fbpx

Dee: Supernova Adalah Katarsis Personal Saja

Processed with VSCOcam with c1 preset

Meraih berbagai pengharagaan di ajang nasional dan internasional, merupakan salah satu buah dari kegigihan Dee Lestari menempuh perjalanan panjang dalam menulis Seri Supernova.  Terbit pertama kali pada tahun 2001 dengan judul Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Dee berhasil meletakkan bukunya di deretan buku best seller, yang diikuti beberapa seri setelahnya, yaitu Akar (2002), Petir (2004), Partikel (2012),  dan Gelombang (2014).  Pencapaian ini tentu bukan hal yang praktis Dee raih begitu saja.

Ide awal Dee untuk menulis Supernova bermula ketika Dee mengalami sebuah peristiwa yang bisa disebut epifani. Peristiwa ini memunculkan pergeseran paradigma dalam dirinya mengenai konsep ketuhanan dan spiritualitas. Hal ini membentuk perspektif bagi Dee, bahwa akar dari segala konflik dan perpecahan manusia adalah perpecahan sains dan agama.

“Saya kemudian mulai bergeser menuju paradigma holistik yakni melihat realitas sebagai fenomena utuh yang melampaui dualitas hitam-putih. Dan Supernova menjadi wahana bagi saya untuk berbagi sudut pandang ini,” kata Dee.

Bagi Dee, Supernova merupakan tempat untuk berbagi perihal spritiualitas yang dikemas dalam bentuk fiksi. Pada praktiknya, gabungan antara spiritual, sains, konflik, percintaan, persahabatan, memang jarang ditemukan dalam khasanah fiksi tanah air. Apalagi, Supernova dibalut dengan setting urban kontemporer yang membuatnya semakin menjadi substansi langka industri buku Indonesia. Dee mengaku terpicu oleh konflik religius yang pada akhir tahun 90-an terjadi di banyak tempat di Indonesia. Dari situ, ia menuangkan kegelisahan lewat karya fiksi yang merupakan refleks baginya.

“Saya pikir, dengan fiksi, perenungan-perenungan yang cenderung berat bisa dicairkan. Fiksi menjadi jembatan bagi saya untuk mengomunikasikan ide-ide saya.” akunya.

Pada akhirnya, keputusan Dee menggabungkan fiksi dan roman menjadi Supernova adalah atas dasar dirinya menyukai kedua hal tersebut. Menyetujui istilah Amitav Gosh, tulislah buku yang ingin kita baca, Dee tak menulis Supernova untuk memikat pembaca, melainkan untuk memuaskan dirinya sendiri. Ia tidak mempunyai target untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi hanya sebagai katarsis personal saja. Misalnya Supernova KPBJ yang berhasil ia terbitkan tahun 2001 silam, merupakan kado ulang tahun bagi diri sendiri yang berhasil Dee penuhi.

Seperti ‘kerasukan’ menulis debut bukunya, tanpa sadar Dee telah berhasil mengumpulkan materi yang sangat banyak, bahkan melampaui apa yang ia perkirakan. Oleh karenanya, Supernova yang semula ia rancang sebagai tetralogi, berputar haluan menjadi sebuah heksalogi. Tokoh-tokoh yang Dee ciptakan, mulai dari Akar sampai Gelombang, masing-masing ia buatkan ‘rumah’ berupa Seri Supernova, untuk kelimanya huni. Lantas, ‘rumah’ keenam, Intelegensi Embun Pagi, adalah hunian bersama, tempat bertemunya kelima tokoh yang Dee mainkan, yang sampai saat ini masih ia garap.

Supernova sendiri adalah bukti tersurat dari Dee yang menggambarkan peristiwa-peristiwa luar biasa, dengan isu mayoritas memuat pertentangan moral umum masyarakat. Dee mengaku, hal itu merupakan kesengajaan yang ia lakukan. Melalui Supernova, Dee ingin menyampaikan bahwa secara superfisial, banyak hal yang mengecoh manusia. Padahal, ketika digali lebih dalam, esensinya bisa saja bertolak belakang dari kesan luarnya. Seperti misalnya, Diva dalam Seri Supernova KPBJ yang diceritakan merupakan seoarang PSK. Melalui tokoh tersebut, Dee ingin mengajak orang-orang berefleksi bahwa ternyata pelacuran terjadi di mana-mana. Pelacuran pikiran, harga diri, identitas, dan bukan hanya semata-mata pelacuran fisik saja. Selain itu, tema-tema tak biasa lain seperti LGBT, kehidupan dewasa, alien, hingga ganja, adalah harta lain yang didapat dari Supernova.

“Namun, saya rasa ‘membahas’ beda dengan ‘menyetujui atau ‘mengadvokasi’. Saya senang menulis sesuatu yang membuat orang berpikir dan meninjau ulang. Bukan demi pembaca menyepakati,” katanya.

Dee sendiri mengaku, dirinya bukan merupakan penulis yang suka dengan pesan moral. Ia tidak menyukai bacaan yang disisipi pesan-pesan moral. Ia menegaskan, bacaan favoritnya adalah bacaan yang mampu membuat orang terusik, bertanya, mencari, merenung, dan bukan pasif menerima.

“Seperti ketika menulis Supernova Partikel misalnya, saya tidak berniat memberikan pesan moral, melainkan mengungkapkan banyak pertanyaan tentang asal-usul manusia, relasi manusia dengan lingkungan, dan seterusnya. Bagaimana pembaca menyikapinya, menurut saya itu akan tergantung keingintahuan mereka sendiri, dan saya tidak punya kendali atasnya,” tambah Dee.

Lima belas tahun bukan merupakan waktu yang singkat dalam perjalanan sebuah buku.  Dalam usia Supernova yang panjang, Dee mengaku memang menemui beberapa kesulitan. Soal jadwal dan distraksi dari tawaran-tawaran pekerjaan yang bermunculan adalah gangguan utama sepanjang prosesnya menulis.

“Tantangannya lebih kepada menjaga fokus saya sepanjang menulis. Karena sejak Partikel hingga IEP saya tidak mengambil proyek kreatif apa pun. Saya memang nggak bisa menjalankan beberapa proyek kreatif sekaligus, harus pilih salah satu,” akunya.

@fitriafarisa

 Processed with VSCOcam with c1 preset

Meraih berbagai pengharagaan di ajang nasional dan internasional, merupakan salah satu buah dari kegigihan Dee Lestari menempuh perjalanan panjang dalam menulis Seri Supernova.  Terbit pertama kali pada tahun 2001 dengan judul Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Dee berhasil meletakkan bukunya di deretan buku best seller, yang diikuti beberapa seri setelahnya, yaitu Akar (2002), Petir (2004), Partikel (2012),  dan Gelombang (2014).  Pencapaian ini tentu bukan hal yang praktis Dee raih begitu saja.

Ide awal Dee untuk menulis Supernova bermula ketika Dee mengalami sebuah peristiwa yang bisa disebut epifani. Peristiwa ini memunculkan pergeseran paradigma dalam dirinya mengenai konsep ketuhanan dan spiritualitas. Hal ini membentuk perspektif bagi Dee, bahwa akar dari segala konflik dan perpecahan manusia adalah perpecahan sains dan agama.

“Saya kemudian mulai bergeser menuju paradigma holistik yakni melihat realitas sebagai fenomena utuh yang melampaui dualitas hitam-putih. Dan Supernova menjadi wahana bagi saya untuk berbagi sudut pandang ini,” kata Dee.

Bagi Dee, Supernova merupakan tempat untuk berbagi perihal spritiualitas yang dikemas dalam bentuk fiksi. Pada praktiknya, gabungan antara spiritual, sains, konflik, percintaan, persahabatan, memang jarang ditemukan dalam khasanah fiksi tanah air. Apalagi, Supernova dibalut dengan setting urban kontemporer yang membuatnya semakin menjadi substansi langka industri buku Indonesia. Dee mengaku terpicu oleh konflik religius yang pada akhir tahun 90-an terjadi di banyak tempat di Indonesia. Dari situ, ia menuangkan kegelisahan lewat karya fiksi yang merupakan refleks baginya.

“Saya pikir, dengan fiksi, perenungan-perenungan yang cenderung berat bisa dicairkan. Fiksi menjadi jembatan bagi saya untuk mengomunikasikan ide-ide saya.” akunya.

Pada akhirnya, keputusan Dee menggabungkan fiksi dan roman menjadi Supernova adalah atas dasar dirinya menyukai kedua hal tersebut. Menyetujui istilah Amitav Gosh, tulislah buku yang ingin kita baca, Dee tak menulis Supernova untuk memikat pembaca, melainkan untuk memuaskan dirinya sendiri. Ia tidak mempunyai target untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi hanya sebagai katarsis personal saja. Misalnya Supernova KPBJ yang berhasil ia terbitkan tahun 2001 silam, merupakan kado ulang tahun bagi diri sendiri yang berhasil Dee penuhi.

Seperti ‘kerasukan’ menulis debut bukunya, tanpa sadar Dee telah berhasil mengumpulkan materi yang sangat banyak, bahkan melampaui apa yang ia perkirakan. Oleh karenanya, Supernova yang semula ia rancang sebagai tetralogi, berputar haluan menjadi sebuah heksalogi. Tokoh-tokoh yang Dee ciptakan, mulai dari Akar sampai Gelombang, masing-masing ia buatkan ‘rumah’ berupa Seri Supernova, untuk kelimanya huni. Lantas, ‘rumah’ keenam, Intelegensi Embun Pagi, adalah hunian bersama, tempat bertemunya kelima tokoh yang Dee mainkan, yang sampai saat ini masih ia garap.

Supernova sendiri adalah bukti tersurat dari Dee yang menggambarkan peristiwa-peristiwa luar biasa, dengan isu mayoritas memuat pertentangan moral umum masyarakat. Dee mengaku, hal itu merupakan kesengajaan yang ia lakukan. Melalui Supernova, Dee ingin menyampaikan bahwa secara superfisial, banyak hal yang mengecoh manusia. Padahal, ketika digali lebih dalam, esensinya bisa saja bertolak belakang dari kesan luarnya. Seperti misalnya, Diva dalam Seri Supernova KPBJ yang diceritakan merupakan seoarang PSK. Melalui tokoh tersebut, Dee ingin mengajak orang-orang berefleksi bahwa ternyata pelacuran terjadi di mana-mana. Pelacuran pikiran, harga diri, identitas, dan bukan hanya semata-mata pelacuran fisik saja. Selain itu, tema-tema tak biasa lain seperti LGBT, kehidupan dewasa, alien, hingga ganja, adalah harta lain yang didapat dari Supernova.

“Namun, saya rasa ‘membahas’ beda dengan ‘menyetujui atau ‘mengadvokasi’. Saya senang menulis sesuatu yang membuat orang berpikir dan meninjau ulang. Bukan demi pembaca menyepakati,” katanya.

Dee sendiri mengaku, dirinya bukan merupakan penulis yang suka dengan pesan moral. Ia tidak menyukai bacaan yang disisipi pesan-pesan moral. Ia menegaskan, bacaan favoritnya adalah bacaan yang mampu membuat orang terusik, bertanya, mencari, merenung, dan bukan pasif menerima.

“Seperti ketika menulis Supernova Partikel misalnya, saya tidak berniat memberikan pesan moral, melainkan mengungkapkan banyak pertanyaan tentang asal-usul manusia, relasi manusia dengan lingkungan, dan seterusnya. Bagaimana pembaca menyikapinya, menurut saya itu akan tergantung keingintahuan mereka sendiri, dan saya tidak punya kendali atasnya,” tambah Dee.

Lima belas tahun bukan merupakan waktu yang singkat dalam perjalanan sebuah buku.  Dalam usia Supernova yang panjang, Dee mengaku memang menemui beberapa kesulitan. Soal jadwal dan distraksi dari tawaran-tawaran pekerjaan yang bermunculan adalah gangguan utama sepanjang prosesnya menulis.

“Tantangannya lebih kepada menjaga fokus saya sepanjang menulis. Karena sejak Partikel hingga IEP saya tidak mengambil proyek kreatif apa pun. Saya memang nggak bisa menjalankan beberapa proyek kreatif sekaligus, harus pilih salah satu,” akunya.

@fitriafarisa

bentang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta