fbpx

Meski Pandemi, Para Penulis Optimistis Berkarya Lewat Digital

Minggu 03 Januari 2021 | 18:46 WIB
Laporan: Tisa

Indonesiaglobe co, JAKARTA – Pandemi COVID-19 yang membatasi pergerakan umat manusia, tak lantas membuat pelaku industri kreatif berhenti untuk berkarya, Minggu (03/01/2021).

Sejumlah penulis yang merupakan pelaku industri kreatif tanah air, menunjukkan optimisme mereka untuk tetap berkarya meski terkendala keterbatasan di situasi saat ini.

Penulis Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) Marchella FP mengungkapkan, sebenarnya sebelum pandemi virus korona, dirinya sudah menyusun jadwal rencana karya jangka panjang.

“Banyak sih, rencana karya sampai tahun 2025. Mudah-mudahan panjang umur,” kata wanita yang akrab disapa Cecel ini melalui tanya-jawab interaktif di akun media sosialnya, baru-baru ini.

Bahkan, di masa awal pandemi melanda Indonesia, Cecel menerbitkan buku dalam format digital bekerja sama dengan  Kitabisa.com dengan judul Tidak Ada yang Kemana-mana Hari Ini (TAYKHI).

Buku yang sekaligus dimanfaatkannya untuk penggalangan dana bagi yang membutuhkan di masa pandemi ini pun mendapatkan sambutan baik dari para pembaca.

Rencananya, edisi cetak TAYKHI bakal diterbitkannya pada tahun ini. Namun ia mengaku galau akan terlebih dahulu menerbitkan TAYKHI atau ide buku lain yang berjudul Pura-Pura Bukan Manusia (PPBM).

“Terbitkan yang mana dulu ya di 2021, TAYKHI atau PPBM?” tulis Cecel dalam fitur polling di Instagram.

Hasil polling akhir, menunjukkan lebih dari 50 persen warganet yang menjadi pembaca karya Marchella lebih memilih TAYKHI.

“Rencana karya lainnya ada Nasib Rakyat Menengah, Lebih Dari Sekadar, dan Tidur Setelah Isya,” pungkasnya tanpa memberikan petunjuk lebih lanjut tentang tema karya-karyanya ini.

Utang Ide

Penulis lainnya yang juga mengungkapkan rencana berkaryanya di tahun ini adalah Dewi “Dee” Lestari. Hal ini disampaikannya melalui unggahan akun Instagram pribadinya, Sabtu (02/01/2021).

Adapun karya yang rencananya bakal Dee terbitkan tahun ini adalah ide yang sudah lama ingin digarapnya sejak 27 tahun silam.

“27 tahun saya berutang pada satu naskah. Naskah terlama, upaya pertama saya menulis novel saat masih remaja yang kemudian terbengkalai,” tutur personel trio RSD ini.

Ia mengakui, karya itu tak selesai selama 27 tahun, sekaligus menjadi utang terbesarnya pada alam ide.

“Setelah tersalip sekian belas naskah dan ide cerita lain, akhirnya ia mendapat giliran bersuara. Utang itu kini lunas,” lanjut potongan video pendek yang diunggah di akun Instagram dengan narasi suaranya.

Dengan langkah tegap, senyum hangat, dan tangan terentang, Dee mengatakan karya barunya ini akhirnya siap menjumpai pembacanya.

“Januari 2021. Selamat menikmati semesta Rapijali. Sesaat lagi,” ucapnya.

Adapun Rapijali ini, rencananya bakal menjadi karya Dee selanjutnya yang bakal dirilis secara digital terlebih dahulu seperti buku sebelumnya, Aroma Karsa.

So, yes, we hear you! RAPIJALI akan hadir dalam format cerbung digital! Kali ini bersama Storial.co, kami akan menghadirkan pengalaman membaca terseru yang beneran nggak boleh dilewatkan!” imbuhnya.

Adaptasi Berkarya

Raiy Ichwana, penulis muda yang telah melahirkan dua novel rencananya juga akan merilis buku dalam format digital tahun ini.

Adapun rencana karya barunya ini sudah diungkapkannya melalui unggahan akun Instagram pribadinya pada Desember lalu.

“Mendadak menyapa alam pakai masker karena mendadak bikin karya baru,” tulis Raiy dalam unggahannya ini.

Ia mengungkapkan buku yang bakal dirilis dalam platform digital ini berjudul Jalan Buat Napas. Kisahnya, seputar perjuangan dan sisi lain adaptasi manusia untuk berbisnis di masa pandemi.

Berbeda dengan novel Senggang dan Gama yang merupakan fiksi, karya kali ini merupakan kisah nyata yang bakal dituangkannya dalam gaya tulisan pop, sekaligus ilmiah.

“Kalian bakal ketemu sama cerita si Ijal dan ibunya, Bu Asih dan Pak Sukri,” ucap penulis berzodiak Gemini ini.

Namun, ia tak mengungkapkan kapan Jalan Buat Napas bakal dirilis secara digital lewat salah satu platform buku virtual.

Idenya untuk merilis karya secara digital karena melihat kondisi pandemi yang harus dihadapi dengan adaptasi dalam berkreasi.

“Karya nggak akan berkembang kalau kita nggak bisa beradaptasi dalam berkarya. Siapa yang kuat, dia yang bertahan, kata Charles Darwin begitu kan,” pungkasnya. (TS)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta