Cemas bukan berarti lemah. Cemas adalah tanda bahwa diri sedang berproses menjadi manusia yang utuh.
Kita hidup pada zaman di mana kebahagiaan seolah bisa dibeli lewat layar ponsel. Namun, mengapa rasa cemas justru kian mencekik? Mengapa di tengah kebebasan memilih, kita merasa kian tak berdaya?
Buku ini tidak menawarkan janji manis tentang hidup bebas masalah, tetapi mengajakmu menyelami “akar” dari kegelisahan. Dengan memadukan pemikiran filosofis dunia dan kearifan Nusantara yang membumi, buku ini membantu memahami bahwa kecemasan adalah energi besar yang sedang menunggu untuk diarahkan. Ibarat “bahan bakar”, rasa cemas hadir untuk melahirkan karya emas!


















