Keberhasilan Terorisme dan Respons Penonton

Sudah seminggu lebih berlalu semenjak tragedi Bom Thamrin yang menewaskan delapan orang. Kejadian tersebut sontak menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia, terutama di sosial media. Berbagai tagar atas reaksi kejadian tersebut bersebaran di internet. Yang paling mengusik nalar masyarakat Indonesia adalah ketika tagar Pray For Jakarta diduga akan menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai rupiah menurun.

Menanggapi isu tersebut, ada salah satu buku yang salah satu sub babnya dengan cermat membahas mengenai kasus-kasus terorisme dan korelasinya dengan stabilitas ekonomi. Buku tersebut ditulis oleh Fareed Zakaria, salah seorang redaktur tamu di Majalah Time yang mendapatkan gelar Bhushan Padma atas kontribusinya terhadap jurnalisme. Fareed Zakaria dalam bukunya The Post American World menjelaskan bahwa tujuan terorisme adalah menciptakan rasa takut. Dalam buku tersebut, Zakaria mengatakan bahwa keberhasilan terorisme adalah berdasarkan pada rasa takut penonton. Rasa takut ini tentunya akan membuat masyarakat dari berbagai lapisan merasa was-was. Jika aksi tersebut berhasil menimbulkan ketakutan massa, dapat dikatakan bahwa teror tersebut berhasi. Dalam hal ini, aksi terorisme memang mampu mengguncang stabilitas ekonomi.

Akan tetapi guncangan ekonomi tersebut tidak akan bertahan lama. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Zakaria, ketidakstabilan ekonomi akibat terorisme berlaku sementara. Terorisme memang menyebabkan perekonomian global mengalami guncangan – tetapi hal tersebut tidak mampu bertahan lama. Bahkan, dalam buku The Post American World, Zakaria dengan berani memberikan pernyataan bahwa dampak buruk terorisme terhadap pasar finansial global malah berkurang ketika terjadi serangan terorisme baru. Dalam hal ini, yang dimaksud oleh Zakaria adalah kebangkitan terhadap pasar finansial global tersebut terjadi karena adanya serangan-serangan baru.

Masih ingat dengan peristiwa 11 September 2011 yang menyebabkan kekalutan besar di Amerika? Sesudah bom yang meledak pada tanggal itu terjadi, Amerika kehilangan ratusan miliar dolar dalam kegiatan ekonomi. Namun pasar yang terpuruk kembali normal seperti tanggal 10 September setelah dua bulan berselang.

Hal tersebut membuktikan bahwa guncangan stabilitas ekonomi tidak terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Kasus pengeboman di London pada 2005 juga menjadi salah satu bukti bahwa gangguan stabilitas ekonomi akibat terorisme tidak berlangsung lama. Setelah pengeboman di London terus, IHSG di Britania kembali pada level pra-pengeboman dalam kurun waktu 24 jam.

Di Indonesia sendiri, sebelum terjadi penyerangan Bom Thamrin pekan lalu, Jakarta juga pernah mengalami pengeboman pada tahun 2003. Begitu juga Bali yang dibom oleh sekelompok teroris di tahun 2002. Zakaria melihat dua kasus pengeboman ini sebagai sebuah mata rantai. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kebangkitan terhadap finansial global terjadi karena ada serangan baru. Pengeboman yang terjadi di Bali mengakibatkan keterpurukan ekonomi. Investasi jd lesu dlm beberapa bulan. Setahun kemudian, pengeboman kembali terjadi di Jakarta. Namun, pasar hanya anjlok sebentar dan kerugian ekonomi hanya sedikit.

Satu hal yang kemudian menjadi pengamatan Zakaria terhadap berbagai aksi terorisme adalah, masyarakat secara tersirat telah mafhum bahwa keuletan adalah kebijakan terampuh untuk melawan terorisme (hlm. 20). Dari New York, London, Mumbai, hingga Jakarta, orang-orang sudah belajar dari pengalaman dan menjelani hidup seperti biasa, kendati di tengah-tengah ketidakpastian (hlm. 21). Zakaria pun menekankan bahwa aksi terorisme tidak akan berhasil jika tidak menimbulkan ketakutan massa. Sebab, seperti yang Zakaria sebutkan dalam bukunya, The Post American World, keberhasilan terorisme ditentukan oleh respons penonton. Sudah seminggu lebih berlalu semenjak tragedi Bom Thamrin yang menewaskan delapan orang. Kejadian tersebut sontak menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia, terutama di sosial media. Berbagai tagar atas reaksi kejadian tersebut bersebaran di internet. Yang paling mengusik nalar masyarakat Indonesia adalah ketika tagar Pray For Jakarta diduga akan menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai rupiah menurun.

Menanggapi isu tersebut, ada salah satu buku yang salah satu sub babnya dengan cermat membahas mengenai kasus-kasus terorisme dan korelasinya dengan stabilitas ekonomi. Buku tersebut ditulis oleh Fareed Zakaria, salah seorang redaktur tamu di Majalah Time yang mendapatkan gelar Bhushan Padma atas kontribusinya terhadap jurnalisme. Fareed Zakaria dalam bukunya The Post American World menjelaskan bahwa tujuan terorisme adalah menciptakan rasa takut. Dalam buku tersebut, Zakaria mengatakan bahwa keberhasilan terorisme adalah berdasarkan pada rasa takut penonton. Rasa takut ini tentunya akan membuat masyarakat dari berbagai lapisan merasa was-was. Jika aksi tersebut berhasil menimbulkan ketakutan massa, dapat dikatakan bahwa teror tersebut berhasi. Dalam hal ini, aksi terorisme memang mampu mengguncang stabilitas ekonomi.

Akan tetapi guncangan ekonomi tersebut tidak akan bertahan lama. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Zakaria, ketidakstabilan ekonomi akibat terorisme berlaku sementara. Terorisme memang menyebabkan perekonomian global mengalami guncangan – tetapi hal tersebut tidak mampu bertahan lama. Bahkan, dalam buku The Post American World, Zakaria dengan berani memberikan pernyataan bahwa dampak buruk terorisme terhadap pasar finansial global malah berkurang ketika terjadi serangan terorisme baru. Dalam hal ini, yang dimaksud oleh Zakaria adalah kebangkitan terhadap pasar finansial global tersebut terjadi karena adanya serangan-serangan baru.

Masih ingat dengan peristiwa 11 September 2011 yang menyebabkan kekalutan besar di Amerika? Sesudah bom yang meledak pada tanggal itu terjadi, Amerika kehilangan ratusan miliar dolar dalam kegiatan ekonomi. Namun pasar yang terpuruk kembali normal seperti tanggal 10 September setelah dua bulan berselang.

Hal tersebut membuktikan bahwa guncangan stabilitas ekonomi tidak terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Kasus pengeboman di London pada 2005 juga menjadi salah satu bukti bahwa gangguan stabilitas ekonomi akibat terorisme tidak berlangsung lama. Setelah pengeboman di London terus, IHSG di Britania kembali pada level pra-pengeboman dalam kurun waktu 24 jam.

Di Indonesia sendiri, sebelum terjadi penyerangan Bom Thamrin pekan lalu, Jakarta juga pernah mengalami pengeboman pada tahun 2003. Begitu juga Bali yang dibom oleh sekelompok teroris di tahun 2002. Zakaria melihat dua kasus pengeboman ini sebagai sebuah mata rantai. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kebangkitan terhadap finansial global terjadi karena ada serangan baru. Pengeboman yang terjadi di Bali mengakibatkan keterpurukan ekonomi. Investasi jd lesu dlm beberapa bulan. Setahun kemudian, pengeboman kembali terjadi di Jakarta. Namun, pasar hanya anjlok sebentar dan kerugian ekonomi hanya sedikit.

Satu hal yang kemudian menjadi pengamatan Zakaria terhadap berbagai aksi terorisme adalah, masyarakat secara tersirat telah mafhum bahwa keuletan adalah kebijakan terampuh untuk melawan terorisme (hlm. 20). Dari New York, London, Mumbai, hingga Jakarta, orang-orang sudah belajar dari pengalaman dan menjelani hidup seperti biasa, kendati di tengah-tengah ketidakpastian (hlm. 21). Zakaria pun menekankan bahwa aksi terorisme tidak akan berhasil jika tidak menimbulkan ketakutan massa. Sebab, seperti yang Zakaria sebutkan dalam bukunya, The Post American World, keberhasilan terorisme ditentukan oleh respons penonton.bentang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta