fbpx
Bermain Air

Bermain Air di Toilet, Bolehkah?

Bermain Air

Ketika anak kita biarkan mandi sendiri, kita malah jadi khawatir jika mereka ternyata bermain air. Dan, benar saja. Ketika anak lama di dalam kamar mandi dan kita intip, ternyata mereka sedang asyik dengan air. Banyak sekali yang mereka imajinasikan. Entah sedang merasa berada di kolam renang atau pantai, atau hal lainnya. Kita jadi khawatir jika anak jadi demam dan sakit karena terlalu lama bermain air. Tapi, sebenarnya boleh atau tidak, sih?

Saat anak berada di dalam toilet, bisa jadi banyak hal yang mereka bayangkan dan kita tentu tidak bisa melarang mereka untuk mengeksplor imajinasi. Namun, kita juga perlu sedikit memberi batasan kepada mereka perihal bermain air di toilet. Bagaimana caranya?

 

Baca juga: Mengajak Anak Membersihkan Toilet Umum

 

Mengingatkan, Bukan Melarang untuk Bermain Air

Saat anak bermain di dalam toilet dan kita rasa sudah terlalu lama, maka kita perlu mengingatkan bahwa mereka sudah terlalu lama berada di toilet. Katakan dengan lembut bahwa jika terlalu lama dan terus-menerus, mereka bisa sakit. Satu hal yang perlu kita hindari adalah melarang mereka dengan cara yang kasar. Sering kali, kita tidak menyadari hal ini. Entah kita memarahi atau membentak anak.

Tidak salah jika anak bermain di toilet, tetapi katakan pula bahwa bermain juga ada waktunya. Bermain air memang menyenangkan, tetapi kita perlu mengontrol diri agar tidak terlalu lama. Beri tahu mereka juga apa saja dampak yang bisa terjadi jika terlalu lama bermain air. Kita perlu mengingatkan mereka kapan dan berapa lama bagi anak untuk berada di toilet.

 

Boleh, Asal Tidak Berlebihan

Bermain air memang menyenangkan, bukan? Tetapi, bermain air juga ada batasannya, lho! Kita sebagai orang tua bisa memberi batasan kepada anak. Misalnya, berapa lama waktu yang boleh mereka habiskan untuk berada di toilet. Jika sudah waktunya, kita bisa mengingatkan mereka secara halus. Katakan bahwa jam bermain sudah habis dan kini saatnya untuk keluar dari toilet.

Hal ini bisa membuat anak senang dan juga bisa membangun kedisiplinan dalam diri anak. Mereka jadi tahu kapan harus bersenang-senang, kapan menyelesaikannya, dan kapan harus belajar. Hal-hal sederhana seperti ini bisa mulai kita terapkan sejak dini. Anak tidak akan memberontak jika kita pun sudah bersepakat dengan mereka. Untuk itu, kita perlu bernegosiasi dengan anak kapan mereka bisa bermain air.

 

Bermain air tidak selalu buruk. Banyak manfaat yang bisa dirasakan. Bagi anak, hal tersebut adalah sesuatu yang menyenangkan, selain itu mereka juga bisa mengeksplor banyak hal yang hanya mereka dapatkan. Kita, sebagai orang tua bisa memulai pendisiplinan kepada anak dengan cara yang menyenangkan dan tidak mengganggu anak. Selain itu, banyak hal yang bisa kita ajarkan kepada anak mengenai toilet.

cican-bisa-ke-toilet-sendiriMelalui buku Cican Bisa ke Toilet Sendiri karya Wahyu Aditya, kita akan belajar bagaimana toilet dimanfaatkan oleh Cican untuk buang air dan sekaligus mengajak anak untuk mulai bisa ke toilet sendiri tanpa perlu kita antar. Buku ini bisa didapatkan di sini atau di toko buku kesayanganmu.

Pengasuhan yang Dibutuhkan Anak

Pengasuhan yang Dibutuhkan Anak

Sering kali ketika kita melihat anak yang tantrum, kita jadi berpikir, “pengasuhan seperti apa yang dibutuhkan anak?” Kita mencari berbagai cara, mempelajari berbagai metode pengasuhan, bahkan mengikuti seminar-seminar tentang pengasuhan anak. Terkadang kita juga tidak memberikan bantuan kepada anak sehingga kita tidak bisa memahami dunia mereka lebih dalam. Lantas, pengasuhan seperti apa yang dibutuhkan anak?

 

Baca juga: Sifat Anak yang Tersembunyi

 

Anak Butuh Sarana

Tugas kita sebagai orang dewasa bukanlah membantu anak membentuk diri mereka, karena hal tersebut adalah tugas alam. Tetapi, sebagai orang dewasa kita bisa memberikan sarana untuk manifestasinya. Kita bisa menyediakan bermacam-macam hal yang dibutuhkan anak untuk pembentukan diri mereka.

Selain itu, kita juga perlu menyediakan lingkungan yang memadai untuk embrio psikis. Karena tugas kita hanyalah menyediakan sarana kepada anak, kita tidak perlu menginterupsi perkembangan anak dengan bermacam-macam bantuan. Kita bisa membiarkan anak untuk berkembang secara mandiri bersamaan dengan alam.

 

Anak Butuh Dorongan Psikis

Selain anak membutuhkan sarana, mereka juga butuh untuk membuktikan eksistensi kehidupan psikis mereka. Kita sebagai orang dewasa berperan untuk mendorong mereka melakukan gerakan-gerakan secara sadar. Ketika kita melihat anak sedang bergerak, kita juga perlu menyadari bahwa anak juga sedang mengutarakan perasaan mereka.

Ketika anak bergerak dari perasaan mereka atau bergerak karena menginginkan sesuatu, maka kita bisa memberikan lagi dorongan psikis pada mereka dengan cara membantu mereka menggerakkan tubuh dan mengekspresikan keinginan mereka. Kehidupan psikis anak terutama balita mesti diamati dengan cermat. Kita mesti memulai dari masa ketika indra anak mulai menangkap dan mengumpulkan impresi sadar mengenai dunia luar.

 

Kemampuan Pengamatan Kita

Ketika ingin membantu anak dalam pengasuhan, kita sebenarnya tidak memerlukan kemampuan pengamatan yang luar biasa. Kita juga tidak perlu mampu untuk menafsirkan hasil dari pengamatan. Kita cukup memiliki kemauan untuk membantu pikiran anak yang tersembunyi. Selanjutnya, kita hanya perlu mengikuti anak.

Maria Montessori juga menuliskan bahwa pengasuhan yang diperlukan oleh anak sebenarnya sederhana sekaligus praktis. Contohnya seperti ini. Kebanyakan dari kita meyakini bahwa bayi tidak bisa duduk tegak sehingga mereka harus selalu berbaring mendatar. Karena anggapan ini, hubungan indrawi pertama antara bayi dengan lingkungan adalah langit, bukan daratan atau bumi. Dengan demikian, bayi tetap membutuhkan penglihatan sebagai impresi pertama mereka.

 

 

Banyak hal yang tidak pernah kita ketahui tentang dunia anak. Seolah mereka hanyalah manusia yang lemah dan tidak mengetahui banyak hal, padahal sebenarnya banyak yang tersembunyi pada pikiran mereka. Pengasuhan anak tidaklah bertele-tele. Mereka hanya membutuhkan sesuatu yang sederhana dan kita sebagai orang dewasa juga hanya menyediakan hal-hal di atas. Singkatnya, kita hanya menyediakan fasilitas dan dorongan psikis kepada anak, serta kita perlu mengamati mereka.

Melalui pengamatan, kita bisa memahami dunia anak dengan baik. Kita bisa memahami apa yang mereka lakukan, mengapa mereka melakukan gerakan tersebut, dan bahkan kita bisa berkomunikasi dengan mereka meskipun mereka belum bisa bicara. Dengan demikian, kita saling mengerti satu sama lain dan membentuk bonding yang baik dengan anak.

Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang TerlupakanDalam buku Maria Montessori berjudul Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang Terlupakan, banyak diulas mengenai dunia anak dan bagaimana kita bisa memahami anak melalui kacamata mereka. Buku ini bisa didapatkan sekarang melalui linktr.ee/Bentang atau dapatkan di toko buku kesayanganmu.

Metode Montessori

Penerapan Praktis Metode Montessori dalam Pendidikan

Metode Montessori selalu menjadi pilihan bagi orang tua maupun guru dalam penerapan pengasuhan anak. Montessori memang bisa memberikan kontribusi penting pada dunia pendidikan, baik untuk anak-anak kelas menengah maupun kelas bawah. Dalam penerapan metode Montessori di ranah pendidikan, terdapat dua hal yang perlu dibahas. Pertama, yaitu ketersediaan guru dan kedua adalah persoalan biaya. Kedua hal ini kemudian akan dibandingkan dengan sistem pendidikan lainnya.

 

Baca juga: Memberi Kepercayaan pada Anak

 

Ketersediaan Guru Montessori

Ketika kita membahas guru, ada dua pendekatan yang bisa dilakukan, yaitu melatih guru baru atau memberikan pelatihan untuk guru yang sudah berpengalaman. Namun, kedua pendekatan ini memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing. Hal paling efektif yang bisa dilakukan adalah perpaduan keduanya. Guru baru yang tidak perlu meninggalkan kebiasaan lama mungkin akan lebih siap menerima dan lebih cakap dalam menjalankan filosofi dan praktik Montessori.

Guru-guru yang sudah berpengalaman perlu diyakinkan terlebih dahulu bahwa pendidikan Montessori memang merupakan pendekatan mengajar yang lebih baik ketimbang pendekatan yang telah mereka kenal. Setelahnya, barulah guru yang sudah berpengalaman diberikan pelatihan Montessori.

Di sisi lain, kita perlu melihat keadaan guru saat ini. Mereka digaji dalam jumlah yang sedikit, dibebani banyak tanggung jawab, dan tidak dihargai. Selain itu, mereka juga berada dalam posisi yang sangat melelahkan, yaitu harus mengontrol dan mendominasi anak-anak. Akibatnya, para guru menjadi patah semangat karena mustahil bagi mereka bisa memenuhi tuntutan tersebut. Tuntutan ini membuat mereka harus menggiring, mendorong, dan menarik perhatian seluruh murid sebagai satu kesatuan.

Guru yang telah berpengalaman barangkali menyambut baik kesempatan untuk mendalami pendekatan mengajar baru yang akan membebaskannya dari beban tersebut. Hal ini disebabkan pada hasil observasi bahwa guru-guru yang pernah melihat praktik metode Montessori memang tertarik pada teknik dan bahan ajar Montessori yang dinilai efektif.

 

Biaya Pendidikan Montessori

Kebanyakan orang menganggap bahwa dalam penerapan praktik Montessori membutuhkan biaya operasional lebih tinggi daripada pendekatan-pendekatan pendidikan yang lain. Anggapan ini muncul karena beberapa alasan. Pertama, sekolah Montessori umumnya adalah lembaga pendidikan usia dini. Guru-guru Montessori kebanyakan memiliki latar belakang pendidikan yang setara dengan guru SD dan bekerja sehari penuh. Oleh sebab itu, mereka mendapat gaji lebih tinggi dibandingkan guru TK.

Kedua, kelas Montessori mengharuskan adanya sistem asisten guru sehingga hal ini menambah komponen biaya operasional. Ketiga, aparatus Montessori menarik dan didesain dengan gaya modern sehingga terkesan lebih mahal dari yang sebenarnya. Harga satu set aparatus untuk tiga puluh anak hampir setara biaya yang dibutuhkan oleh tempat penitipan anak yang menyediakan wahana bermain anak. Perbedaannya, peralatan Montessori tidak perlu sering diganti dan diperbaiki karena kualitasnya bagus dan anak-anak diajari untuk menggunakan dengan baik.

 

 

Dalam kelas Montessori, penentu bahwa kelas tersebut efektif dan sesuai dengan filosofi adalah sikap guru terhadap anak-anak dan dirinya sendiri. Selain sikap seperti itu, guru juga perlu memiliki akses terhadap aparatus-aparatus Montessori. Jika tidak punya, guru bisa mengadaptasi bahan-bahan ajar yang ia punya atau membuatnya sendiri.

Pada praktiknya, metode Montessori yang selama ini kita anggap membutuhkan biaya yang mahal karena guru dan juga aparatus, tidak selalu benar. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan kembali perihal biaya. Selain itu, filosofi dan praktik Montessori efektif diberikan kepada anak, terutama untuk menggali potensi mereka.

Montessori Seni Menggali Potensi Anak Sejak DiniMelalui buku Montessori: Seni Menggali Potensi Anak Sejak Dini yang ditulis oleh Paula Polk Lillard, kita akan mempelajari filosofi dan praktik Montessori yang dapat diterapkan orang tua atau guru perihal potensi anak. Pertanyaan kita seputar cara untuk menggali potensi anak tanpa menghalangi langkah mereka akan dikupas habis dalam buku ini. Dapatkan sekarang melalui linktr.ee/Bentang atau dapatkan di toko-toko buku kesayanganmu.