Kerja di Toko Buku: Benarkah Jadi Pekerjaan Impian bagi Pecinta Buku? - Bentang Pustaka

Kerja di Toko Buku: Benarkah Jadi Pekerjaan Impian bagi Pecinta Buku?

Bagi orang yang suka membaca, bekerja di toko buku mungkin terdengar seperti pekerjaan impian. Bayangkan saja, setiap hari kita dikelilingi buku, bisa melihat dan mendapat akses ke judul-judul buku terbaru, bertemu sesama pembaca, bahkan membantu orang lain menemukan bacaan yang mereka cari.

Maka tidak mengherankan kalau pekerjaan sebagai bookseller atau pegawai toko buku punya daya tarik tersendiri bagi para pencinta buku.

Bahkan, sebuah penelitian mengenai motivasi mahasiswa dalam mengambil pendidikan kepustakawanan memasukkan kecintaan terhadap buku dan membaca sebagai salah satu faktor yang diukur bersama dengan keinginan untuk bekerja di toko buku. Artinya, ketertarikan terhadap buku memang punya kaitan dengan minat seseorang terhadap pekerjaan di bidang tersebut.

Tapi, apakah bekerja di toko buku benar-benar semenyenangkan yang dibayangkan?

Realita Kerja di Toko Buku 

Ada anggapan bahwa pekerjaan di toko buku terbilang santai, bahkan sederhana. Tapi pada kenyataannya, tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa dibilang sederhana. Termasuk bekerja di toko buku.

Selain dikelilingi banyak buku, seorang pekerja toko buku harus berhadapan dengan pelanggan, menata dan mencari stok buku, menangani transaksi, menerima dan meminta kiriman buku dari distributor, membantu pelanggan menemukan judul tertentu, bersinggungan dengan penulis, editor, dan penerbit, sampai menghadapi berbagai permintaan yang tidak selalu mudah.

Banyak orang menganggap bekerja di toko buku sebagai “dream job”. Padahal, kenyataan sehari-harinya sangat berbeda dari bayangan tersebut. Di balik suasana toko yang nyaman dan dikelilingi buku, tetap ada pekerjaan operasional dan berbagai masalah yang harus ditangani.

Dengan kata lain, suka membaca saja belum tentu cukup untuk membuat seseorang menikmati pekerjaan di toko buku.

Kamu mungkin suka buku. Tapi bagaimana kalau harus berhadapan dengan pelanggan yang menyulitkanmu? Bagaimana kalau stok buku yang dicari tidak ada dan harus menghadapi kemarahan konsumen? Bagaimana kalau pekerjaan administratifnya menumpuk? Dan bagaimana kalau atasanmu justru bikin pekerjaanmu semakin sulit?

Pertanyaan terakhir inilah yang menjadi salah satu sumber konflik utama dalam novel Manajerku Bodohnya Kelewatan karya Kazumasa Hayami.

Ketika Pecinta Buku Harus Berhadapan dengan Bos Menyebalkan

Manajerku Bodohnya Kelewatan mengambil latar sebuah Toko Buku Musashino di Jepang dan mengikuti kehidupan Kyoko Tanihara, perempuan 28 tahun yang bekerja sebagai karyawan kontrak di sana.

Tanihara sangat menyukai buku. Dan karena itu, bekerja di toko buku juga merupakan pekerjaan yang ia inginkan. Ia senang membicarakan buku, merekomendasikan bacaan kepada pelanggan, membaca karya-karya baru, hingga berinteraksi dengan orang-orang di industri buku.

Masalahnya, pekerjaan impian tersebut datang sepaket dengan seorang manajer yang … ya, sesuai judulnya, baka sugite alias terlalu bodoh untuk ukuran seorang manajer.

Alih-alih hanya bercerita tentang kehidupan menyenangkan seorang pecinta buku yang bekerja di toko buku sesuai impiannya, novel ini justru memperlihatkan sisi lain dari toko buku, termasuk suka duka selama bekerja di sana. Salah satunya adalah tentang kekesalan Tanihara akibat ulah sang manajer yang menurutnya sangat tidak kompeten.

Pekerjaan Impian Tetaplah Pekerjaan

Hal menarik dari Managerku Bodohnya Kelewatan adalah fakta tentang bagaimana kecintaan terhadap buku tidak otomatis menghilangkan masalah di tempat kerja.

Kyoko Tanihara tetap bisa mencintai buku, senang bekerja di toko buku, menikmati pekerjaannya, tapi sekaligus kesal dengan pekerjaannya.

Dan inilah yang membuat kisah dalam novel ini terasa sangat dekat dengan kehidupan banyak pekerja. Karena kenyataannya, mau sesuka apapun kita terhadap suatu pekerjaan, akan tetap ada sisi yang membuat kita lelah sampai berpikir untuk menyerah alias resign.

Membaca Realita Kehidupan Pekerja

Meski menceritakan tentang lika-liku dan keluh-kesah seorang karyawan toko buku, Manajerku Bodohnya Kelewatan sebenarnya juga memberi gambaran tentang realita kehidupan pekerja di berbagai bidang.

Untuk pembaca yang ingin sekadar melepas penat dengan membaca buku slice of life penuh komedi, ingin memahami bagaimana sebuah toko buku berjalan, atau sekadar ingin membaca karena merasa senasib dengan Kyoko Tanihara, novel Manajerku Bodohnya Kelewatan bisa dipesan di seluruh marketplace Bentang.

Ikuti seluruh media sosial Bentang untuk mendapatkan informasi terbaru terkait buku ini dan buku-buku terbaik lainnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta