fbpx

    “Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia ini karena ia begitu mengangkat jiwa

    sehingga aturan-aturan kemanusiaan dan gejala alam tidak membelokkan alirannya.”

    sayap-sayap patah

    SINOPSIS

    Dengan sensitivitasnya yang luar biasa, Kahlil Gibran merajut sebuah kisah cinta tentang sepasang kekasih yang indah dan menggelora. Namun, cinta mereka bukanlah tanpa halangan. Tradisi, tabu, politik, dan ketidakadilan menjadi penghalang bagi keduanya untuk bersatu.

    Sederhana, tetapi penuh makna. Itulah yang membuat karya Gibran begitu dekat di hati pembacanya. Diterjemahkan secara langsung oleh Sapardi Djoko Damono, penyair legendaris Indonesia, menjadikan napas liris dan puitis di dalam buku ini tetap semakin terasa keindahannya.

    Inilah salah satu kisah cinta paling megah dan paling dikenal sepanjang masa, yang sering disandingkan bersama Romeo & Juliet karya William Shakespeare.

    KEUNGGULAN

    • Ditulis oleh sastrawan besar dunia, Kahlil Gibran dan diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono, sastrawan legendaris Indonesia.

    “Kisah yang luar biasa mengharukannya ini bagi saya merupakan rangkaian dan timbunan segala jenis perbandingan, dan kisah yang sangat sederhana itu hanyalah merupakan sangkutan bagi Gibran untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam menciptakan bahasa yang sangat metaforis. Cinta adalah tema utama dalam kisah ini, tetapi Gibran juga menyelipkan berbagai masalah yang berkaitan dengan nasib perempuan, penindasan, ketidakadilan, dan korupsi yang terjadi di Lebanon.” — Sapardi Djoko Damono

    sayap-sayap patah

    SPESIFIKASI PRODUK

    • Penulis: Kahlil Gibran
    • ISBN: 978-602-291-787-8
    • Ukuran: 11 x 18 cm
    • Penyunting: Dila Maretihaqsari
    • Jumlah Halaman: 144 halaman
    • Jenis kertas: Bookpaper 55gr
    • Kategori Buku: Sastra
    • Harga: Rp49.000
    • Bonus: Poster Wall Dekor

    TENTANG PENULIS

    KAHLIL GIBRAN terlahir dengan nama Gibran Khalil Gibran di Beshari, Lebanon, pada 1883. Pada usia 12 tahun ia berimigrasi ke Amerika bersama ibu dan kedua adik perempuannya. Di sanalah secara tak sengaja namanya berubah menjadi Kahlil Gibran akibat pencatatan yang salah oleh pihak administrasi sekolah pertama yang diikutinya. Sempat kembali ke tanah kelahirannya selama tiga tahun untuk memperdalam bahasa Arab, Kahlil Gibran menghabiskan masa remaja bersama seniman bohemian di Boston.

    Ia juga pernah tinggal di Paris selama setahun untuk berguru seni rupa pada beberapa seniman di Prancis. Pulang dari Paris ia pindah ke New York dan menetap di kota ini sampai akhir hayat. Tulisan-tulisan Gibran dikenal luas karena cita rasa orientalnya yang eksotis, bahkan mistis. Dianggap sebagai penyair Arab di perantauan terbesar, Kahlil Gibran meninggal di New York pada 1931. Ratusan pendeta dan para pemimpin agama, yang mewakili setiap aliran di bawah langit Timur, tertunduk khidmat dalam acara pemakaman itu.

    Mereka berasal dari Kristen Maronit, Protestan, Islam Syi’ah dan Sunni, Gereja Yunani Kuno, Yahudi, Druz, dan lain-lain. Kahlil Gibran dikuburkan di Beshari, Lebanon, tempat ia menjalani masa kanakkanaknya.