fbpx

Memberi Kepercayaan pada Anak

Memberi Kepercayaan pada Anak

Beberapa kali dalam pengajarannya, Montessori selalu menekankan pada kita untuk memberi kepercayaan pada anak. Mengapa perlu demikian? Mungkin karena pemikiran kita anak masih sangat kecil, lemah, dan belum banyak tahu sehingga rasanya kita perlu membantu mereka terus-menerus. Kita juga tidak memahami apa yang sebenarnya bisa mereka lakukan. Padahal, kita perlu memberi mereka kepercayaan bahwa mereka bisa melakukan banyak hal.

 

Baca juga: Kecakapan Komunikasi Sebagai Potensi Anak

 

Insting Anak untuk Bekerja

Sebagian dari kita pasti tidak tahu bahwa anak memiliki insting untuk bekerja. Montessori merasa bahwa orang dewasa tidak siap mengakui dan menerima bahwa anak kecil memiliki hasrat untuk bekerja. Oleh sebab itu, ketika keinginan anak ini muncul, orang dewasa tidak hanya heran tetapi juga melarang anak untuk mengekspresikannya.

Menurut Montessori, orang dewasa harus belajar mengenai insting bekerja yang dimiliki anak dan membantu mereka untuk menyalurkannya. Meskipun kegiatan dan pekerjaan anak adalah bermain, kita sebagai orang dewasa tidak bisa terus-menerus memaksa mereka untuk bermain. Kadangkala, mereka memilih untuk bekerja atau membantu kita.

Pada saat-saat seperti inilah kita perlu memerhatikan anak dan apa yang mereka inginkan. Kebanyakan orang dewasa bukannya memberi anak kesempatan untuk meraih capaian bermakna, tetapi justru menyuguhi anak-anak dengan berbagai macam mainan.

 

Anak dan Mainan

            Saat kita memberikan banyak sekali mainan kepada anak, apa yang sebenarnya kita inginkan? Barangkali kita memberikan mereka begitu banyak mainan dengan harapan barang-barang itu akan menyibukkan mereka sehingga tidak mengganggu kita. Tanpa disadari, kita menjadi tidak percaya pada anak bahwa mereka bisa bekerja sendiri tanpa perlu terus-terusan kita awasi.

Memberi kepercayaan pada anak bahwa mereka bisa beraktivitas sendiri dan tidak membuat kita khawatir perlu kita lakukan sejak dini. Menurut Montessori, kita tidak perlu terus-terusan memberikan mainan pada anak karena mainan bisa menjadi sumber frustasi bagi anak dan dia cepat bosan akan mainan tersebut. Membiarkan anak mengeksplorasi hal-hal di sekitarnya dan memberi kepercayaan pada mereka bahwa mereka akan baik-baik saja akan menumbuhkan kepercayaan diri pada mereka pula.

Kita juga seringkali memilih untuk menyibukkan mereka dengan mainan daripada melibatkannya dalam kehidupan sehari-hari di sekelilingnya. Menurut Montessori, penyebabnya adalah orang dewasa menyadari bahwa demi mengakomodasi anak, dia harus berkorban, padahal orang dewasa terlampau sibuk mengejar capaian sendiri sehingga tidak mau berkorban seperti itu.

Mari mulai melibatkan anak dalam kegiatan sehari-hari dan mengurangi kontak mereka dengan mainan. Beri mereka kepercayaan bahwa tanpa mainan pun mereka bisa mengeksplor banyak hal dan tidak membuat kita khawatir berlebihan.

 

 

Memberikan kepercayaan pada anak sejak dini akan membuat mereka memiliki kepercayaan diri serta bisa menggali potensi mereka secara bersamaan. Hal ini karena anak-anak kita biarkan mengeksplorasi diri dan lingkungan mereka secara mandiri. Melalui buku Montessori: Seni Menggali Potensi Anak Sejak Dini, Paula Polk Lillard ingin berbagi ilmu cara menggali potensi anak ala Montessori. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan tentu saja menyimpan banyak tips yang bisa kita praktikkan terkait menggali potensi anak. Dapatkan buku ini segera di linktr.ee/Bentang.

Periode sensitif anak

Menyelami Dunia Anak Melalui Periode Sensitif

Ketika kita membicarakan anak-anak, kita tidak asing lagi dengan kata periode sensitif. Ada beberapa orang sudah memahami apa itu periode sensitif anak, tetapi ada pula yang bahkan belum pernah mendengar hal tersebut. Barangkali, dalam benak orang-orang yang belum memahami kata ini, hal itu hanyalah ketertarikan sementara anak akan sesuatu.

Namun, periode sensitif lebih dari sekadar ketertarikan sementara anak akan sesuatu. Melalui periode sensitif, kepribadian dan minat bakat anak terbentuk. Melalui buku Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang Terlupakan, kita akan memahami periode sensitif menurut sudut pandang Maria Montessori.

 

Baca juga: Makna Perilaku Anak yang Perlu Kita Ketahui

 

Kepekaan Anak Terhadap Keteraturan

Ada berapa orang tua di dunia yang memahami kalau anak ternyata memiliki kepekaan dan bahkan menyukai keteraturan? Barangkali, sikap anak di mata kita yang suka membuat rumah menjadi berantakan membuat kita berpikir kalau anak-anak itu rusuh. Namun, Montessori memandang bahwa sifat khas bayi yang masih sangat kecil adalah kegemarannya akan keteraturan. Bayi yang masih berusia 1,5 atau 2 tahun dengan jelas menunjukkan kebutuhan mereka akan keteraturan di sekelilingnya.

Kegemaran anak terhadap keteraturan tidak sama dengan orang dewasa. Orang dewasa mungkin bisa mengatakan kalau mereka menyukai rumahnya yang selalu rapi. Berbeda dengan bayi, mereka tidak menyukai ketidakteraturan dan cenderung membuatnya cemas jika menghadapi situasi tersebut. Ia akan mengekspresikannya melalui tangisan atau kegelisahan.

Keteraturan disini misalnya ketika anak yang selalu berada di rumah, lalu suatu hari kita membawa mereka pergi jauh. Ketika di perjalanan, mereka tentu rewel. Tidak hanya merasa lelah karena harus berada di perjalanan, anak-anak juga menyadari bahwa mereka tidak berada di lingkungan yang biasanya, dan kegiatan mereka juga jadi berubah.

 

 

Ketika anak menginjak usia periode sensitif, mereka akan cenderung berkonsentrasi terhadap sesuatu yang ada di depannya. Ia menyukai hal-hal kecil yang sering luput dari pandangan kita. Misalnya, ketika membaca buku cerita, ia malah fokus pada gambar-gambar kecil seperti kelinci atau kucing. Ketika anak sedang berkonsentrasi, jangan sampai kita mengganggu mereka. Berbeda halnya ketika kita harus membantu mereka.

Dalam pengasuhan anak ala Montessori, kita bisa membantu anak sesedikit mungkin, tergantung pada kebutuhannya. Melalui periode sensitif, kita bisa memahami perilaku dan sikap anak sejak dini. Kita bisa memahami hal-hal apa saja yang membuatnya tertarik. Selain itu, kita bisa memahami bagaimana sikap mereka dalam menanggapi sesuatu.

Buku Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang Terlupakan adalah buku yang ditulis langsung oleh Maria Montessori dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Melalui buku ini, kita bisa memahami dunia anak yang penuh dengan rahasia dan keajaiban yang tidak pernah kita pikirkan. Kita mampu menyelami dunia dan pemikiran anak dengan berusaha memahami mereka sejak dini. Buku ini bisa didapatkan melalui linktr.ee/Bentang.

Tentang Bayi

Hal-Hal yang Perlu Kita Ketahui Tentang Bayi

Apa yang kita ketahui tentang bayi? Apa yang kita pikirkan? Bayi yang lucu, menggemaskan, dan rentan? Tentu banyak persepsi kita tentang bayi. Ada pula yang menganggap bayi itu sangat rewel dan merepotkan. Dalam buku The Montessori Baby dalam versi Indonesia yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka, Simone Davis menjelaskan beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang bayi.

 

Baca juga: Kecakapan Komunikasi Sebagai Potensi Anak

 

Empat Fakta Menarik Tentang Bayi

Hal pertama yang perlu kamu ketahui terkait bayi adalah bahwa mereka menyerap segalanya. Bayi sudah bisa menyerap informasi visual sebanyak yang ia bisa. Bayi juga menyerap bau, ruang di sekelilingnya, dan sentuhan di tubuhnya. Mereka juga mendengar aneka bunyi di sekitarnya dan bisa mengecap jarinya sendiri dan apa saja yang masuk ke dalam mulutnya. Kedua, bayi bisa diajak untuk bercakap-cakap. Tapi, bukan artinya kita hanya sekadar berbicara satu arah kepada bayi. Kita bisa mengajak mereka untuk berbicara dan menunggu tanggapannya, misalnya ketika ia mencoba membuka mulut atau ia menyentuh tangan kita.

Bayi juga perlu waktu untuk bergerak dan menjelajah. Mereka perlu waktu untuk berbaring di lantai yang dialasi dan meregangkan seluruh tubuhnya. Kita bisa mendukung bayi dengan cara memberinya bantuan sesedikit mungkin dan sebanyak yang diperlukan. Tentu bayi juga perlu diperlakukan lembut, bukan? Tapi, bukan berarti bayi rapuh. Kita perlu peka terhadap peralihan bayi dari rahin ke dunia luar dan memegang bayi secara lembut dan hati-hati. Namun, kita tidak perlu membungkus mereka sangat rapat dan malah justru mengungkungnya. Tangan, kaki, dan kepala boleh tidak tertutup asalkan hangat supaya bayi bisa bergerak bebas.

Selanjutnya, bayi juga sedang membangun kepercayaannya terhadap lingkungan, pengasuhnya, dan diri sendiri. Selama sembilan bulan pertama, mereka masih menyesuaikan diri di lingkungan baru. Mereka juga sedang membangun kepercayaan terhadap lingkungan dan dirinya sendiri, serta belajar bagaimana mengandalkan orang tuanya.

Pada tahun pertama, bayi beranjak dari ketergantungan, lalu ke kolaborasi dan ke kemandirian. Saat baru lahir, bayi mengandalkan kita untuk memperoleh pangan, papan, sandang, dan termasuk membersihkan tubuhnya atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Semakin ia besar, kita perlu membiarkan dia untuk turut berpartisipasi, misalnya mengangkat lengan saat memakaikannya baju. Perlahan, ia juga akan belajar untuk mandiri.

 

Tiga Hal Tentang Bayi yang Tidak Pernah Kita Pikirkan

Bayi berkembang secara sehat jika ada kelekatan aman atau secure attachment. Yang dimaksudkan dengan secure attachment adalah jika kebutuhan akan kedekatan dan makanan biasanya dipenuhi secara konsisten semasa bayi. Kelekatan menciptakan hubungan emosional yang mendalam antara bayi dengan pengasuh utama. Selanjutnya, ketika kita melihat bayi yang menangis, pernahkah kita bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin ia katakan? Bayi yang menangis sebenarnya sedang berusaha mengomunikasikan kebutuhannya. Ketika kita tidak tahu apa yang ingin ia katakan, kita perlu berkomunikasi dan mencermati apa yang hendak mereka sampaikan pada kita.

Hal berikutnya adalah bahwa bayi tidak membutuhkan banyak barang. Dalam pengasuhan bayi, ada sebuah prinsip yang perlu diingat bahwa lebih sedikit lebih baik. Bayi memerlukan pelukan penuh kasih, tempat meregangkan tubuh, tempat untuk tidur, nutrisi yang cukup, dan rumah hangat dan nyaman untuk dijelajahi. Selain itu, mereka juga meraih kepercayaan diri berkat dari titik-titik acuan. Titik-titik acuan adalah macam-macam di kehidupan sehari-hari yang digunakan bayi untuk mengorientasikan diri. Hal ini bisa jadi adalah tangan bayi sendiri, suara kita, tempat bayi diberi makan, dan ritme harian.

Hal terakhir yang perlu kita ketahui bahwa bayi mengetahui banyak hal yang tidak kita ketahui. Ketika kita memandang mereka, banyak misteri yang menanti untuk dikuak. Seolah bayi mengatakan, “jika kamu ingin tahu tentang aku, perhatikan aku.” Mengamati bayi adalah salah satu cara untuk menghormatinya.

 

Banyak hal yang ternyata belum kita ketahui tentang bayi. Namun, melalui buku The Montessori Baby, kamu bisa mendapatkan pengetahuan baru tentang bayi dan cara pengasuhannya. Melalui buku ini, kamu bisa memahami dunia bayi dan bagaimana sebenarnya bayi ingin diperlakukan dan seperti apa kita harus memandang bayi. Buku The Montessori Baby akan mulai prapesan tanggal 6 hingga 22 Mei 2021.