[CERMIN] Runaway Bride

CERMIN - Runaway BrideDi ruang utama bale agung, keluarga besarku berkumpul.  Keluargamu takkan datang, keluargaku sudah tahu. Tak mengapa. Kita sudah membahasnya.
Wartawan-wartawan memaksa masuk. Akhirnya kuperintah saja pintu dibuka. Akad kita tak lagi penuh privasi, disaksikan sepenjuru negeri. Aku tak apa. Kuyakin kau juga.
Lantas waktu berlalu, dalam detik yang berguguran aku menunggu. Hingga kudengar ruangan penuh kasak-kusuk, dan jam demi jam bergulir. Satu per satu orang pergi. Kurasakan tepukan bergantian di bahuku. Aku tak peduli. Aku yakin kamu akan datang.
Ayah-ibu mengajakku pulang. Aku tak beranjak. Kakak lelaki menamparku. Aku bergeming. Biar kutunggu kamu sampai esok hari. Mungkin kamu lupa kita menikah hari ini? Kamu ini ada-ada saja. Bukankah semua sudah direncanakan?
“Pengantinmu pergi lagi, Nak?” tanya ayahku prihatin. “Ini yang kedua. Sudah Ayah bilang, jangan mendadak jika akan menikah. Calonmu saja kami tak tahu.”
“Lain kali Ibu yang pilihkan. Bikin malu saja!” bentak ibuku.
Aku tetap menunggu, Julia. Kamu jahat sekali, datang pergi seenak hati. Orang-orang curiga kamu tak benar-benar ada.  Aku pun dianggap gila. Aku tidak kan? Sudahlah, tak apa. Aku bilang ke orangtuaku, mungkin kamu tak suka bale agung. kamu ingin kita menikah di sini saja, di balairung RSJ Lawang. Kamu tak keberatan kan Sayang?

***

Oleh Endah S.A. (@end_ah_sa)

24 Januari 2015 CERMIN - Runaway BrideDi ruang utama bale agung, keluarga besarku berkumpul.  Keluargamu takkan datang, keluargaku sudah tahu. Tak mengapa. Kita sudah membahasnya.
Wartawan-wartawan memaksa masuk. Akhirnya kuperintah saja pintu dibuka. Akad kita tak lagi penuh privasi, disaksikan sepenjuru negeri. Aku tak apa. Kuyakin kau juga.
Lantas waktu berlalu, dalam detik yang berguguran aku menunggu. Hingga kudengar ruangan penuh kasak-kusuk, dan jam demi jam bergulir. Satu per satu orang pergi. Kurasakan tepukan bergantian di bahuku. Aku tak peduli. Aku yakin kamu akan datang.
Ayah-ibu mengajakku pulang. Aku tak beranjak. Kakak lelaki menamparku. Aku bergeming. Biar kutunggu kamu sampai esok hari. Mungkin kamu lupa kita menikah hari ini? Kamu ini ada-ada saja. Bukankah semua sudah direncanakan?
“Pengantinmu pergi lagi, Nak?” tanya ayahku prihatin. “Ini yang kedua. Sudah Ayah bilang, jangan mendadak jika akan menikah. Calonmu saja kami tak tahu.”
“Lain kali Ibu yang pilihkan. Bikin malu saja!” bentak ibuku.
Aku tetap menunggu, Julia. Kamu jahat sekali, datang pergi seenak hati. Orang-orang curiga kamu tak benar-benar ada.  Aku pun dianggap gila. Aku tidak kan? Sudahlah, tak apa. Aku bilang ke orangtuaku, mungkin kamu tak suka bale agung. kamu ingin kita menikah di sini saja, di balairung RSJ Lawang. Kamu tak keberatan kan Sayang?

***

Oleh Endah S.A. (@end_ah_sa)

24 Januari 2015bentang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta