Aroma Karsa Gathering Yogyakarta : Dari Dapur Fiksi hingga Solusi Perdamaian Komplek

Aroma Karsa Gathering Yogyakarta : Dari Dapur Fiksi hingga Solusi Perdamaian Komplek <p style="text-align: justify;"><em>“Sadar atau tanpa kita sadari, dunia yang sebenarnya adalah dunia aroma</em><em>.</em><em>”</em> Kalimat yang menjadi <em>headline</em> novel terbaru Dee Lestari tersebut memang mampu menjadi daya tarik tersendiri. Novel-novel fiksi yang biasanya dibalut dengan penggambaran visual membuat Dee tertarik untuk menciptakan sesuatu yang berbeda,<a href="http://aromakarsa.bentangpustaka.com/"><span style="color:#FF0000;"> <em>Aroma Karsa</em></span></a> namanya. Ketertarikan Dee tersebut ternyata tidak berhenti pada dirinya. Sejak dijual bebas pada 16 Maret 2018, ketertarikan itu segera menguar ke segala penikmat buku, salah satunya Yogyakarta.</p>

<p style="text-align: justify;"> </p>

<p style="text-align: justify;">Kemarin, (22/04/2018) telah digelar <em>Aroma Karsa</em> <em>Gathering</em> di Yogyakarta. Meskipun jam masih menunjukkan pukul 09.30 WIB, halaman depan IFI-LIP Yogyakarta sudah dipenuhi para penggemar Ibu Suri, pencipta sosok Jati Wesi si Hidung Tikus yang sangat dikagumi. Seolah-olah tidak ingin melewatkan satu detik pun, mereka sudah siap sedia 30 menit sebelum acara dimulai. Ketika menunggu acara dimulai, sebagian besar tangan kanan peserta sibuk mengoperasikan <em>smartphone</em>, sementara tangan kirinya menenteng bangga sebuah buku berjudul <em>Aroma Karsa</em>. Tepat pukul 09.48 WIB, semua peserta <em>g</em><em>athering </em>yang kurang lebih berjumlah 200 orang sudah memasuki ruangan. Diawali dengan para peserta dari <em>Digital Tribe</em> dan <em>priority pass</em>, peserta reguler segera menyusul masuk tidak lebih dari lima menit setelahnya.</p>

<p style="text-align: justify;"><img alt="" height="813" src="/sas-content/uploads/files/images/dee.jpg" width="1220" /></p>

<p style="text-align: justify;">Tanpa mengurangi durasi, pukul 10.00 WIB Abi yang merupakan Pemandu Acara segera memutarkan sebuah video perjalanan pembuatan novel <em>Aroma Karsa</em>. Seakan tersihir, para peserta begitu tenang. Tepat ketika Dee dan suaminya, Reza Gunawan, memasuki ruangan, peserta menjadi riuh dengan tepuk tangan. Seketika, mereka kembali tersihir dengan penampilan musikalisasi puisi yang dibawakan oleh pasangan multitalenta ini. Dengan <em>apik</em>, sepasang suami istri ini membawakan lantunan naskah novel ke dalam melodi dan irama yang menghanyutkan. Belum berhenti sampai di situ, seakan paham terhadap kehausan para peserta, Dee menyiapkan sebuah video kecil mengenai “Solusi Perdamaian Komplek”. Video yang berdurasi tidak lebih dari 10 menit ini berisi tentang perdebatan beberapa aktor dan aktris Indonesia yang memperebutkan posisi Jati Wesi, Tanaya Suma, dan Arya Jayadi. Tepat ketika layar memunculkan sesosok wajah yang begitu familier, peserta seketika histeris. Pada akhirnya, imajinasi mereka bertemu dengan si empunya.</p>

<p style="text-align: justify;">Bersamaan dengan selesainya pemutaran video tersebut, masuklah sosok yang ditunggu-tunggu. Dengan balutan <em>dress</em> batik berwarna merah muda bermodel <em>cheongsam</em>, Dee Lestari memasuki ruangan yang segera disambut dengan tepuk tangan hangat. Sesaat setelah Ibu Suri menyapa para penggemarnya, acara <em>talk show</em> segera dimulai.</p>

<p style="text-align: justify;"><img alt="" src="/sas-content/uploads/files/images/dee2.jpg" /></p>

<p style="text-align: justify;">“Kalau biasanya novel fiksi selalu digambarkan dengan penggambaran visual, kenapa kita tidak mencoba menggambarkannya melalui aroma? Sejak saya kecil saya suka mencium aroma makanan yang akan saya makan, saya juga menikmati aroma ketika rumput ditebas. Maka, muncullah sosok Jati Wesi si Hidung Tikus,” ungkap Dee ketika ditanya terkait inspirasinya tentang pembuatan novel <em>Aroma Karsa</em>.</p>

<p style="text-align: justify;"><em>Talk show</em> ini berjalan begitu tertib. Dee menjelaskan secara terperinci terkait “dapur” <em>Aroma Karsa</em>. Ia juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini memang mengganjal di benak para pembacanya.</p>

<p style="text-align: justify;">“Kalau saya ditanya esensi membuat novel ini, atau esensi mengapa saya menjadi saya yang sekarang ini, menjadi penyanyi, penulis lagu ataupun penulis buku, jawabannya ada dua. Karena saya menikmati seni dan yang lebih penting, karena saya suka bercerita. Kita <em>nggak</em> bisa memungkiri bahwa musik dan menulis adalah hal yang tidak terpisahkan. Saya suka saat saya bisa menyampaikan apa yang saya pikirkan, yang saya lihat atau apa yang saya alami. Entah itu melalui lagu atau karya dalam bentuk buku. Jadi, kalau saya ditanya saya ini apa atau siapa, saya akan lebih senang menyebut diri saya sebagai <em>s</em><em>tory </em><em>t</em><em>eller</em>.” Seakan setuju dengan apa yang disampaikan Dee, para peserta mengangguk-angguk khidmat mendengarnya.</p>

<p style="text-align: justify;">Lantas, pertanyaan lain kembali muncul, pertanyaan yang mungkin sudah menjadi pertanyaan mendasar para pembaca <em>Aroma Karsa</em>. “Sebenarnya <em>Aroma Karsa</em> itu cerita fiksi atau nonfiksi? Puspa Karsa itu nyata atau hanya imajinasi?”</p>

<p style="text-align: justify;">Dengan mantap, Dee menjawab fiksi. Lantas, ia menuturkan dengan lugas terkait alasannya melakukan riset sekian lama untuk “menggodok” sebuah novel fiksi berjudul <em>Aroma Karsa</em>. “Karena menjahit fakta ke dalam fiksi merupakan seni tersendiri. Seberapa besar kadar fakta yang mampu saya jahit ke dalam fiksi tersebut akan semakin meningkatkan kadar kepercayaan dan logika ‘masuk akal’ bagi para pembacanya. Bagi saya, cerita fiksi yang berhasil adalah cerita yang mampu melenturkan batas antara fiksi dan fakta, yang bisa terasa riil serta menghanyutkan.”</p>

<p style="text-align: justify;">Acara ini ditutup dengan sesi <em>book signing</em> dengan antrean yang cukup mengular. Sementara Dee sibuk menandatangani setiap buku dan meladeni peserta melalui sesi berfoto, di bawah panggung berdiri sosok Reza Gunawan. Dengan senyum ramah, Reza setia menyapa setiap penggemar istrinya dan menyalaminya satu per satu sembari mengucapkan ungkapan terima kasih. Acara ini berakhir sekitar pukul 12.30 WIB. Dan, tepat pukul 13.00 WIB, Dee Lestari dan suaminya segera meninggalkan lokasi menuju Bandara Adisutjipto untuk terbang kembali ke Ibu Kota.</p>Aini Syarifah

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta