Nagisa Tatsumi: Seni Membuang Barang dan Seni Menjalani Kehidupan

Nagisa Tatsumi membeberkan semua seni membuang barang dan seni menjalani kehidupan dalam buku terbarunya, Suteru! Gijutsu. Setelah kita mengetahui apa itu Suteru! Gijutsu, sekarang saatnya kita membahas salah satu isian yang ada di dalam buku terkait seni dalam menyikapi barang-barang yang kita miliki.

Pernah berpikir tidak, jika kita mengoleksi barang-barang dan menimbunnya dengan ketidakjelasan alasan, lantas untuk apa? Kita semua terlalu dipenuhi dengan sesuatu yang bersifat keinginan, keinginan, dan keinginan, tanpa memperhatikan nilai fungsi juga kegunaan barang tersebut untuk apa urgensinya jika kita memiliki.

Atas dasar permasalahan yang bersifat fundamental tersebut, buku Suteru! Gijutsu menjadi alternatif yang solutif untuk kita semua sebagai bahan penyadaran tentang begitu penting peka terhadap barang-barang yang ada di sekitar kita. Bukannya digeletakkan dan dibiarkan begitu saja, melainkan juga harus ada ketegasan cara kita memperlakukannya.

Mengubah Cara Pikir tentang Barang

Secara umum, menjadikan kesadaran lingkungan sebagai panduan kita dalam menjalani hidup memang bagus. Namun, untuk memecahkan persoalan kebanyakan barang secara spesifik, kita harus mengubah cara kita menyikapi barang-barang itu sendiri.

Banyak di antara kita yang gemar menyimpan barang karena merasa sayang apabila barang-barang tersebut dibuang atau mungkin kelak bisa kita gunakan. Kita mengasumsikan bahwa bagus jika kita menyimpan barang, sedangkan asumsi ini melahirkan kebiasaan mempunyai terlalu banyak barang.

Akan tetapi, sekadar memiliki barang belum tentu bagus. Kita harus mempertimbangkan apakah barang tersebut perlu, apakah barang tersebut dipergunakan. Jika tidak digunakan, barang tersebut harus kita singkirkan. Inilah esensi dari Seni Membuang.

Belum PDKT dengan Suteru! Gijutsu? Sini, kita Mengenal Lebih Dekat dengan Suteru! Gijutsu

Nagisa Tatsumi Mengatakan: Fitrah Manusia untuk Mempunyai Barang

Dari manakah asal muasal hasrat kita untuk mempunyai barang?

Perihal makanan, jawabannya mudah. Beserta seks dan tidur, makan merupakan perbuatan mendasar yang memuaskan dan dibutuhkan individu. Namun, hasrat kita untuk memiliki barang selain makanan sepertinya terkait dengan aktualisasi diri kita. Harta benda bukanlah objek material belaka. Begitu kita memiliki suatu barang, barang tersebut menjadi bagian dari diri kita.

Demikianlah logika fundamental dalam masyarakat konsumeristis—perasaan bahwa aktualisasi diri dicapai dengan memperoleh barang-barang yang kita inginkan. Dan, jika kita kehilangan sesuatu yang telah kita dapatkan, kita merasa pedih karena kehilangan bagian dari diri yang telah kita bangun.

Ketika masih kanak-kanak, keinginan memiliki juga sudah muncul. Tanda-tanda tersebut muncul dalam diri seorang balita dalm bentuk ingin memonopoli mainannya dan tidak mengizinkan anak-anak lain menyentuh mainan itu. Belakangan, ketika kesadarannya akan orang lain mulai terbentuk, barulah dia rela bermain dengan teman atau berbagi dengan adik.

Nagisa Tatsumi dalam bukunya menuliskan, impuls balita tersebut masih tersimpan dalam diri kita semasa dewasa, sekalipun tersembunyi di balik topeng rasionalitas. Impuls tersebut mendorong kita untuk menimbun barang yang kita peroleh dan tecermin ketika menyingkirkan barang lama untuk diganti dengan barang yang baru kita beli.

Perilaku tersebut terkesan sudah fitrah. Meskipun begitu, semua orang entah kenapa beranggapan bahwa nafsu meraup barang justru sangat tidak wajar—perasaan jengah yang terejawantahkan menjadi minat terhadap persoalan lingkungan dan gaya hidup ekonomis.

Nantikan segera buku Suteru! Gijutsu ini terjun di pasaran dengan mengikuti masa pre-order-nya dahulu pada tanggal 7 – 27 September 2020 di Bentang Pustaka.

 

Anggit Pamungkas Adiputra.

3 replies

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] dulu. Apa benar barang-barang yang katanya praktis itu benar-benar kita butuhkan saat ini? Menurut Nagisa Tatsumi, pakar membuang barang dan berbenah dari Jepang, sebagian barang praktis memang bermanfaat namun […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *