Pengalaman Hidup yang Kaya Rasa

Oleh: Untung Wahyudi

 

Judul               : Kamus Rasa Sarah Diorita

Penulis             : Sarah Diorita Candra

Penerbit           : Bentang Pustaka, Yogyakarta

Cetakan           : Pertama, Mei 2018

Tebal               : x + 190 Halaman

ISBN               : 978-602-426-098-9

 

Terlahir dari seorang ibu berkebangsaan Prancis dan ayah dari Indonesia membuat Sarah Diorita mengenyam banyak pengalaman dari dua budaya. Meskipun lebih banyak menghabiskan waktu di Indonesia, Sarah mengaku besar dengan asupan selaras dari dua budaya yang berbeda.

Kamus Rasa Sarah Diorita adalah buku yang merangkum banyak pengalaman Sarah sejak kecil, hingga kini menjadi seorang ibu rumah tangga. Pengalaman-pengalamannya, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan, dia tuturkan dalam buku yang akan memperkaya pengalaman pembaca. Tak hanya tentang kehidupan pribadi, pengalaman berinteraksi dengan orang lain juga dikisahkan dengan penuh rasa dan kaya makna.

Sarah mengaku, bahwa dia tak bisa melupakan akar budaya yang memupuknya menjadi sosok yang sabar dan ulet dalam menghadapi hidup sehari-hari. Misal, ketika di Prancis, dia dihadapkan dengan kehidupan yang jelas sangat berbeda dengan di Indonesia. Begitu juga ketika dia “pulang” ke Indonesia, kehidupan di Tanah Air juga sangat berbeda dengan Prancis. Namun, itulah akar budaya Sarah, yang banyak menyumbang pada kepribadiannya hingga kini. Akar budaya itu juga yang membentuk cara berpikirnya.

Selama di Indonesia, Sarah begitu bersemangat menikmati masakan Indonesia. Karena itu, hampir setiap hari dia selalu memenuhi kebutuhan-kebutuhan sehari-harinya di super market. Sesuatu yang begitu praktis, apalagi di tengah kesibukan orang-orang seperti saat ini. Namun, Sarah berpikir bahwa dia juga perlu memperhatikan nilai gizi serta kesehatan dalam makanan yang dikonsumsi keluarga. Akhirnya, dia berinisiatif untuk berbelanja produk teman-teman yang dikenalnya, sehingga dia bisa lebih yakin bahwa makanan yang dibeli dan dikonsumsinya tidak terkontaminasi dengan barang-barang pabrikan  atau makanan yang banyak mengandung bahan kimia (hlm. 7).

Hal ini juga membuat Sarah begitu peduli dengan kebersihan lingkungan, dengan cara membiasakan diri membawa kantong plastik sendiri saat berbelanja kebutuhan sehari-hari. Meskipun hal itu masih belum lumrah, terutama di Indonesia, paling tidak Sarah sudah berusaha menjaga lingkungan dengan tidak menambah sampah plastik yang selama ini banyak berasal dari kantong-kantong belanja.

Ada banyak pengalaman hidup yang Sarah kisahkan dalam buku 190 halaman ini. Pembaca diajak merenungi berbagai hal tentang makna berbagi, silaturahim antar sesama teman dan tetangga, hingga bagaimana memupuk kepedulian di saat orang lain tertimpa musibah (Gempa, hlm. 49).

*) Untung Wahyudi, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *