Menyulap Kamar Sempit agar Memancarkan Kebahagiaan

Memiliki kamar sempit memang menjadi tantangan tersendiri. Terlebih jika kamar tersebut merupakan kamar kos, tempat semua kebutuhan harian disimpan. Mulai dari lemari, meja kerja atau meja belajar, kasur, tempat penyimpanan barang, rak sepatu, tempat cucian, dan lain sebagainya. Jika tidak pandai melakukan penataan, sudah pasti kamar akan terasa semakin sumpek dan semakin sempit.

Padahal ruangan yang nyaman sangat berpengaruh terhadap kebahagiaan penghuninya. Jika kamar tertata dengan rapi dan terlihat sedikit lapang, perasaan nyaman akan muncul. Sisi positif lainnya, jika tengah mengalami hari yang melelahkan, beristirahat di kamar yang nyaman akan menyembuhkan fisik dan mental kita. Berikut ini beberapa tips yang bisa dicoba untuk menyulap kamar sempit menjadi kamar yang menyenangkan.

 

Kamar sempit bisa terlihat luas dengan pilihan cat yang tepat

Cat dengan warna terang dipercaya bisa membuat ruangan terlihat lebih lapang. Warna terang juga membantu kamar jadi terasa bercahaya. Terutama jika tidak banyak cahaya matahari yang bisa masuk. Oleh karenanya, pilihlah warna netral seperti putih, krem, atau kuning. Selain cat, warna furnitur juga bisa menjadi pertimbangan. Tak apa jika satu atau dua furnitur memiliki warna mencolok. Namun jika bisa, furnitur lain memiliki warna yang masih satu palet warna dengan cat dinding.

Selain pilihan cat, jika memiliki dana lebih, bisa juga untuk memesan perabot multifungsi. Seperti dipan tempat tidur yang bagian bawahnya bisa digunakan sebagai tempat penyimpanan. Atau meja belajar yang bisa dilipat.

 

Simpanlah barang yang benar-benar bisa dimanfaatkan

Dengan luas yang terbatas, sebisa mungkin kamar kita harus berisi barang yang benar-benar dibutuhkan. Terkadang, kita memang tergoda untuk mengoleksi benda yang unik meski tidak ada kegunaannya. Tidak masalah jika barang tersebut memang ditujukan untuk meningkatkan mood. Namun jika kesenangan kita hanya berhenti pada membeli dan menumpuk, pikirkan ulang apa yang akan terjadi jika barang-barang itu justru memenuhi meja dan lemari.

Nagisa Tatsumi, pencetus Revolusi Berbenah asal Jepang yang menginspirasi Marie Kondo menciptakan Metode Konmari, mengatakan bahwa kita perlu melakukan diet barang. Dalam kesehatan, diet diperlukan supaya tubuh tidak berlebihan menerima asupan makanan yang justru memicu penyakit. Hal yang sama berlaku untuk diet barang. Agar perasaan kita lebih nyaman, cobalah untuk berlatih menyingkirkan barang. Karena cara paling tepat untuk menghargai barang adalah dengan menggunakannya.

Baca juga: Hidup Damai? Buang Barang-Barang Berikut Ini Setelah Dibuka!

Tempat penyimpanan yang penuh bisa memperburuk aura kamar sempit

Hidup Bahagia dengan Membuang Barang

Selain menata kamar, hal penting lain yang wajib dilakukan adalah mengubah kebiasaan menyimpan. Menurut Nagisa, kita perlu tahu kapan waktu yang tepat untuk memutuskan barang di kamar kita harus disingkirkan.

“Jika ada barang yang tak pernah Anda pergunakan, pertimbangkan untuk membuangnya. Pendekatan yang sama dapat diterapkan untuk handuk dan seprai, untuk sepatu yang tidak muat di dalam rak, makanan yang tidak muat di lemari, buku yang tidak muat di rak buku. Begitu Anda memutuskan tempat sebanyak apa yang mesti dialokasikan untuk satu jenis barang, pikir masak-masak sebelum memperluas tempat tersebut.

Mungkin kesannya sepele, tetapi penting agar kita mencermati tempat pensil. Tempat pensil cenderung cepat terisi, padahal kita tentu ingin mengambil dan mengembalikan pulpen dengan mudah. Jadi, begitu kita kerepotan melakukan itu, singkirkan sejumlah pulpen. Kemungkinan besar ada beberapa yang sudah macet, atau alat tulis pemberian orang yang tak pernah kita gunakan. Jangan malah menyimpan satu tempat pensil lagi di dalam laci.”

(Suteru! Gijutsu, hal 99)

Baca juga: Suteru! Gijutsu Kini Hadir di Indonesia

 

Apakah dengan menyingkirkan barang akan menjamin kita bisa hidup bahagia? Ya, tentu saja. Dengan memilah sesuatu yang benar-benar kita butuhkan, kita akan belajar untuk semakin mengenali diri kita sendiri. Karena jika kamar penuh dengan barang, bagaimana mungkin kita memiliki ruang untuk diri sendiri.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *