Rapijali

‘RAPIJALI’ Cerita Bersambung tentang Musik, Karya Terbaru Dee Lestari

Kabar baik untuk para penikmat karya fiksi ciptaan Dee Lestari! Sebentar lagi, kamu bisa menikmati tulisan terbaru Dee yang berjudul “RAPIJALI”. Karya tulis ini lahir dari manuskrip tertua buatan Dee yang telah disimpan selama 27 tahun.

“Saya berharap buku ini bisa memicu kesenangan orang-orang untuk bermusik lagi,” tutur Dee dalam acara digital press conference yang digelar pada Jum’at (22/1/2021), pukul 16.00 WIB.

Untuk tahu informasi lebih lengkapnya, langsung saja simak artikelnya ya!

1. Berasal dari manuskrip yang disimpan selama 27 tahun. “RAPIJALI” ditulis sebagai cerita bersambung yang bisa diakses secara digital

'RAPIJALI' Cerita Bersambung tentang Musik, Karya Terbaru Dee LestariPress conference peluncuran buku “RAPIJALI” dari Dee Lestari pada Jum’at (22/1/2021). IDN Times/Tyas Hanina.

Penulisan “RAPIJALI” dimulai sejak tahun 1993, ketika Dee menginjak usia 17 tahun. Saat itu, manuskrip aslinya masih diberi judul “Planet Ping” yang mengikuti nama tokoh utamanya.

“Saat itu saya sudah membayangkannya menjadi sebuah cerbung (cerita bersambung),” ujar Dee.

Seiring waktu, naskah tersebut pun tersimpan selama 27 tahun lamanya dan Dee mulai menulis karya sastranya yang lain.

“Karena keterbatasan pengetahuan saya juga saat itu, gimana sih cara menulis cerita yang baik sampai cara menyusun konflik. Saya hanya menulis berdasarkan insting, jadi cerita itu gak selesai,” jelasnya.

Setelah menghasilkan karya-karya tulis lainnya seperti serial “Supernova” sampai kumpulan cerpen “Filosofi Kopi” dan “Madre”, ia tetap merasa ‘berhutang’ dengan manuskrip yang ditinggalkannya tersebut.

“Di tahun 2017 saya tiba di sebuah persimpangan, jadi ada perusahaan yang menawarkan untuk menerbitkan cerbung digital. Tapi, entah kenapa saya merasa ‘Perahu Kertas’ lebih kuat dan lebih rampung,” tambah Dee.

Perempuan berusia 45 tahun tersebut pun akhirnya melanjutkan kembali manuskrip “RAPIJALI” di pertengahan tahun 2020. Cerita bersambung tersebut akan terbit dengan formal digital melalui platform Storial.co.

2. Mengangkat tema musik yang merupakan passion lain yang dicintainya

'RAPIJALI' Cerita Bersambung tentang Musik, Karya Terbaru Dee Lestariinstagram.com/deelestari

Selain aktif menjadi penulis fiksi, Dee Lestari juga dikenal sebagai musisi. Meski sudah lama terjun ke bidang musik, ia mengaku belum pernah menjadikan passion-nya itu dalam bentuk cerita. Hal tersebut akhirnya terwujud lewat kelahiran “RAPIJALI”.

Dengan mengangkat musik sebagai tema sentral, “RAPIJALI” juga akan disertai dengan unsur cerita lain. Seperti sentuhan drama keluarga lintas 3 generasi, kondisi politik nasional, hingga persahabatan para remaja.

“Saya sangat menyukai semesta Ping dan kawan-kawannya. Itu satu-satunya manuskrip saya yang berhubungan dengan musik. Karena background saya sebagai penyanyi akhirnya terbalaskan lewat “RAPIJALI,” pungkas Dee.

Karena penyelesaian naskah tersebut tertunda selama puluhan tahun, ia mengakui ada beberapa unsur cerita yang harus dirombak. Dari mulai perubahan judul, perspektif tokoh, sampai latar tempat yang dipakai di cerita.

Ia menuturkan, “Termasuk ketika Ping pindah ke timeline kekinian. Mau gak mau saya akhirnya harus memasukkan unsur-unsur kekinian juga. Seperti ponsel, media sosial, politik, sampai ajang bakat televisi”.

Demi memperkuat unsur musik yang ada di dalam cerita, Dee juga membuat sebuah playlist khusus di Spotify.

“Di situ akan kelihatan ada jenis musik dan lagu-lagu tertentu yang saya urutkan sesuai kemunculannya di dalam cerita. Selain itu, di dalam cerita mereka juga akan membuat lagunya sendiri,” tambah Dee.

3. Pengalaman unik dari membaca cerita bersambung dengan format digital

'RAPIJALI' Cerita Bersambung tentang Musik, Karya Terbaru Dee LestariPress conference peluncuran buku “RAPIJALI” dari Dee Lestari pada Jum’at (22/1/2021). IDN Times/Tyas Hanina.

Selain akan menerbitkan ceritanya dalam format cetak, Dee juga akan mempublikasi karya fiksinya dalam bentuk cerbung digital. Salah satu keuntungan lain dari format digital adalah keberadaan fitur forum. Sehingga pembaca diharapkan bisa berdiskusi dengan komunitas yang bernama Digitribe.

Bagi Dee, cerita bersambung merupakan salah satu format karya tulis yang paling digemarinya. Ia menuturkan alasannya sebagai berikut,

“Kalau di cerita bersambung pembaca akan fokus pada hal-hal yang dibaca pada saat itu. Jadi, sepotong teks itu akan dikupas secara dalam”.

Sebagai hadiah kepada pembaca, Dee juga telah merekam audio book di salah satu chapter ceritanya.

“Saya bisa bayangkan para penggemar pasti suka mendengar penulisnya membacakan tulisan tersebut. Itu jadi pengalaman berharga yang hangat dan terasa akrab,” tambahnya.

Reza Gunawan dari Manajemen Dee Lestari pun menuturkan bahwa ada tiga pengalaman pembaca yang coba disasar.

“Yang pertama adalah membaca cerbung yang terbit selama Senin-Kamis selama 1 bulan lebih, tentunya akan ada sensasi penasaran akibat cliff hanger,” tuturnya.

 

“Pengalaman keduanya, mereka yang akses secara digital juga bisa bergabung dengan Digitribe ‘RAPIJALI’. Mereka bisa berbagi dugaan bagaimana jalan cerita akan berlangsung,” ujar Reza. Pengalaman terakhir yang ia maksud adalah pengalaman membaca cerita lengkapnya dalam versi cetak.

4. Berawal dari ketidaksengajaan pergi ke suatu tempat yang dirindukan. Dee pun menjadikan lokasi tersebut menjadi latar tempat yang baru

'RAPIJALI' Cerita Bersambung tentang Musik, Karya Terbaru Dee LestariPress conference peluncuran buku “RAPIJALI” dari Dee Lestari pada Jum’at (22/1/2021). IDN Times/Tyas Hanina.

Pada manuskrip asli “RAPIJALI”, Dee mengambil latar suasana di Garut pada masa 90’an awal. Setelah membedah naskahnya, ia merasa latar belakang tempat tersebut sudah gak relevan dengan suasana yang ingin dibangunnya.

Sampai suatu hari, pesawat yang ditumpanginya mendarat di bandara lain, ia pun menemukan titik terang dari proses melanjutkan naskahnya.

“Saat itu pesawat kami kena kendala cuaca, akhirnya harus mendarat darurat di Pangandaran (Batu Karas). Waktu itu saya ketiduran dan gak sadar, begitu bangun rasanya kangen karena sudah lama banget gak ke sana,” ungkap Dee.

Setelah bertahun-tahun gak mengunjungi Pangandaran, Dee merasa suasana kehidupannya masih belum banyak berubah. Dari sana ia pun merasa bahwa lokasi ini bisa jadi latar tempat yang cocok untuk manuskrip barunya.

“Setelah itu, saya kembali lagi ke sana setelah beberapa bulan. Kebetulan ada teman saya yang emang orang asli sana, dia pun menghubungkan saya dengan masyarakat lokal,” ujar Dee. Baginya, riset tempat akan sangat menentukan jalannya cerita planet Ping yang ada di benaknya.

 

Ia pun menambahkan, “Selain itu adah riset tentang musik. Karena itu bidang saya, gak harus riset jauh-jauh. Tapi, tetap ada hal teknis yang gak sesederhana yang saya bayangkan”.

Jia Effendy selaku editor dari “RAPIJALI” pun membagikan pengalamannya menyunting buku tersebut.

“Ada beberapa bagian yang saya baca lebih dari 2 kali. Bagian yang bikin saya ngakak pertama kali, tetap bikin saya ngakak setetelah 2-3 kali baca,” tuturnya.

Memasukkan unsur humor dalam suasana seserius apa pun rupanya juga telah menjadi karakter penulisan Dee dan menjadi hiburan tersendiri baginya.

“Selalu ada keinginan alamiah untuk mengencerkannya di dalam humor. Yang jelas, satu hal yang harus saya pegang: ketika menulis adegan lucu, saya juga harus tertawa menulisnya,” pungkasnya sambil tersenyum.

5. Cerbung digital “RAPIJALI” sudah bisa dinikmati setiap Senin dan Kamis mulai dari 25 Januari 2021

'RAPIJALI' Cerita Bersambung tentang Musik, Karya Terbaru Dee Lestariinstagram.com/deelestari

Di akhir acara digital press conference, Dee pun mengutarakan harapannya terhadap karya terbarunya.

“Saya berharap buku ini bisa memicu kesenangan orang-orang untuk bermusik lagi. Karena gak semua orang harus punya cita-cita jadi musisi internasional, tapi musik adalah bahasa universal untuk menghibur kita semua,” ungkapnya.

Apabila kamu tertarik dengan karya sastra terbaru Dee, kegiatan pre-order sudah bisa dibuka sejak tanggal 8-23 Januari 2021 di Storial.co. Cerbung “RAPIJALI” bisa kamu baca setiap Senin-Kamis, mulai dari 25 Januari 2021.

Selain itu, versi cetaknya juga sudah bisa kamu beli pada Februari 2021.


Berita dilansir dari IDN Times, pada 23 Januari 2021.

0replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *