Memijarkan Semangat Melalui Novel di Musim Wabah

Di musim wabah ini, yang demikian menguras energi, terutama pikiran kita akan keselamatan diri dan keluarga, jangan sampai kita terjebak paranoid massal. Salah satu penawarnya, terutama bagi saya, ya membaca karya sastra.

Lantunan kata indah, pulasan kalimat memukai, dalam balutan fiksi, sejenak membawa benak kita pada realitas lain. Pada bayangan lain yang umumnya bercerita keindahan kenyataan, sekaligus di sisi lain menyetuh hati.

Itu pula yang coba ditawarkan novelis asal Belitung, Andrea Hirata, dalam novel ke-10 nya. Dalam 300 lembar lebih halaman buku ini, berfokus pada dua orang: Nuraini binti Syafrudin atau Aini (seorang murid SMA) beserta guru matematika-nya, Desi Istiqomah.

Aini dilakonkan sebagai anak paling bebal dalam pelajaran matematika. Sejak SD, sakit perutnya kambuh jika ada pelajaran tersebut. Kebiasaan yang entah kenapa bisa diturunkan dari ibunya Aini, Dinah, dulu sewaktu masih sekolah. ”Kalau ada pemilihan putri paling tak becus matematika tingkat Provinsi Sumatera Selatan, lekas kudaftarkan kau, Dinah!” kata gurunya tersebut.

Akan tetapi, kisah berubah ketika ayah Aini jatuh sakit dan ia tak naik kelas karena absen 7 bulan untuk menjaga ayahnya. Sang tabib bilang kepada Aini kalau penyakit ayahnya ini hanya bisa disembuhkan pengobatan modern. Sejak itu, Aini ingin menjadi dokter.

Masalahnya, agar jadi dokter, tentu harus menaklukkan matematika agar bisa kuliah di fakultas kedokteran. Untuk itu, sekalipun berhadapan dengan guru super killer, ia harus berhadapan Bu Desi, guru terbaik matematika di Pulau Belantik tersebut.

Seorang guru matematika yang terkenal idealis. “Tanpa idealisme, matematika akan menjadi lembah kematian pendidikan,” kata Bu Guru, selalu, di muka kelas. Selain galak, terkenal esentrik karena hobi baca Novel berbahasa Latin serta punya nazar relatif aneh.

Guru Desi tidak akan pernah mengganti sepatu pemberian ayahnya yang sudah dipakai sejak pertama kali pergi ke tempat terpencil itu, sampai ia menemukan murid yang pintar matematika. Di sinilah cerita guru eksentrik dan murid bebal terjalin menarik.

Akankah Aini berhasil menaklukkan matematika, sekaligus membuatnya masuk Fakultas Kedokteran demi cinta pada ayahnya? Seluruh jawab pertanyaan ini digambarkan Andrea dengan gaya khas tulisannya-nya selama ini: Runtun menggambarkan, penuh kejutan dari sisi plot, diselipi humor cerdas, sesekali ilmiah, dan seluruhnya khas Melayu.

Andrea seolah “sadar” untuk kembali pada kisah andalannya yakni perjuangan merebut mimpi dari segala lemah keterbatasan. Setelah pada novel ke-9, Orang-Orang Biasa, memunculkan kisah konspirasi pembobolan bank oleh amatir yang lucunya bisa berhasil –dan terkait kisah Aini di novel sekarang. Sebuah genre baru, yang sekalipun gayanya tetap khas Melayu, namun bukan masuk kategori “Andrea banget”.

Guru Aini mengobarkan semangat berpijar agar semua kita berani bergerak melampaui keterbatasan. Semuanya mungkin selama tekad tercanangkan dan dijaga betul. Sebuah novel yang menarik dibaca pada periode penuh tantangan dan gejolak pada spirit kita.

Muhammad Sufyan Abdurrahman, Dosen Digital PR FKB Telkom University

*Pernah dipublikasikan di Tribun Jabar 29 Maret 2020

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *