Mengasuh Anak dengan Cinta Tanpa Kata Tidak. Bisakah? Bisa!

Pernahkah Anda menghitung, berapa kali dalam sehari Anda mengatakan kata tidak pada si kecil? Satu kali, dua kali? Dalam buku The Danish Way of Parenting disebutkan, bahwa kadang kita lupa bahwa cara mengasuh anak, layaknya seperti cinta, adalah kata kerja. Perlu usaha dan kerja untuk memberikan hasil yang positif. Dan tahukah Anda, bahwa pada beberapa anak kata ‘tidak’ ini lebih susah dicerna dibandingkan dengan kata-kata lain yang lebih positif. Simak penjelasan lengkapnya berikut. <p>Pernahkah Anda menghitung, berapa kali dalam sehari Anda mengatakan “Tidak!” pada si kecil? Satu kali, dua kali? Banyak? Pastinya kita melontarkan kata “tidak” tersebut bukan dengan maksud buruk ya? Misalnya, untuk melarangnya  melakukan sesuatu yang berbahaya, atau mencegahnya melakukan sesuatu yang tidak pantas. Ya, hal-hal tersebut kan merupakan salah satu aspek dalam mengasuh anak.</p>

<p>Dalam buku <a href="https://bentangpustaka.com/read/33977/permata-metode-parenting-dari-denmark.html"><em>The Danish Way of Parenting</em></a> disebutkan, bahwa kadang kita lupa bahwa cara mengasuh anak, layaknya seperti cinta, adalah kata kerja. Perlu usaha dan kerja untuk memberikan hasil yang positif. Dan tahukah Anda, bahwa pada beberapa anak kata ‘tidak’ ini lebih susah dicerna dibandingkan dengan kata-kata lain yang lebih positif.</p>

<p>Tapi, bagaimana caranya mengasuh anak jika kita tidak boleh mempergunakan kata ‘tidak’ namun hasilnya tetap efektif dan positif?</p>

<p>Ada kok, caranya. Kita lihat yuk!</p>

<h1><strong>Gantilah kata ‘tidak’ dengan kata-kata berikut dalam proses mengasuh anak secara positif</strong></h1>

<p><strong>1.</strong><strong>“Kita lihat yang lain dulu, ya!”</strong></p>

<p>Alias mengalihkan perhatiannya. Misalnya saja, si kecil memaksa untuk dibelikan mainan. Cobalah untuk mengajaknya menonton terlebih dulu pertunjukan yang ada di atrium mal, sampai ia “melupakan” rengekannya.</p>

<p>Pada umumnya, anak-anak memang mudah tertarik dan teralihkan perhatiannya. Manfaatkan kondisi ini juga jika Anda menemukan si kecil melakukan permainan yang berbahaya, misalnya.</p>

<p><strong>2.</strong><strong>“Boleh, asalkan ….”</strong></p>

<p>Berikan “syarat” yang akan membuatnya lebih “aman”.</p>

<p>Misalnya saja, si kecil bertanya apakah ia boleh makan cokelat. Asal masih dalam batas wajar, biarkan saja ia makan cokelat, tapi berikan syarat bahwa setelah makan cokelat ia harus segera menggosok gigi.</p>

<p>Dengan demikian, Anda tenang, si kecil pun senang.</p>

<p><strong>3.</strong><strong>“Nanti sedih karena ….”</strong></p>

<p>Anda dapat “melibatkan” perasaan si kecil untuk mencegahnya melakukan sesuatu yang kira-kira bisa membuat sedih orang lain.</p>

<p>Misalnya saja si kecil sembarangan dalam membuang sampah. Coba katakan padanya bahwa ia bisa saja membuat sedih para petugas kebersihan karena mereka harus bekerja lebih keras. Jika ia bisa mengumpulkan sampah di tempatnya, maka pastinya petugas kebersihan lebih mudah membersihkannya.</p>

<p>Selain mendidik anak mengenai pentingnya membuang sampah di tempatnya, Anda pun juga sekaligus memperkenalkan rasa empati.</p>

<p><strong>4.</strong><strong>“Pilih mana?”</strong></p>

<p>Memberikan alternatif pilihan pada si kecil juga bisa menjadi salah satu cara mengasuh anak tanpa kata ‘tidak’ secara efektif. Hal tersebut akan membuatnya merasa memiliki otoritas, sekaligus mengajarkan anak untuk konsisten dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.</p>

<p><strong>5.</strong><strong>“Ini bukan buat kamu, karena …”</strong></p>

<p>Misalnya saja si kecil ingin memainkan permainan yang ada di gadget milik Anda. Maka, alih-alih hanya mengatakan, “Tidak boleh!” jelaskan saja kepadanya, mengapa permainan yang ada di gadget Anda tidak bisa ia mainkan.</p>

<p>Katakan, “Permainan ini untuk orang dewasa. Adik seharusnya main yang permainan anak-anak. Yuk, kita main ular tangga!” Dan, selanjutnya, pastikan Anda tidak bermain gadget di depannya sepanjang waktu ya.</p>

<p> </p>

<h2>Namun, meski sebaiknya kita menghindari kata “tidak”, bukan berarti sepenuhnya kita tidak boleh berkata “tidak” dalam mengasuh anak.</h2>

<p>Kita boleh kok melarang si kecil secara langsung dengan menggunakan kata-kata dan nada yang tegas, tapi pastikan Anda tetap harus lembut dan penuh cinta saat melakukannya ya. Dan, yang penting, adalah konsisten, sehingga anak bisa membedakan saat-saat seperti apa ia tak bisa bermain-main atau menawar.</p>

<p>Selalulah ingat untuk mengakhiri pernyataan dengan ucapan, “Ayah/Bunda sayang Adik!” sebagai tanda bahwa Anda mencintainya, meski sedang melarangnya berbuat sesuatu.</p>

<p><em>Parenting is like a love, is a verb.</em> Begitulah yang tertulis dalam buku <a href="https://mizanstore.com/the_danish_way_of_60574"><em>The Danish Way of Parenting</em></a>. Mari mengasuh anak dengan cinta!</p>

<p> </p>

<p> </p>

<p> </p>

<p> </p>

<p>Sumber foto : </p>

<p>www.unsplash.com</p>Carolina Ratri

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta