Google Ventures, Sahabat Para Start-up

“Menemukan entrepreneur terbaik di muka bumi dan membantu mereka untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik”, itulah misi Google Ventures. Mungkin di telinga kita sebagai pengguna setia Google, Google Ventures masih asing terdengar. Pendek cerita, Google Ventures adalah perusahaan modal ventura yang didirikan Google untuk berinvestasi pada start-up-start-up yang potensial. <p style="text-align: justify;">“Menemukan <em>entrepreneur</em> terbaik di muka bumi dan membantu mereka untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik”, itulah misi Google Ventures. Mungkin di telinga kita sebagai pengguna setia Google, Google Ventures masih asing terdengar. Pendek cerita, Google Ventures adalah perusahaan modal ventura yang didirikan Google untuk berinvestasi pada <em>start-up-start-up</em> yang potensial. Google Ventures yang berdiri pada 2009 boleh dibilang anak perusahaan dari Alphabet. Lantas, apa hubungan Alphabet, Inc. dan Google, Inc. sendiri?</p>

<p style="text-align: justify;">Para pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page, ingin melebarkan ruang lingkup perusahaannya tidak semata bergerak pada mesin pencari, tetapi mereka ingin berinvestasi pada usaha berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengakomodasi proyek-proyek eksperimental yang terbuka bagi semua kalangan. Para pendiri Google tersebut sadar betul untuk menangkap perputaran zaman yang kini memasuki era Revolusi Industri 4.0, peradaban yang melibatkan penerapan kemajuan intelegensi, robot, otomatisasi, dan pertukaran data melalui Internet. Boleh dibilang, Internet merupakan urat informasi di segala bidang, sementara otak yang akan menyuplai informasi tersebut berada pada “<em>big data</em>”.</p>

<p style="text-align: justify;">Tentunya, para penggawa Google memiliki pemikiran yang kompleks ketimbang penjelasan singkat tersebut. Mereka pasti punya pemikiran taktis dan strategis untuk mendapatkan nilai ekonomi dari investasi teknologi yang sedang mereka bangun. Oleh karena itu, mereka serius mengelola perusahaan baru mereka, Alphabet, Inc., yang memiliki tujuh anak perusahaan; yakni Calico (fokus pada pengembangan teknologi kesehatan), Nest (fokus pada produk teknologi pintar untuk rumah tangga), Google Ventures (fokus pada pendanaan <em>start-up</em> yang berbasis teknologi), Google X (fokus pada penemuan teknologi spektakuler), Fiber (penyedia akses Internet supercepat), Google Capital (fokus pada investasi teknologi jangka panjang), dan Google (fokus pada seluk-beluk pencari data dan YouTube).</p>

<p style="text-align: justify;">Google Ventures bersama saudara-saudaranya berkantor di Silicon Valley. Saat ini, aktivitasnya dikomandani oleh Bill Maris. Maris adalah alumnus Ilmu Saraf dari Middlebury College. Di bawah kepemimpinannya, Google Ventures terbilang berhasil memainkan peranan penting dalam penerapan teknologi inovatif di perusahaan <em>start-up</em>. Investasi jutaan dolar telah disalurkan ke ratusan perusahaan<em> start-up</em>.</p>

<p style="text-align: justify;">Di awal pendiriannya, Google Ventures diperbolehkan mengucurkan dana sekitar US$100 juta tiap tahun, tetapi belakangan, dana investasi itu ditambah menjadi lebih dari US$200 juta. Mulanya, layaknya menerobos ombak besar dengan kapal kecil, Maris merasa skeptis dengan peta persaingan melawan raksasa media sosial seperti Facebook dan Twitter. Namun, lambat laun, dia percaya bahwa Google Ventures mampu bersaing dengan mereka. Dan, kerja kerasnya pun membuahkan hasil.</p>

<p style="text-align: justify;">Layanan berbagi foto Instagram dibeli oleh Facebook, Inc. seharga US$1 miliar dan pada 2013 sukses membidani Uber dengan nilai investasi US$528 juta, dan masih banyak lagi. Tak melulu gelontoran dana, Maris juga berupaya memfasilitasi para pengusaha <em>start-up</em> untuk meng-<em>upgrade</em> kemampuan mereka dengan cara membangun laboratorium seluas lebih kurang 1.080 meter persegi.</p>

<p style="text-align: justify;">Di laboratorium tersebut, para wirausahawan diharapkan dapat mempelajari dan mengeksplorasi produk mereka dan mendapatkan saran dari para manajer berpengalaman dari Google, Twitter, dan perusahaan-perusahaan ternama lainnya. Investasi mereka sungguh-sungguh dikelola dengan baik dan komprehensif, dari hulu ke hilir. Jika kita yang terpilih untuk menerima dana investasi tersebut, niscaya kita akan dikawal dari awal sampai akhir, bahkan kemampuan kita pun ikut pula naik level.</p>

<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, pertanyaannya, apakah Maris sebagai pimpinan Google Ventures menuntut keuntungan yang besar dan pengembalian modal secara cepat? Jawabnya, mereka enggan terburu-buru dalam memetik hasil. Mereka akan bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka tanam. Keyakinan mereka itu sepertinya berpangkal dari kekuatan sistem yang mereka bangun. Sistem yang ditawarkan oleh Google Ventures menitikberatkan pada proses, bukan hasil. Sistem tersebut mengacu pada metode Sprint yang cenderung menonjolkan aspek kualitas, kreativitas, dan kedisiplinan.</p>

<p style="text-align: justify;">Berinvestasi sarat akan risiko. Google Ventures tidak menutup mata akan pil pahit yang sewaktu-waktu akan ditelan. Google Ventures memiliki sumber daya manusia yang mumpuni sekaligus petarung. Partner Bill Maris dalam menakhodai kapal bernama Google Ventures ini adalah David Krane, Joe Kraus, Rich Miner, dan Krishna Yeshwant. Mereka sudah memiliki sistem dan sistem tersebut akan terus dikembangkan apabila terjadi persoalan. Bayang-bayang kerugian? Pasti mereka sudah pernah mengalaminya. Bagi Maris, yang terutama adalah menikmati proses selanjutnya sambil mengevaluasi kinerja. Apabila hasil yang didapat di bawah ekspektasi, Google Ventures meyakini perusahaan <em>start-up</em> yang mereka bina tetap memiliki potensi untuk berkembang karena sistem yang mereka ciptakan tersebut luwes seperti aliran air.</p>

<p style="text-align: justify;">Untuk mengetahui berbagai hal lebih lanjut mengenai Google Ventures dan rahasia di balik kesuksesannya, kamu bisa membaca buku <em>Sprint </em>karya Jake Knapp. Buku ini membahas metode yang digunakan Google Ventures dalam menyelamatkan perusahaan dan mempertahankan karyawan-karyawan terbaik mereka. Untuk kamu yang ingin tahu bagaimana dunia <em>start</em><em>-</em><em>up</em>, buku ini menjadi satu dari rangkaian pegangan <em>start-up</em>. Dapatkan bukunya di sini.</p>

<p style="text-align: justify;"> </p>

<p style="text-align: justify;">Kontributor: Sigit Suryanto</p>Bentang Pustaka

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta