Dari Islamofobia, Mariana Tavares Justru Menemukan Tuhan dan Imannya - Bentang Pustaka

Dari Islamofobia, Mariana Tavares Justru Menemukan Tuhan dan Imannya

Bagaimana jika pencarian terhadap Tuhan justru membawa seseorang mempertanyakan kembali keyakinan yang selama ini ia pegang?

Bagi Mariana Tavares, perjalanan menuju Islam bukanlah proses yang terjadi dalam semalam. Sebelum menjadi Muslim, Mariana pernah tumbuh sebagai seorang Katolik, kemudian menjadi Kristen Protestan, bahkan menjalani kehidupan sebagai misionaris yang aktif menyebarkan ajaran Kristen. Dan pada satu titik, ia juga mengaku memandang Islam sebagai sesuatu yang harus dilawan.

Namun, semakin banyak ia bertanya, membaca, dan mempelajari agamanya, semakin banyak pula hal yang membuatnya mempertanyakan kembali keyakinannya. Perjalanan tersebut kemudian ia ceritakan dalam bukunya, Seeking Jesus, Finding Allah: Perjalanan dari Trinitas Menuju Tauhid.

Masa Kecil yang Membuatnya Mempertanyakan Tuhan

Mariana menceritakan bahwa masa kecilnya tidak mudah. Sejak berusia sekitar delapan tahun, ia bersama ibu dan adiknya harus meninggalkan rumah karena situasi keluarga yang membuat mereka tidak aman. Selama bertahun-tahun, mereka berpindah dari satu institusi ke institusi lain hingga Mariana berusia 18 tahun.

Pengalaman tersebut membuat Mariana sempat mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Menurutnya saat itu, jika Tuhan benar-benar ada, mengapa berbagai hal buruk tersebut terjadi kepadanya? Mengapa ia harus terus berpindah, bersembunyi, dan hidup tanpa rasa aman?

Pertanyaan itu kemudian menjadi bagian awal dari perjalanan spiritualnya.

Dari Kristen hingga Menjadi Misionaris

Setelah mencoba menemukan Tuhan melalui doa dan mengalami berbagai hal yang menurutnya cukup magis, Mariana merasa menemukan keyakinan bahwa Tuhan benar-benar ada. Dan karena lingkungan yang dikenalnya saat itu adalah Kristen, ia kemudian memahami Tuhan melalui kerangka kekristenan.

Mariana pun tidak sekadar menjalani kehidupan sebagai jemaat biasa. Ia mulai membaca Alkitab, bergabung dengan komunitas Kristen, pindah ke Brasil, dan kemudian terlibat dalam kegiatan pelayanan serta misi.

Selama bertahun-tahun, ia bahkan aktif berkhotbah dan membagikan keyakinannya kepada orang lain.

Saat itu, Mariana mengaku memiliki keyakinan yang sangat kuat terhadap kekristenan. Ia juga mulai memandang Islam sebagai sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya, terutama karena umat Islam tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan.

Mempelajari Islam dari Sudut Pandang yang Berbeda

Mariana mengakui bahwa pada awalnya ia mempelajari Islam bukan dengan pikiran terbuka. Ia ingin memahami argumen Islam terutama untuk membantahnya. 

Bahkan saat bertemu dengan sekelompok Muslim yang memahami Alkitab dan berpengetahuan luas, Mariana sempat menganggapnya sebagai tipu daya setan, meskipun menemukan banyak kesamaan antara Islam dan Kristen. Ia juga masih sangat meyakini bahwa Islam itu membenci Kristen, sesuai dengan apa yang seringkali ia dengar.

Hingga akhirnya ketika ia pergi ke sejumlah negara Muslim untuk kegiatan misionaris, Mariana justru mendapat perlakuan yang sangat berbeda dari yang ia harapkan. Ia disambut dengan makanan, teh, dan keramahan. Pengalaman tersebut bertentangan dengan bayangan yang sebelumnya ia miliki tentang bagaimana umat Muslim akan memperlakukannya sebagai seorang Kristen.

Perbedaan antara gambaran yang ia dapatkan dari media dan pengalaman langsung tersebut menjadi salah satu hal yang membuatnya mulai mempertanyakan pandangannya sendiri.

Pertanyaan tentang Yesus 

Salah satu titik penting dalam perjalanan Mariana adalah ketika ia mulai kembali membaca apa yang sebenarnya diajarkan Yesus dalam Alkitab.

Ia mulai bertanya, apa yang sebenarnya Yesus ajarkan tentang dirinya sendiri dan tentang Tuhan?

Menurut Mariana, semakin ia membaca perkataan dan ajaran Yesus, semakin banyak pertanyaan mengenai doktrin Trinitas yang muncul dalam dirinya. Ia juga mulai mempelajari sejarah perkembangan doktrin Kristen hingga sejarah gereja.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak langsung membuatnya mantap menjadi Muslim. Justru, Mariana menggambarkan fase ini sebagai masa pencarian yang panjang dan penuh kebingungan.

Ia bertanya kepada pemimpin gerejanya mengenai sejumlah bagian Alkitab yang menurutnya tidak konsisten. Ketika merasa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, ia kemudian memutuskan untuk terus mencari jawabannya sendiri.

Karena baginya, mempertanyakan sesuatu bukan berarti kehilangan iman. Justru, pertanyaan menjadi bagian dari usahanya untuk menemukan kebenaran.

Bertemu Muslim dan Mendapat Ruang untuk Bertanya

Perjalanan Mariana kemudian mempertemukannya dengan seorang syekh dalam sebuah acara Islam. Ia datang dengan banyak pertanyaan dan mendapatkan kesempatan untuk membahasnya selama berjam-jam.

Menurut ceritanya, orang tersebut bahkan mengambil Alkitab untuk menjelaskan sejumlah hal dari sudut pandang Islam.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik balik dalam pencariannya. Mariana merasa pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya membuatnya bingung akhirnya bisa dibicarakan secara terbuka.

Namun, setelah Mariana mengucapkan syahadat pun, ia masih merasa perlu mencari. Ia bahkan masih bertanya-tanya apakah ia telah mengambil keputusan yang tepat.

“Aku Tidak Ingin Islam Itu Benar”

Salah satu bagian paling menarik dari perjalanan Mariana adalah pengakuannya bahwa ia sebenarnya tidak ingin menemukan Islam sebagai jawaban atau memberikan jawaban yang masuk akal baginya.

Ia menyadari bahwa jika Islam benar, hidupnya harus berubah secara keseluruhan.

Namun, dalam penuturannya, semakin ia mempelajari ajaran Islam, semakin ia melihat kemiripan antara gambaran tentang ajaran Yesus yang ia temukan dengan konsep tauhid dalam Islam. Ia menyoroti keyakinan tentang Tuhan Yang Esa, posisi Yesus sebagai Al-Masih, serta praktik keagamaan yang menurutnya memiliki kemiripan dengan tradisi yang dikenal pada masa awal kekristenan.

Selama beberapa bulan, ia bahkan menyembunyikan keislamannya dari banyak orang.

Dan ketika akhirnya ia mengumumkan keislamannya melalui media sosial, unggahannya mendapat perhatian besar dan memicu reaksi keras, bahkan cenderung negatif dari komunitas lamanya.

Menulis Seeking Jesus, Finding Allah dari Catatan Pencarian Pribadi

Pengalaman panjang dalam mencari jawaban tersebut kemudian menjadi dasar lahirnya buku Seeking Jesus, Finding Allah.

Mariana mengatakan bahwa ia menulis buku tersebut karena sering mendapatkan pertanyaan dari orang-orang yang mengalami kebingungan, serupa dengan yang pernah ia alami.

Daripada orang lain harus mencari jawaban dari berbagai tempat seperti yang ia lakukan selama berbulan-bulan, ia memilih mengumpulkan catatan, pertanyaan, dan hasil pencariannya menjadi sebuah buku.

Yang menarik, menurut Mariana, buku tersebut tidak ditulis dengan tujuan untuk mengubah pembaca menjadi Muslim. Ia menyebut bukunya sebagai panduan bagi orang yang sedang mencari, ingin memahami agama, atau sekadar memiliki rasa ingin tahu terhadap Islam dan Kekristenan.

Pembacanya pun tidak terbatas pada satu kelompok. Mariana menyebut bahwa buku tersebut ditujukan bagi orang Kristen, Muslim, ateis, maupun siapa saja yang tertarik mempelajari agama.

Bukan Sekadar Cerita tentang Pindah Agama

Karena berasal dari pengalaman pribadi, Seeking Jesus, Finding Allah juga membawa pembaca mengikuti proses ketika seseorang berani mempertanyakan apa yang selama ini diyakininya, mencari jawaban, membaca kembali sumber-sumber agama, dan menghadapi konsekuensi dari jawaban yang akhirnya ia temukan.

Melalui buku ini juga, Mariana ingin mengajak pembaca untuk tidak begitu saja menerima informasi yang diperoleh dari media, tetapi berusaha memeriksa fakta dan tetap terbuka untuk belajar, termasuk ketika pengetahuan baru membuat seseorang harus mempertanyakan kembali pandangan yang selama ini ia miliki.

Telah Terbit dalam Bahasa Indonesia

Kabar baik bagi pembaca Indonesia, Seeking Jesus, Finding Allah karya Mariana Tavares kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bentang Pustaka.

Dengan menggabungkan kisah perjalanan spiritual, refleksi pribadi, serta pembahasan mengenai konsep-konsep dasar dalam Kristen dan Islam, buku ini dapat menjadi bacaan bagi siapa saja yang tertarik pada agama Islam dan Kristen, perjalanan mencari Tuhan, hingga sejarah dan fakta tentang Islam dan Kekristenan.

Terbit pada 21 September 2026, buku Seeking Jesus, Finding Allah sudah bisa dipesan melalui seluruh marketplace Bentang Pustaka.

Ikuti seluruh media sosial Bentang Pustaka untuk mendapatkan berbagai informasi terkait buku ini dan buku-buku terbaik lainnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta