Perjalanan Menemukan Jati Diri: Arah Musim

Arah Musim, Sebuah Karya Tentang Quarter Life Crisis

Arah Musim, Sebuah Karya Tentang Penemuan Jati Diri

Perjalanan hidup manusia bermacam-macam. Arah Musim, seperti judulnya, memiliki filosofi mengenai arah hidup manusia. Pergantian musim yang silih berganti bagaikan hidup seseorang yang tidak dapat ditebak. Hal itulah yang ingin disampaikan Kurniawan Gunadi melalui 105 potongan kisah dalam buku terbarunya, Arah Musim.

Perjalanan Penuh Luka

“Seberapa banyak keinginanmu untuk mengulang waktu? Agar kamu bisa mengambil keputusan yang berbeda, memilih pilihan yang lain, menunda sesuatu, atau mempercepat sesuatu?”

Pada bagian awal, pembaca akan diajak ‘bertamasya’ ke dalam rasa sakit. Rasa sakit karena penyesalan, kesepian, keluarga yang tidak utuh, dan banyak lagi. Kalimat-kalimat dalam setiap bab akan menyadarkan pembaca akan luka-luka yang sebelumnya tidak disadari.

Aku, Kita, dan Mereka

Bukan hanya tentang diri sendiri, melalui Arah Musim kita akan bersama-sama diajak untuk belajar. Belajar memahami diri sendiri, diri kita, dan diri mereka. Setiap manusia adalah individu yang unik. Individu yang menyimpan jutaan kisah berbeda. Arah Musim bagaikan retina yang akan menyadarkan kita banyak hal yang bisa kita syukuri. Hal-hal menyakitkan yang mungkin tidak kita alami. Atau mungkin, kita juga bisa merasakan sedih atas hal-hal membahagiakan yang tidak kita miliki.

“Apa yang kamu simpan diam-diam? Hingga kesunyian tak sanggup mencuri dengar dari batinmu?”

Menemukan Jati Diri

Selain terbuat dari luka, Arah Musim juga terbuat dari cinta, semangat, dan harapan. Membaca buku ini tidak hanya akan membuatmu tersadar akan luka. Kamu juga akan menemukan kalimat-kalimat yang akan menyalakan api dalam dirimu. Api yang semula nyaris redup karena tertiup angin kehidupan.

“Aku menjadi paham jika prasangkaku sekadar prasangka. Tidak lebih. Dan kini kupahami, apa-apa yang terbaik itu tidak pernah ada dalam takaran manusia.”

Oleh karena itu, ketika seseorang sudah dapat lebih bersyukur, maka dia tidak akan merasa tersesat lagi. Karena dia sudah tahu tujuan hidupnya. Seperti kamu, yang akan tahu bahwa tujuanmu saat membaca buku ini adalah sampai ke titik terakhir. (fita)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *