Mengkritik Marxisme dan Pemikiran Barat Lainnya, Buku Ali Syari’ati Telah Terbit dalam Bahasa Indonesia
Marxisme menawarkan pembebasan melalui kritik terhadap ketimpangan dan struktur ekonomi. Namun, apakah perubahan sosial dan keadilan material sudah cukup untuk benar-benar membebaskan manusia?
Pertanyaan semacam inilah yang menjadi salah satu pembahasan Ali Syari’ati dalam bukunya, Marxism and Other Western Fallacies: An Islamic Critique. Melalui buku ini, pemikir dan intelektual Iran tersebut mengajak pembaca melihat kembali berbagai gagasan Barat tentang manusia, kebebasan, kesetaraan, agama, dan pembebasan dari perspektif Islam.
Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Mizan Press pada 1980, isi buku ini sebagian besar berasal dari rangkaian ceramah Syari’ati yang membahas hubungan antara manusia, Islam, dan berbagai aliran pemikiran Barat. Edisi tersebut juga memuat tulisan Mysticism, Equality, and Freedom sebagai teks pendamping.
![]()
Siapa Ali Syari’ati?
Sebelum membahas kritiknya terhadap Marxisme, penting untuk mengenal siapa Ali Syari’ati.
Ali Syari’ati (1933–1977) adalah seorang intelektual dan sosiolog Iran yang dikenal karena pemikirannya mengenai Islam, masyarakat, agama, dan perubahan sosial. Ia tumbuh di lingkungan intelektual Islam yang kuat, termasuk melalui pengaruh ayahnya, Muhammad Taqi Shariati, yang aktif dalam pendidikan dan penyebaran pemikiran Islam.
Syari’ati kemudian melanjutkan pendidikan di Prancis. Ia memperoleh gelar doktor di bidang sosiologi dari Sorbonne pada 1960-an dan selama berada di Eropa berinteraksi dengan berbagai pemikiran sosial dan politik modern, termasuk gagasan-gagasan antikolonial.
Pengalaman intelektual tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam cara Syari’ati membaca Islam dan berbagai persoalan masyarakat modern.
Sepulangnya ke Iran, Syari’ati mengajar dan aktif menyampaikan gagasan mengenai Islam, masyarakat, dan perubahan sosial. Ceramah-ceramahnya, terutama di Husayniya-ye Ershad di Teheran, menarik banyak mahasiswa dan anak muda Iran.
Syari’ati meninggal di Inggris pada 1977, sebelum Revolusi Iran 1979. Meskipun demikian, pemikirannya kemudian banyak dibahas dalam konteks intelektual yang melatarbelakangi kebangkitan Islam di Iran.
Apa yang Dibahas dalam Marxism and Other Western Fallacies?
Judulnya mungkin membuat buku ini terlihat seperti buku yang khusus membahas dan mengkritisi Marxisme. Padahal, cakupannya lebih luas.
Dalam Marxism and Other Western Fallacies, Syari’ati membahas akar Marxisme dalam materialisme, hubungannya dengan dialektika Hegel, perhatian Marxisme terhadap produksi, pandangan Marx terhadap agama, serta perbedaan mendasar antara Marxisme dan Islam.
Selain Marxisme, di buku ini Syari’ati juga mendiskusikan berbagai topik, mulai dari agama, liberalisme borjuis, eksistensialisme, serta berbagai pemikiran Barat lainnya yang berkaitan dengan manusia, bukan hanya dengan sudut pandang teologis, tapi juga secara sosiologi, antropologi, sejarah, hingga filsafat.
Ia mempertanyakan kecenderungan sejumlah gerakan pembebasan modern yang menurutnya mengabaikan dimensi spiritual manusia dan justru hanya fokus pada urusan perut serta produksi. Sebagai pembanding, ia kemudian membawa prinsip-prinsip Islam dan Al-Qur’an ke dalam pembahasannya mengenai manusia dan pembebasan yang Syari’ati kenalkan sebagai Humanisme Tauhid.
Mengapa Ali Syari’ati Mengkritik Marxisme?
Marxisme menjadi pemikiran yang menarik bagi Syari’ati bukan karena ia mengabaikan persoalan ketidakadilan. Justru sebaliknya, perhatian Marxisme terhadap ketimpangan dan penderitaan kelompok yang tertindas menjadi salah satu alasan mengapa gagasan tersebut memiliki daya tarik besar bagi pemikir revolusioner ini.
Namun, Syari’ati mempertanyakan mempertanyakan apakah kerangka materialisme Marxis mampu menjelaskan manusia secara utuh.
Dalam pembahasannya, Syari’ati menelusuri akar Marxisme dalam materialisme dan hubungannya dengan dialektika Hegel. Ia juga membahas perhatian Marxisme terhadap produksi, pandangan Marx terhadap agama, bagaimana Marxisme memahami manusia, serta alasan mengapa Marxisme dan Islam memiliki perbedaan mendasar dalam memahami manusia dan dimensi spiritualnya.
Maka pertanyaan yang diajukan oleh Syari’ati di buku ini bukan sebatas kenapa Marxisme terasa tidak benar-benar relevan, melainkan apakah manusia benar-benar sudah terbebaskan jika persoalan materialnya selesai, meskipun dimensi spiritual dan kemanusiaannya tidak ikut diperhitungkan?
Keadilan Tidak Hanya Soal Ekonomi
Salah satu hal menarik dari pemikiran Syari’ati adalah caranya menghubungkan persoalan sosial dengan persoalan manusia.
Bagi Syari’ati, manusia tidak dapat dipahami hanya sebagai makhluk ekonomi yang kehidupannya terutama ditentukan oleh kondisi material. Karena itu, perubahan struktur sosial saja tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan manusia.
Keadilan sosial, kesetaraan, dan perubahan struktur masyarakat memang menjadi persoalan penting. Namun, pembebasan manusia, dalam kerangka pemikiran Syari’ati, juga berkaitan dengan bagaimana manusia memahami dirinya, kebebasannya, serta hubungannya dengan Tuhan.
Perspektif tersebut membuat buku ini relevan bukan hanya bagi pembaca yang ingin memahami kritik Islam terhadap Marxisme, tetapi juga bagi siapa pun yang tertarik pada berbagai pertanyaan mengenai keadilan sosial dan makna pembebasan manusia.
Kritik terhadap Pemikiran Barat dari Perspektif Islam
Meski judulnya secara khusus menyoroti Marxisme, cakupan buku ini lebih luas. Syari’ati menggunakan persoalan Marxisme sebagai salah satu jalan untuk mendiskusikan berbagai pemikiran modern tentang manusia dan masyarakat.
Ia tidak hanya mengambil posisi sebagai pengkritik pemikiran Barat dari luar. Latar pendidikan dan pengalaman intelektualnya di Eropa membuat Syari’ati bersentuhan langsung dengan berbagai tradisi pemikiran modern. Ia kemudian mencoba mempertemukan pengetahuan sosial modern tersebut dengan cara pandang Islam.
Marxism and Other Western Fallacies memperlihatkan bagaimana Syari’ati berusaha membangun pembacaan Islam yang tidak sekadar menerima ataupun menolak begitu saja gagasan-gagasan modern. Ia justru mengajak pembaca mengujinya secara kritis dan membandingkannya dengan berbagai gagasan tentang manusia dengan konsep-konsep yang bersumber dari Islam dan sejarah masyarakat Muslim.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan posisi Syari’ati sebagai intelektual Iran yang banyak berusaha menjembatani pemikiran Islam dengan persoalan sosial dan intelektual modern. Ceramah-ceramahnya pada masa itu turut berperan dalam membangkitkan kembali ketertarikan sebagian intelektual yang terdidik secara sekuler terhadap Islam sebagai sebuah pandangan dunia.
Telah Terbit dalam Bahasa Indonesia
Bagi pembaca Indonesia yang ingin mengenal pemikiran Ali Syari’ati, Marxism and Other Western Fallacies kini telah terbit dalam edisi bahasa Indonesia dengan judul Kritisisme Islam di Tengah Arus Pergulatan Pemikiran Modern.
Diterbitkan oleh Bentang pada 2 Oktober 2026, buku ini sudah bisa dipesan di seluruh marketplace Bentang.
Ikuti seluruh media sosial Bentang untuk mendapatkan berbagai informasi terbaru mengenai buku ini dan buku-buku terbaik lainnya.


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!