Menimbun Barang Hanya Akan Mendapat Konflik dengan Orang Sekitar

Menimbun barang atau menyingkirkannya? Apa yang akan kamu lakukan ketika dihadapkan dua pilihan tersebut? Ya, tentu kita masih sangat meraba-raba, akankah barang-barang kita yang dijadikan sebuah tudingan tersebut akan masih digunakan atau berakhir menjadi pajangan belaka?

Boleh jadi, reaksi kita pertama yaitu akan menatap seseorang yang memberikan pertanyaan tersebut, lalu dalam batin kita terdalam menjawab “Siapa Anda, kok berani-beraninya memberikan pertanyaan layaknya pengambilan keputusan sidang akhir dalam ujian?”

Jelas saja, kita tentu berpikiran juga, apakah barang-barang tersebut patut kita pertahankan atau tidak. Masalahnya, tak semua orang berpikir sampai ke sana (baca: bersikap bijak dalam memiliki barang). Beberapa orang–mungkin di antara kalian pula–hanya ingin mengoleksi barang tanpa adanya tanggung jawab yang bersifat jangka panjang.

Menyebabkan Konflik dengan Keluarga

Ketika pertama kali membaca lembar demi lembar naskah dumi dari buku Suteru! Gijutsu ini, mata saya terhenti pada halaman tertentu yang berisikan si penulis, Nagisa Tatsumi, pernah memiliki konflik dengan ibunya sendiri terkait barang-barang yang ada di dalam rumah. Lucunya, konflik tersebut melahirkan ketertarikan awal Nagisa Tatsumi dalam menggencarkan seni membuang barang amatlah penting.

“Ibu tahu. Seharusnya memang begitu”, “Iya, nanti saja ibu buang”. Kurang lebih seperti itu tanggapan ibunya saat Nagisa memberi saran alangkah baiknya barang-barang bekas pernikahan yang sudah tak digunakan dibuang saja. Namun, pemikiran alot dari orang tua zaman dahulu memang tak bisa kita tekan terus-menerus.

Baca Juga: Hidup Damai? Buang Barang-Barang Berikut Ini Setelah Dibuka!

Menimbun Barang dengan Dalih Masih “Sayang”

Menimbun barang dengan niat yang bagaimana pun juga tak ada faedah benar-benar nyata. Kebanyakan dari kita melazimkan fase-fase semacam membeli barang mengoleksi karena suka digunakan atau difungsikan hanya beberapa masa dibiarkan tanpa ada rasa tanggung jawabnya. Lalu, ketika dihadapkan pada pertanyaan awal tadi, kita kebingungan. Sikap seperti apa yang seharusnya diambil tindakan?

Alhasil, barang-barang kita menumpuk di sudut ruangan, petak ubin, dan lambat laun seiring bertambahnya barang-barang sejenis akan berakibat menyempitkan ruang kehidupan kita. Kembali lagi pada keresahan antaranggota keluarga yang kebingungan akan menempatkan barang di mana lagi, berapa banyak ruangan yang perlu ditambah untuk menampung barang-barang tersebut. Sesungguhnya tak ada solusi yang solutif selain menerapkan seni membuang barang dan seni menjalani kehidupan.

Anggit Pamungkas Adiputra.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *