(Berdoalah Memiliki) Kesehatan Jiwa dalam Raga yang Kuat

“Berkeringat deras sama pentingnya dengan bekerja keras.” ~John Wood, Pendiri Room To Read

Anak-anak yang lahir menjelang tahun 80-an pastilah mengenal mata pelajaran olah raga yang sering dipraktikkan bersama-sama di lapangan dengan iringan lagu Senam Kesegaran Jasmani. Bahkan sampai kini saya masih ingatan nada lagunya. Kegiatan kebugaran ini sesungguhnya, konon, adalah praktik langsung dari pepatah latin kuno mens sana in corpore sano. Saking populernya, pepatah ini pada akhirnya mewujud mantra yang menyihir banyak siswa sejak sekolah dasar untuk mengikuti agenda olahraga. Entah pertandingan sesama kawan di kelas, antarkelas, antarsekolah, bahkan antarprovinsi. Dalam level dunia, kita merayakannya dengan olimpiade, meskipun yang terakhir ini adalah tradisi Yunani.

Dalam teks lengkap yang digubah oleh seorang penyair Romawi abad ke-2, Juvenal, teks itu berbunyi orandum est ut sit mens sana in corpore sano. Terjemah bebasnya kurang lebih, Anda harus berdoa memiliki jiwa yang sehat di dalam jasmani yang kuat. Syair ini awalnya mendoakan, namun kemudian berbelok arah menjadi semacam afirmasi, yang juga tidak jelas siapa yang membubuhkan cap sahih dan tak terbantahkan bahwa jiwa yang sehat dicapai ketika jasmani pun sehat.

Kenyataannya, tidak seperti itu tentu saja. Banyak orang dengan raga yang sehat tetapi memiliki kesehatan jiwa yang parah. Manusia, spesies homo sapiens paling mulia, konon dikacaukan oleh aforisma kesehatan jiwa-raga yang salah kaprah ini. Koruptor, adalah genus paling fit dalam membuktikan kekeliruan sehat jiwa-raga ini. Betapa banyak koruptor yang segar bugar sehat wal afiat namun cacat mental, atau terganggu jiwanya. Mungkin benar memang harus sehat, supaya ketika dikejar aparat hukum dapat lari tunggang langgang dengan leluasa.

Pepatah latin Mens sana in corpore sano diterjemahkan ke dalam bahasa inggris menjadi a healthy mind in a healthy body. Menariknya, kata mind tidak persis sama dengan makna jiwa sebagaimana sering diartikan dalam bahasa Indonesia. Akar kata mind yang semula menunjuk kemampuan mengingat (memori) berkembang sedemikian rupa menjadi serangkaian fakultas akal, yang darinya pengetahuan diperoleh. Fakultas sendiri berarti kemampuan (intelejensi) atau kekuatan fisik dan mental.

Jadi, yang benar jiwa, akal atau mental ya? Untuk membuatnya lebih menarik, saya perlu menambahkan satu istilah lagi yaitu ruh. Ruh terkadang diartikan jiwa, namun kata jiwa tidak secara bulat menampung makna ruh. Tubuh dan Ruh agak mirip dengan body and mind dalam bahasa Inggris. Namun, jika dihadapkan antara mind dan ruh, ada satu perbedaan besar yang menarik dicermati, mind masih menyimpan arti otak secara organik, sedangkan ruh, kalau saya tidak keliru, murni dialamatkan untuk kualias nonmaterial.

Ruh, seperti halnya tubuh, tak terpisahkan dari diri manusia ketika hidup. Dan, seperti tubuh, ruh juga memiliki kemampuan belajar, dan bahkan dapat dilatih untuk mencapai kesempurnaan. Konon, istilah manusia sempurna itu terjemah langsung dari terma Insan Kamil, yang dipungut dari khazanah pengetahuan tasawuf. Ruh, boleh dibilang adalah esensi (being) manusia, yang tanpanya, kita hanya segumpal daging. Ruh, kata Rumi, adalah bagian dari Tuhan, yang terlepas ketika manusia mengembara di bumi dan merasa tersiksa ingin kembali kepada pokoknya. Maka, melengkapi Juvenal, berdoalah (dan berlatihlah) memiliki ruh yang sempurna dalam tubuh yang sehat. Demikian.

@salmanfaridi “Berkeringat deras sama pentingnya dengan bekerja keras.” ~John Wood, Pendiri Room To Read

Anak-anak yang lahir menjelang tahun 80-an pastilah mengenal mata pelajaran olah raga yang sering dipraktikkan bersama-sama di lapangan dengan iringan lagu Senam Kesegaran Jasmani. Bahkan sampai kini saya masih ingatan nada lagunya. Kegiatan kebugaran ini sesungguhnya, konon, adalah praktik langsung dari pepatah latin kuno mens sana in corpore sano. Saking populernya, pepatah ini pada akhirnya mewujud mantra yang menyihir banyak siswa sejak sekolah dasar untuk mengikuti agenda olahraga. Entah pertandingan sesama kawan di kelas, antarkelas, antarsekolah, bahkan antarprovinsi. Dalam level dunia, kita merayakannya dengan olimpiade, meskipun yang terakhir ini adalah tradisi Yunani.

Dalam teks lengkap yang digubah oleh seorang penyair Romawi abad ke-2, Juvenal, teks itu berbunyi orandum est ut sit mens sana in corpore sano. Terjemah bebasnya kurang lebih, Anda harus berdoa memiliki jiwa yang sehat di dalam jasmani yang kuat. Syair ini awalnya mendoakan, namun kemudian berbelok arah menjadi semacam afirmasi, yang juga tidak jelas siapa yang membubuhkan cap sahih dan tak terbantahkan bahwa jiwa yang sehat dicapai ketika jasmani pun sehat.

Kenyataannya, tidak seperti itu tentu saja. Banyak orang dengan raga yang sehat tetapi memiliki kesehatan jiwa yang parah. Manusia, spesies homo sapiens paling mulia, konon dikacaukan oleh aforisma kesehatan jiwa-raga yang salah kaprah ini. Koruptor, adalah genus paling fit dalam membuktikan kekeliruan sehat jiwa-raga ini. Betapa banyak koruptor yang segar bugar sehat wal afiat namun cacat mental, atau terganggu jiwanya. Mungkin benar memang harus sehat, supaya ketika dikejar aparat hukum dapat lari tunggang langgang dengan leluasa.

Pepatah latin Mens sana in corpore sano diterjemahkan ke dalam bahasa inggris menjadi a healthy mind in a healthy body. Menariknya, kata mind tidak persis sama dengan makna jiwa sebagaimana sering diartikan dalam bahasa Indonesia. Akar kata mind yang semula menunjuk kemampuan mengingat (memori) berkembang sedemikian rupa menjadi serangkaian fakultas akal, yang darinya pengetahuan diperoleh. Fakultas sendiri berarti kemampuan (intelejensi) atau kekuatan fisik dan mental.

Jadi, yang benar jiwa, akal atau mental ya? Untuk membuatnya lebih menarik, saya perlu menambahkan satu istilah lagi yaitu ruh. Ruh terkadang diartikan jiwa, namun kata jiwa tidak secara bulat menampung makna ruh. Tubuh dan Ruh agak mirip dengan body and mind dalam bahasa Inggris. Namun, jika dihadapkan antara mind dan ruh, ada satu perbedaan besar yang menarik dicermati, mind masih menyimpan arti otak secara organik, sedangkan ruh, kalau saya tidak keliru, murni dialamatkan untuk kualias nonmaterial.

Ruh, seperti halnya tubuh, tak terpisahkan dari diri manusia ketika hidup. Dan, seperti tubuh, ruh juga memiliki kemampuan belajar, dan bahkan dapat dilatih untuk mencapai kesempurnaan. Konon, istilah manusia sempurna itu terjemah langsung dari terma Insan Kamil, yang dipungut dari khazanah pengetahuan tasawuf. Ruh, boleh dibilang adalah esensi (being) manusia, yang tanpanya, kita hanya segumpal daging. Ruh, kata Rumi, adalah bagian dari Tuhan, yang terlepas ketika manusia mengembara di bumi dan merasa tersiksa ingin kembali kepada pokoknya. Maka, melengkapi Juvenal, berdoalah (dan berlatihlah) memiliki ruh yang sempurna dalam tubuh yang sehat. Demikian.

@salmanfaridibentang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta