Tentang Penulis:

Feby Indirani adalah penulis sejumlah buku fiksi dan nonfiksi. Buku kumpulan cerpennya, Bukan Perawan Maria (2017) mendapat apresiasi publik internasional karena kritis terhadap dunia Islam—namun penuh humor dan welas asih. Buku tersebut diterbitkan dalam bahasa Italia pada 2019 dan mendapat pujian dari kritikus sastra, media dan pembaca Italia.

Indonesia Tatler menyebutnya sebagai satu dari empat perempuan penulis Indonesia terbaik 2019.   Sejumlah media internasional telah meliput karya Feby antara lain, La Stampa, Elle, The Rolling Stones,  Deutsch Welle (DW) The Australian, BBC, dan CNA Taiwan. Pada 2019, Feby juga telah menjadi pembicara di sejumlah program internasional, seperti Frankfurt Book Fair-Jerman, National Center for Writing-Norwich-Inggris dan InQuiete women writers festival di Roma- Italia.

Pada 2017 –bersamaan dengan peluncuran bukunya—Feby menginisiasi Relax, It’s Just Religion, suatu gerakan yang mengampanyekan kemerdekaan beragama dan berkeyakinan melalui sastra dan seni. Dalam gerakan ini, para seniman yang berbasis di Indonesia dan Jerman berkolaborasi menafsir cerita-cerita dalam Bukan Perawan Maria dan meresponsnya dalam berbagai medium, antara lain, tari, film pendek, seni instalasi, komposisi musik dan teater. Gerakan ini mendapatkan dana hibah bagi perempuan seniman, Cipta Media Ekspresi 2018 dari Ford Foundation dan Wikimedia.

Sinopsis:

“Mungkin bisa ada ratusan Muhammad baru di kelurahan ini saja, Bapak yakin ingin menemukan satu Muhammad?”

“Ada cara untuk membuatnya lebih mudah kah? Katanya ini jaman serba canggih, orang kuno seperti aku tidak mengerti!  Siapa di sini yang bisa menggunakan benda terang bercahaya itu, yang bisa memberikan jawaban?”

Tentang Memburu Muhammad

Kumpulan cerpen MEMBURU MUHAMMAD adalah yang kedua dari trilogi Islamisme Magis karya Feby Indirani, setelah BUKAN PERAWAN MARIA yang telah keliling berbagai kota di Indonesia, hingga mancanegara: Italia, Belanda, Jerman, Belgia, dan Inggris.

Kumpulan cerita baru ini menggelitik, menyusup masuk ke saripati keberagamaan masa kini. Aneka rupa tema dan cerita —suara dari alam kematian yang menggemparkan kampung di Jakarta, Kyai yang hidup kembali setelah wafat, dilema bakso terenak di dunia, pelukis yang ingin melukis Tuhan, malaikat yang mencintai dengan pedih, negeri Tuantu yang dilanda mitos dan pandemi, juga seorang yang mengaku musuh Nabi menyandera petugas kelurahan. Jenaka, juga mengharukan.

Keunggulan:

  • Ditulis oleh Feby Indirani, salah satu penulis perempuan terbaik di Indonesia
  • Menyuguhkan kisah bernapas islami yang magis, mengandung unsur fantasi.
  • Berisi kumpulan cerpen yang lucu dan menghibur
  • Bertema kehidupan beragama sehari-hari di Indonesia
  • Memberikan banyak ruang bagi pembaca untuk bermain-main dengan imajinasi dan intrepetasinya
  • Kisah ini segar dan mengasah otak!

TESTIMONI PEMBACA

“Sejatinya agama hadir untuk menjadikan manusia sebagai makhluk spiritual yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Semakin ketat manusia beragama, seharusnya menjadi lebih peduli pada masalah-masalah kemanusiaan yang terjadi di sekitarnya, seperti masalah kemiskinan, kebodohan, kekurangan air bersih, korupsi, nepotisme, kekerasan dalam rumah tangga, termasuk kekerasan seksual, kerusakan lingkungan, dan seterusnya. Namun, dalam realitas sosiologis, manusia beragama terjebak pada hal-hal yang bersifat ritual dan simbolistik, seperti busana, organisasi, rumah ibadah, dan ideologi. Umat beragama umumnya belum menjadikan kemanusiaan (humanity) sebagai bagian penting dalam keberagamaan (religiosity). Tidak heran jika terlihat paradoks dalam kehidupan umat beragama, semakin beragama, semakin tidak manusiawi dan semakin jauh dari pengamalan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kedamaian. Potret beragama seperti inilah yang dihadirkan Feby Indirani dalam bukunya, Memburu Muhammad. Buku ini dengan sangat indah mengecam cara beragama yang tidak rahmatan lil alamin. Cara beragama yang tidak membuat manusia bahagia dan saling membahagiakan. Selamat untuk Feby!”

Prof. Hj. Siti Musdah Muliaaktivis dan ulama perempuan

“Sebuah novel besar yang menarik terjalin, bahkan terbentuk, ratusan anekdot. Seperti rumah yang nyaman yang hidup karena ruang-ruang kecil.
“Buku ini bukan sebuah novel besar; penulisnya tak punya pretensi untuk melahirkan sesuatu yang monumental. Feby Indriani tampak menggemari apa yang anekdotal dalam hidup. Seperti bukunya terdahulu, Bukan Perawan Maria, kali ini kita juga bertemu dengan anekdot-kejadian-kejadian singkat, lepas-lepas, ringan, seperti serpihan kapuk yang diterbangkan angin.
“Bedanya: kali ini Feby lebih menampilkan yang ganjil, bukan yang kocak.
“Bergerak antara yang ‘familier’ dan yang sama sekali bukan, cerita-cerita Feby mencerminkan kehidupan, kepercayaan, kecemasan, dan, ya, kekonyolan, orang di lapisan yang bukan elite di masyarakat Indonesia.
“Semoga Anda, para pembaca, mengapresiasinya: bagaimana bekunya hidup tanpa anekdot dan keanehan-keanehan?”

Goenawan Mohamadsastrawan

“Kemampuan Feby menghadirkan cerita-cerita lampau yang sudah sangat familier dengan cita rasa baru bukan saja untuk menunjukkan bahwa cerita-cerita ini masih relevan, melainkan untuk mengingatkan kita bahwa cerita-cerita ini memang tidak pernah hilang. Ia tetap ada menyelusup ke ruang dan sudut-sudut yang berbeda dengan wajah yang makin akrab dan dekat dengan kita.
“Kekagetan-kekagetan pada awal cerita hanya membuat semakin ingin dibaca akhirnya, dan kejutan-kejutan yang selalu muncul di tiap akhirnya tidak hanya membuat kita lekat dan terpikat, tapi di banyak bagian ia jadi terasa hangat dan yang terpenting, kembali mengingatkan siapa sesungguhnya kita.”

Inaya Wahidaktor, presenter, dan aktivis Gusdurian