Menggambar adalah satu-satunya kegiatan yang membuat Ranya merasa hidup. Ia bahkan membuka drawing commission di sekolah yang menghasilkan uang untuk ditabung, membeli perlengkapan menggambar, juga menambah uang jajan.
Masalahnya, ibu sudah membuat keputusan. Ranya harus melanjutkan kuliah di jurusan Akuntansi, mengikuti jejak Kak Una. Nantinya, ia harus bekerja di bank—menggantikan tugas Kak Una sebagai tulang punggung keluarga, sebab Kak Una harus mulai memikirkan pernikahan.
Meski sangat mencintai keluarganya, keputusan itu membuat Ranya merasa seperti dipaksa shutdown—mati, menerima, tanpa ruang untuk memilih. Namun, ketika sebuah kesempatan kuliah di jurusan seni muncul, akankah Ranya cukup berani untuk mengambilnya?














