Rantai Tak Putus

Tantangan Baru Dee Lestari

Tantangan akan membuat kita menjadi makin kuat dan maju. Orang butuh tantangan untuk mengasah dirinya. Bentuknya bisa bermacam-macam, baik dalam hidup, pekerjaan, relasi sosial, atau bahkan menulis.
Dee Lestari dalam buku terbarunya Rantai Tak Putus mengungkapkan bahwa dia menemukan banyak tantangan selama prosesnya. Tantangan pertama adalah topik. Seperti yang kita ketahui bersama, buku ini bukan karya nonfiksi pertama Dee Lestari. Sebelumnya pada Juni 2019, Dee Lestari pernah menulis buku nonfiksi berjudul Di Balik Tirai Aroma Karsa, yang dari judulnya saja kita sudah tahu bahwa buku tersebut membahas proses penulisan novel laris Aroma Karsa. Buku ini mengungkap rahasia kepenulisan Dee Lestari, yang sudah barang tentu merupakan ranah yang sangat dikuasainya.
Bisa dibilang bahwa inilah kali pertama Dee Lestari menulis buku bertema UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Dengan tema yang relatif masih asing ini, mau tidak mau Dee Lestari pun melakukan riset untuk menyelami apa itu UMKM dan permasalahan yang terjadi di dalamnya. Kemudian, Dee Lestari mendapati fakta bahwa, menurut data BPS, persentase UMKM di kalangan seluruh unit usaha lain di Indonesia adalah 99,9%, menyumbangkan pendapatan negara hingga sekitar 60%. Bandingkan dengan perusahaan besar 1% yang menyumbangkan sekitar 30-an%. Dee Lestari pun sadar, menulis buku Rantai Tak Putus merupakan kontribusi berarti bagi masalah penting ini. Namun, bagaimana cara menuliskan buku tentang UMKM dengan cara yang mudah dipahami dan menarik minat pembaca berlama-lama menyimaknya?
Rantai Tak Putus adalah karya nonfiksi yang tergabung dalam genre kisah inspiratif, menggunakan jurnalisme kreatif, yang tidak berupa wawancara semata, tetapi juga dibingkai narasi. Di sinilah tantangan kedua muncul, yaitu bagaimana cara menuliskannya. Selaku sosok yang lebih banyak dikenal sebagai penulis fiksi, sangat lumrah jika Dee Lestari menganggap Rantai Tak Putus sebagai tantangan tersendiri. Penulisan nonfiksi, apalagi di luar tema kepenulisan, pastilah mempunyai caranya sendiri. Dee Lestari seperti dipaksa keluar dari zona nyamannya sebagai penulis fiksi. Selama proses menulis tersebut, Dee Lestari mencari sebanyak mungkin referensi buku nonfiksi, terutama yang memberikan banyak sentuhan personal. Penulis tidak mengambil jarak antara dirinya dan objek. Lewat jurnalisme kreatif yang dipilihnya, Dee Lestari bertemu dengan sejumlah narasumber, melakukan wawancara selagi mencoba melihat dengan perspektif sang narasumber.
Memang di sini ada PR lain yang tak kalah besar, yaitu sebisa mungkin menghindari Rantai Tak Putus menjadi seperti buku wawancara belaka. Dee Lestari memanfaatkan sepenuhnya kiat-kiat menulis fiksi di situ. Sebagai penulis fiksi, cara ini memungkinkan Dee Lestari untuk misalnya, menjadikan kisah dramatis salah seorang tokoh yang diwawancarainya, yaitu Agus, sebagai pembuka buku. Kisah kecelakaan yang dialami Agus disampaikan dengan detail dan sedemikian rupa hingga pembaca seolah hadir di situ dan melihatnya langsung, seperti kutipan di bawah ini:

Jantung Agus berdebar kencang. Ia baru saja lolos dari lubang jarum. Hidup, untungnya, masih berpihak padanya. Telat sekian detik, ia dan mobilnya sudah menjadi roti lapis di tengah Tol Romokalisari. Ia bisa memicu rangkaian kecelakaan. Entah berapa nyawa dapat melayang konyol, semata-mata karena pendar yang tak kunjung padam dan air mata yang tak henti mengucur. Semata-mata karena ia tak tahu kapan harus berhenti.

Ya, Rantai Tak Putus, bisa jadi adalah saksi lain seorang Dee Lestari yang berhasil mengatasi tantangan-tantangannya.
Rantai Tak Putus terbit pada Agustus 2020. Buku ini bisa didapatkan di seluruh toko buku terdekat atau toko buku daring kesayangan Anda dengan harga Rp79.000,00.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *