Mengajarkan Bahasa Indonesia

Master Bahasa Indonesia DepanBeberapa bulan terakhir ini saya berkesempatan belajar kembali pentingnya Bahasa Indonesia dalam pembelajaran di kelas. Sebagai sebuah subjek pelajaran atau mata kuliah, sering kali Bahasa Indonesia dianggap sepele, karena hampir tidak ada sesuatu yang baru, atau sudah dianggap mahir karena kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari. Padahal, karena bahasa bersifat dinamis, selalu ada banyak hal menarik yang bisa didedah dan dipelajari. Ambillah contoh kata Telepon yang jika kita cermati berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu telephone. Kaidah umum serapan bahasa Indonesia akan mengubah “ph” menjadi “f”, seperti kita dapati pada kata paragraf yang berasal dari paragraph. Namun, mengapa “telepon” tidak diubah menjadi “telefon”?

Selain itu ada banyak contoh “kelirumologi” kata yang dianggap benar padahal keliru. Acuh menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti peduli, akan tetapi kata “acuh” biasanya digunakan untuk menunjukkan makna abai atau tidak peduli, padahal kata yang benar untuk makna abai seharusnya “tak acuh”. Kata “tidak bergeming” juga kerap digunakan untuk menunjukkan arti diam saja, tidak bergerak, atau tidak berpindah tempat. Padahal kata yang menunjukkan arti tidak bergerak justru bergeming. Tidak bergeming artinya tidak diam.

Tantangan khas mengajarkan bahasa Indonesia utamanya didapati pada cara menggunakan bahasa sebagai ekspresi kreatif berbentuk tulisan. Meskipun kerap digunakan sebagai bahasa percakapan, mengolah bahasa Indonesia menjadi sebuah bahasa tulisan yang memiliki makna ternyata tidak mudah. Padahal, dalam lingkungan akademik, keterampilan menyusun kalimat adalah sebentuk skill yang penting dan perlu diakusisi agar dapat bertahan dalam lingkungan ilmiah yang mengharuskan mahasiswa menulis banyak paper dan makalah lainnya. Contoh yang paling sering terjadi di antaranya menulis paragraf yang hanya terdiri dari dua tiga kalimat saja, atau bahkan satu kalimat panjang yang baru berhenti setelah dituliskan sebanyak lima baris tanpa koma!

Pengalaman pendek saya di penerbitan banyak membantu melihat kesalahan-kesalahan mendasar dalam menulis. Karena itu, pendekatan saya dalam kelas Bahasa Indonesia lebih berakar pada latihan menulis. Tampaknya memang tidak ada cara lain yang lebih baik untuk melatih otot menulis kecuali dengan berlatih menulis dan terus menulis. Siapa sangka, melatih menulis kalimat yang benar dan lengkap ternyata tidak sesepele yang dibayangkan. Kalimat “Saya Makan” misalnya, adalah sebuah kalimat lengkap, yang disusun dari kata benda dan kata kerja, meskipun tidak diimbuhi objek dan keterangan. Sebagai sebuah kalimat, “saya makan”, tidak memberikan arti lain kecuali aktivitas makan dengan subjek saya. Banyak kalimat panjang, dengan sejumlah anak kalimat, bisa disederhanakan ke dalam peran subjek dan predikat.

Pentingnya kata sebagai penyusun kalimat ini mengingatkan saya pada sebuah slogan yang selalu muncul di pameran buku Leipzig, yang berbunyi “dari kata lahirlah dunia”. Dalam praktik menulis, kata dipilih sedemikian rupa sehingga kita mengenal adanya diksi. Penulis yang baik dapat dengan luwes melakukan dramatisasi pada tulisan dengan memilih kata-kata yang berefek dramatis. Kalimat “lampu padam” itu diksinya biasa saja, tetapi “lampu mendadak mengerjap tegang beberapa kali sebelum akhirnya terkulai padam” jelas lebih dramatis menggambarkan lampu bohlam ruangan yang tiba-tiba mati.

Mengamalkan bahasa dalam praktik memang butuh kesabaran. Sebab, mereka yang tak sabar biasanya berpaling pada dokumen-dokumen elektronik dan secara terang-terangan memindahkan isinya ke dalam tulisan mahasiswa, seolah-olah kalimat-kalimat yang jatuh dari langit google itu adalah tulisan orisinal. Ini juga salah satu penyakit yang umum terjadi dalam atmosfir akademik, yang tidak menutup kemungkinan dilakukan juga oleh pengajar di perguruan tinggi. Kaidah emas saya selalu memulai dari kata. Karena, dari kata lahirlah dunia.

@salmanfaridi Master Bahasa Indonesia DepanBeberapa bulan terakhir ini saya berkesempatan belajar kembali pentingnya Bahasa Indonesia dalam pembelajaran di kelas. Sebagai sebuah subjek pelajaran atau mata kuliah, sering kali Bahasa Indonesia dianggap sepele, karena hampir tidak ada sesuatu yang baru, atau sudah dianggap mahir karena kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari. Padahal, karena bahasa bersifat dinamis, selalu ada banyak hal menarik yang bisa didedah dan dipelajari. Ambillah contoh kata Telepon yang jika kita cermati berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu telephone. Kaidah umum serapan bahasa Indonesia akan mengubah “ph” menjadi “f”, seperti kita dapati pada kata paragraf yang berasal dari paragraph. Namun, mengapa “telepon” tidak diubah menjadi “telefon”?

Selain itu ada banyak contoh “kelirumologi” kata yang dianggap benar padahal keliru. Acuh menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti peduli, akan tetapi kata “acuh” biasanya digunakan untuk menunjukkan makna abai atau tidak peduli, padahal kata yang benar untuk makna abai seharusnya “tak acuh”. Kata “tidak bergeming” juga kerap digunakan untuk menunjukkan arti diam saja, tidak bergerak, atau tidak berpindah tempat. Padahal kata yang menunjukkan arti tidak bergerak justru bergeming. Tidak bergeming artinya tidak diam.

Tantangan khas mengajarkan bahasa Indonesia utamanya didapati pada cara menggunakan bahasa sebagai ekspresi kreatif berbentuk tulisan. Meskipun kerap digunakan sebagai bahasa percakapan, mengolah bahasa Indonesia menjadi sebuah bahasa tulisan yang memiliki makna ternyata tidak mudah. Padahal, dalam lingkungan akademik, keterampilan menyusun kalimat adalah sebentuk skill yang penting dan perlu diakusisi agar dapat bertahan dalam lingkungan ilmiah yang mengharuskan mahasiswa menulis banyak paper dan makalah lainnya. Contoh yang paling sering terjadi di antaranya menulis paragraf yang hanya terdiri dari dua tiga kalimat saja, atau bahkan satu kalimat panjang yang baru berhenti setelah dituliskan sebanyak lima baris tanpa koma!

Pengalaman pendek saya di penerbitan banyak membantu melihat kesalahan-kesalahan mendasar dalam menulis. Karena itu, pendekatan saya dalam kelas Bahasa Indonesia lebih berakar pada latihan menulis. Tampaknya memang tidak ada cara lain yang lebih baik untuk melatih otot menulis kecuali dengan berlatih menulis dan terus menulis. Siapa sangka, melatih menulis kalimat yang benar dan lengkap ternyata tidak sesepele yang dibayangkan. Kalimat “Saya Makan” misalnya, adalah sebuah kalimat lengkap, yang disusun dari kata benda dan kata kerja, meskipun tidak diimbuhi objek dan keterangan. Sebagai sebuah kalimat, “saya makan”, tidak memberikan arti lain kecuali aktivitas makan dengan subjek saya. Banyak kalimat panjang, dengan sejumlah anak kalimat, bisa disederhanakan ke dalam peran subjek dan predikat.

Pentingnya kata sebagai penyusun kalimat ini mengingatkan saya pada sebuah slogan yang selalu muncul di pameran buku Leipzig, yang berbunyi “dari kata lahirlah dunia”. Dalam praktik menulis, kata dipilih sedemikian rupa sehingga kita mengenal adanya diksi. Penulis yang baik dapat dengan luwes melakukan dramatisasi pada tulisan dengan memilih kata-kata yang berefek dramatis. Kalimat “lampu padam” itu diksinya biasa saja, tetapi “lampu mendadak mengerjap tegang beberapa kali sebelum akhirnya terkulai padam” jelas lebih dramatis menggambarkan lampu bohlam ruangan yang tiba-tiba mati.

Mengamalkan bahasa dalam praktik memang butuh kesabaran. Sebab, mereka yang tak sabar biasanya berpaling pada dokumen-dokumen elektronik dan secara terang-terangan memindahkan isinya ke dalam tulisan mahasiswa, seolah-olah kalimat-kalimat yang jatuh dari langit google itu adalah tulisan orisinal. Ini juga salah satu penyakit yang umum terjadi dalam atmosfir akademik, yang tidak menutup kemungkinan dilakukan juga oleh pengajar di perguruan tinggi. Kaidah emas saya selalu memulai dari kata. Karena, dari kata lahirlah dunia.

@salmanfaridibentang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta