Dialah Kakek Himonya, penderita Lewy-Body Dementia, penggila cerita detektif. Kaede, cucu semata wayangnya, mula-mula menganggap demensianya sebagai beban. Bikin Kakek halu tidak karuan. Ditambah Kaede—wanita karier yang melajang—memang sulit berhubungan dengan orang, termasuk kakeknya sendiri.
Padahal, demensia malah bikin Kakek kepala tujuh ini makin kreatif, makin encer dalam memecahkan teka-teki. Setelah Kakek berhasil memecahkan kasus “misteri kliping obituari” dari Kaede, mereka jadi kian dekat. Bersama-sama, mereka memecahkan misteri sehari-hari; misteri yang membawa Kaede berhubungan dengan orang lain, dengan love-interest-nya, dengan hantu dari masa lalu yang siap menyergap di ujung cerita.
Kakekku Detektif Jagoan bukan sekadar cerita detektif amatiran. Lebih dari itu, novel ini adalah surat cinta seorang cucu kepada kakeknya; bahkan meskipun si Kakek bukan orang Jepang, atau tidak keranjingan kisah misteri, surat itu tetap sama


















