat Rudy) dipilih sebagai bendahara. Rudy menyambut tugas ini dengan penuh semangat. Ia yakin betul bahwa bergabungnya dengan PPI tidak akan mengganggu studinya. Sebaliknya, PPI adalah cara Rudy agar bisa memastikan pembangunan Indonesia bisa sesuai dengan cita-citanya terhadap Indonesia pada masa depan.

Mahasiswa Punya Peran Sentral

Jadi, bagaimana Sahabat? Ternyata,  mahasiswa dan para pemuda itu punya peran penting dalam tiap perubahan yang terjadi di Indonesia. Lantas, tidak ada salahnya jika kita menggantungkan harapan masa depan Indonesia kepada mereka. Bangsa Indonesia lewat mahasiswa dan pemuda harus punya visi besar untuk mengubah Indonesia jadi lebih baik dari hari ke hari. Tanpa peran sentral para pemuda, gerakan sosial di Indonesia akan menjadi statis dan banyak kesewenang-wenangan bisa terjadi di mana-mana. Pemuda dan mahasiswa bertugas mengontrol kebijakan yang ada agar tidak melenceng dari cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Jika kalian ingin tahu kelanjutan kiprah Habibie Muda di PPI Jerman, kalian bisa baca buku Rudy Kisah Muda Sang Visioner! Kalian bisa mendapatkan bukunya di sini dan di toko buku terdekat, ya!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *