Tag Archive for: Jati Diri

Tips Pembentukan Karakter Anak Guna Membentuk Pola Ekspresi Diri

Pembentukan karakter sama halnya dengan penentuan identitas diri. Hal tersebut menjadi penting terlebih saat anak akan memasuki proses kedewasaan. Jika berada dalam tahap proses kedewasaan anak sudah memiliki pendidikan karakter yang ditanamkan sejak dini, maka penentuan identitas diri pun bisa terbentuk dengan baik sesuai dengan tatanan nilai dan norma. Sayangnya, tak semua anak bisa memiliki pembentukan karakter yang baik, beberapa ada yang menyimpang dari tatanan nilai dan norma.

Menjadi suatu gejala sosial jika anak-anak berperilaku menyimpang dari tataran sosial. Ekspresi diri dari perilaku sosial yang menyimpang menunjukkan adanya kurangnya wadah bagi anak-anak muda berkarya dan menuangkan segala aspirasinya. Oleh sebab itu, penyimpangan karakter anak menjadi meluas dan menyebar di lingkungan sosial. Tambahan mengapa penyimpangan karakter masih ada karena disebabkan oleh tatanan nilai yang disebarkan oleh orang tua, masyarakat, dan lingkungan pergaulannya kurang baik dan maksimal.

3 tips di bawah ini bisa dijadikan bahan referensi guna membentuk karakter anak sejak dini demi membentuk pola ekspresi saat dewasa bisa terjalin dengan baik.

Pembentukan karakter dengan penyelarasan orang tua dan anak

Pembentukan karakter untuk anak perlu diselaraskan dengan hubungan orang tua di dalam keluarga. Keluarga menjadi pembimbing dan pembina utama dalam proses pembentukan karakter anak. Berhasil atau tidaknya proses pembentukan karakter anak juga bisa diukur dari seberapa dekat keakraban penyampaian ilmu dari keluarga, terutama orang tua.

Penyelarasan pola pikir, misalnya. Tentunya akan ada perbedaan pendapat saat orang tua dan anak berargumen. Kita, sebagai orang tua tidak boleh langsung memberikan justifikasi negatif ataupun penolakan pendapat dari anak, tetapi harus mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat dari anak. Usahakan untuk menemukan benang merahnya. Jangan sampai berat sebelah–menguntungkan atau memberatkan salah satu pihak. Perlu diingat, orang tua tak bisa mengekang apa yang menjadi kemauan anak, tetapi di sisi lain juga harus memberi batasan yang semestinya (sesuai dengan porsi yang ada).

Dengan penyelarasan pola pikir tersebut, anak akan menjadi pengamat dan pemerhati yang baik untuk respons dan tindakan yang orang tua berikan. Tentunya, hal tersebut akan memengaruhi pola pembentukan karakter anak yang akan dibawa terjun ke dunia masyarakat.

Mengamati perilaku anak di lingkungan sosial

Pembentukan karakter anak setelah dilakukan di dalam keluarga selanjutnya yaitu mengamati perilaku anak di lingkungan sosial. Dalam tahap ini, kuat atau tidaknya nilai-nilai karakter yang ada di dalam diri mulai terlihat. Bagaimana penerimaan nilai karakter dan pengimplementasiannya sudah sesuai atau belum, maka harus diamati.

Pola ekspresi diri yang baik tecermin dari aktivitas keseharian yang dibentuk oleh anak.  Di sinilah peran pihak luar bekerja. Bagaimana caranya proses karakter baik tetap melekat dalam diri anak dan ekspresi diri yang disalurkan bisa sesuai dengan harapan. Mengamati perilaku anak nantinya akan berguna dalam tahap evaluasinya.

Evaluasi pembentukan karakter anak

Akan ada tantangan bagi si anak mengatur tarikan dan embusan kompleksitas permasalahan sosial, hal tersebut memengaruhi bagaimana karakter tercipta dengan baik. Oleh karena itu, peran orang tua yaitu mengevaluasi proses perjalanan pembentukan karakter anak. Jika ada hal-hal yang menyimpang, segera benahi dan dilakukan pembinaan yang lebih terarah dan strategis. Tetap diingat, terapkan pola pembelajaran penanaman karakter yang tidak membuat jemu anak.

Sudah menjadi keharusan, ada motif yang perlu ditelisiki mengapa ekspresi diri anak bisa terjadi sebuah penyimpangan. Tentunya, ada sebuah motivasi sosio-psikologis yang menjadi pemicunya. Maka dari itu, kita semestinya bisa menempatkan diri sesuai dengan posisinya: menjadi pembimbing untuk anak agar bisa memiliki karakter baik dan menjadi anak yang mengerti tindak tanduk yang mengerti batasan.

Harapannya, nilai-nilai moralitas, kultur sosial-budaya yang baik, dan menjadi anak yang dapat memberikan seruan-seruan positif dapat tertanamkan. Saat ini kita hidup di dalam era yang serba “maju”. Pola hidup rasanya dituntut agar ini-itu. Namun, meskipun begitu, kita tetap harus memiliki pendirian yang teguh. Jangan terbawa oleh arus ke sana-ke mari. Pola ekspresi diri harus terbentuk dengan baik. Hal-hal baik dimulai dari penanaman karakter agar tercipta identitas diri yang kuat agar tak mudah goyah dan meminimalisir penyimpangan sosial.

Berkenaan dengan bahasan pembentukan karakter anak demi pola ekspresi diri yang baik, ikuti segera pre-order buku Indonesia Bagian dari Desa Saya karya Emha Ainun Nadjib dari tanggal 1-23 November 2020 melalui laman bit.ly/indonesiadesasaya. Amankan paket hematmu segera, ya.

Pamungkas Adiputra.

Lanjut Baca: Buku Rekomendasi untuk Membentuk Karakter pada Anak

 

 

Introspeksi Diri: Sudahkah Dirimu Berkaca pada Langkahmu Sendiri?

Introspeksi diri bagi beberapa orang menjadi sebuah kelalaian yang sering terjadi. Bercakap dengan lantang, namun enggan untuk membuka diri demi kesiapan yang matang. Benar, kesiapan diri ketika akan menginjak proses pendewasaan. Cukup rumit, bisa dijabarkan?

Sebuah proses introspeksi diri itu berkaitan juga dengan proses menghargai diri sendiri dan hal-hal yang ada di sekitar kita. Bagaimana sudut pandang kita arahkan dengan sebijak mungkin, tanpa ada hati yang merasa tersakiti, termasuk kita.

Kadang kala, introspeksi diri menjadikan kita bisa becermin terhadap diri sendiri, tanpa harus menyalahkan orang lain dalam suatu kondisi yang kita alami. Namun, bagaimana proses yang tepat? Apakah kita sudah mampu menjadikan diri kita sebagai tumpuan bijak? Mulai sekarang, renungkan hal-hal kecil yang mampu menjadikan dirimu lebih bisa menatap lebih dalam arti sebuah kehidupan, salah satu halnya dengan berbenah diri atau koreksi diri.

Baca Juga: Kontrol Diri, Mengendalikan Marah dengan Beberapa Pesan dari Seneca, si Filsuf Stoa

Introspeksi Diri dengan Mengurangi Penghakiman Diri

Era kini memang segalanya bisa cas cis cus dengan gampang, namun tentunya tidak bisa diselaraskan dengan penghakiman. Belum terbukti suatu kabar atau berita perihal kebenarannya, kita sudah bersuara dengan lantang saja, seolah-olah sudah seperti sumber utama. Alhasil, memberikan justifikasi tersendiri. Iya kalau benar, bagaimana jikalau salah?

Introspeksi diri yang paling awal dengan menghindari adanya penghakiman diri, baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Memberikan tafsiran tersendiri tanpa mengetahui kebenarannya sesungguhnya hanya merugikan kita sebagai manusia yang sebenarnya sudah dibekali dengan akal dan pikiran yang bisa digunakan untuk berwawasan luas.

Jadikan Dirimu sebagai Alarm Diri

Kalau hidup itu perihal saling mengingatkan, berarti diri kita bisa dijadikan sebagai sebuah perantara antar-ikatan. Ikatan dengan diri sendiri, alam, dan Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta. Sikapilah hal-hal yang membuat kita lupa diri dengan rendah hati. Jangan selalu menuntut semesta harus berbaik hati ini-itu kepada kita, justru kitalah yang semestinya menjadi roda penggerak utama (setelah Sang Pelaksana, Tuhan, mengilhami kita).

Baik buruknya tingkah laku atau perkataan juga cerminan diri. Penilaian sepenuhnya ada pada orang-orang yang melihatnya. Kita, sebagai sosok si pemiliki diri, wajibnya menunaikan hal-hal yang tidak lebih dari batasnya. Maka dari itu, adanya introspeksi berguna untuk menuntun kita ke arah yang lebih baik dari kehidupan sebelumya.

Bentuklah karakter diri yang mampu selaras dengan bumi. Jadilah manusia yang mampu mengilhami jiwa dan raga dalam ruhnya. Temukan filosofi hidup lainnya dalam buku yang bertajuk Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya melalui masa pre-order-nya di Bentang Pustaka pada tanggal 1-11 Oktober 2020 mendatang.

Selamat berproses, ya!

Pamungkas Adiputra.

Perjalanan Menemukan Jati Diri: Arah Musim

© Copyright - Bentang Pustaka