Seni Membuang Barang ala Jepang

Di Indonesia, sepuluh tahun silam, tak terbayang jika seni membuang barang menjadi salah satu topik yang ramai dibicarakan, bahkan hingga dibahas di seminar maupun workshop. Bukankah membuang sesuatu yang sudah tidak dipergunakan merupakan hal yang sangat umum dan wajar?

Akan tetapi, ketidakmampuan membuang barang rupanya menjangkiti sebagian besar orang. Efeknya pun bisa bermacam-macam: mulai dari rumah berantakan yang mengganggu keharmonisan keluarga, kesulitan mencari sesuatu yang berujung marah-marah, hingga perasaan bingung yang kerap menerpa ketika memutuskan mana yang harus lebih dulu dibuang.

 

Sebelum Tren Berbenah, Ada Tren Membuang

Ketika Marie Kondo menciptakan Metode Konmari pada 2011 lalu, dunia sontak riuh. Terlebih ketika dia memiliki acara televisi di Netflix bertajuk “Tidying Up with Marie Kondo: the original guide to decluttering your home once and for all”. Metode Konmari pada hakikatnya adalah seni tentang berbenah dan mengorganisasikan barang. Dan jutaan orang merasa terbantu menggunakan metode ini.

Jika Marie Kondo menekankan pada seni berbenah, Nagisa Tatsumi, rupanya lebih dulu muncul satu dekade sebelumnya dengan seni membuang barang. Bahkan Nagisa-lah—melalui buku Suteru! Gijutsu—yang menginspirasi Marie Kondo remaja dalam menciptakan teknik decluttering-nya yang mendunia itu.

Mengingat kedua pakar ini berasal dari Jepang, sepertinya memang kebiasaan menimbun barang sangat umum di Jepang. Di sisi lain, mereka memiliki kebiasaan disiplin yang sangat kuat. Hal itu pulalah yang mendukung berkembangnya seni membuang dan berbenah.

 

Prinsip Pantang Mubazir versi Jepang

Sebagian besar masyarakat di negara di Asia memiliki prinsip pantang mubazir. Kita diajarkan untuk memanfaatkan suatu barang semaksimal dan selama mungkin. Kalau masih bagus, jangan buru-buru dibuang. Siapa tahu suatu saat bisa kita manfaatkan lagi.

Di Jepang, prinsip ini dikenal dengan istilah “mottainai”. Sayangnya, prinsip yang dipegang begitu kuat ini malah menjadi penyebab utama barang-barang yang disimpan dan tidak sempat dimanfaatkan hingga rusak. Akibatnya, justru barang tersebut menjadi mubazir.

“Saya beropini bahwa cara terbaik untuk menghargai barang adalah dengan menggunakannya. Pikirkan hadiah-hadiah yang Anda simpan di lemari karena mottainai. Makanan yang  membusuk di kulkas karena mottainai. Tumpukan kantong belanja dari toko serba-ada yang Anda kumpulkan karena mottainai. Barang-barang yang Anda obral karena mottainai, tetapi kemudian tidak terjual dan dibuang oleh penyuplai. Sayang nian jika kata mottainai diartikan seperti itu semata—keyakinan keliru bahwa tidak membuang barang sama dengan menjaganya baik-baik.”

(Suteru! Gijutsu, hal xvi-xvii)

 

Kesan di Balik Kata “Suteru! Buang!”

Menurut Tatsumi, orang Jepang (dan sebagian besar manusia pada umumnya) sangat sulit menentukan mana yang akan disingkirkan. Ada berbagai alasan psikologis yang melatarbelakanginya. Terkadang, memilah berdasarkan barang yang kita sukai saja tidak cukup. Terlalu banyak menimbang justru akan memperburuk kecepatan kita dalam menentukan pilihan. Kelihatannya memang sepele urusan buang-membuang ini. Tapi jika kita resapi lebih dalam, kemampuan untuk membuang secara tegas dan ringkas akan sangat mempengaruhi kemampuan kita dalam memutuskan berbagai persoalan.

“Dalam survei, saya meminta orang-orang untuk menyebutkan kata-kata yang mereka asosiasikan dengan ‘suteru’ (dalam bahasa Jepang berarti ‘buang’ atau ‘singkirkan’). Jawaban dari pertanyaan ini juga menguak pola psikologis yang menarik. Pada satu sisi, orang menyampaikan asosiasi seperti ‘plong’, ‘mutlak’, ‘awal baru’, ‘segar’, ‘enteng’, ‘pindah rumah’, ‘minimalis’, ‘hidup sederhana’.

“Jawaban ini pasti merefleksikan pola pikir orang-orang yang memilih ‘buang’ sebagai solusi terbaik untuk mengatasi situasi berantakan karena kebanyakan barang. Pada sisi lain, ada pula asosiasi seperti ‘mungkin kapan-kapan perlu’, ‘nanti menyesal’, dan ‘penataan’. Mungkin orang-orang ini lebih suka memperbaiki sistem penyimpanan dan penataan barang untuk mengatasi masalah.”

(Suteru! Gijutsu, hal xli)

Survei tersebut sejatinya bisa memberi kita gambaran bahwa proses membuang melibatkan proses psikologis yang kompleks. Dan tentunya memang lebih mudah membiarkan barang menumpuk. Menurut Tatsumi, sikap semacam itu layaknya tikus pengecut, yang bersembunyi dalam lubang di pohon di antara gundukan daun dan kacang. Membiarkan barang bertumpuk ujung-ujungnya hanya merepotkan. Bersikaplah berani dan singkirkanlah.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai seni membuang barang ala Jepang, segera ikuti pre order Suteru! Gijutsu yang berlangsung pada 7 hingga 27 September 2020.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *