Membuang Barang: Mengenal Lebih Dekat dengan Suteru! Gijutsu

Membuang barang atau menyimpannya? Hmm, sebuah pilihan dilematis bagi kita semua yang ayal membuat kita kebingungan ketika disandingkan dengan dua pilihan tersebut. Lalu, kalau sudah kebingungan, mau dikemanakan barang-barang kita yang banyak itu?

Ternyata, banyak dari kita yang tak mengetahui rumus membuang barang, loh. Yap, benar! Membuang barang ada seninya juga. Seni membuang barang ini bisa disebut juga dengan Suteru! Gijutsu. Seperti apa itu seninya? Mari kita simak.

Membuang Barang: Suteru! Gijutsu

Seni Membuang: Enyahkan Berantakan dan Raih Kebahagiaan

Buku Suteru! Gijutsu ini mula-mula terbit pada 2000 dalam bahasa Jepang dan sontak menjadi sensasi–terjual jutaan eksemplar alias menjadi best seller kurun waktu enam bulan dan mengilhami Marie Kondo belia menulis bukunya yang bertajuk The Life-Changing Magic of Tidying Up. Sejak saat itu, buku ini telah laris berjuta-juta eksemplar di seluruh dunia. Sekarang Suteru! Gijutsu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Keuntungan kita semua jika membaca buku ini yaitu akan mendapatkan beberapa kesadaran tentang: (1) Seni membuang barang itu sendiri; (2) Menyingkirkan barang dengan kelegaan; (3) Memilah barang-barang yang akan digunakan atau dibuang; dan (4) Dengan membuang barang, akan memberikan kedamaian hati.

Nagisa Tatsumi

Nagisa Tatsumi, penulis buku Suteru! Gijutsu ini lahir pada 1965. Selepas lulus dari Universitas Ochanomizu, dia bekerja sebagai jurnalis dan editor hingga akhirnya memutuskan untuk berkarier lepas. Tulisannya berkisar dalam seputar topik gaya hidup dan budaya Jepang, sedangkan gaya penulisannya yang blak-blakan meraup banyak pembaca setia.

Pada 2008 dia mendirikan Kaji Juku, lembaga pelatihan untuk ibu dan bapak rumah tangga di Tokyo. Sejak 2006, Tatsumi menjabat sebagai Direktur Institut Filosofi Gaya Hidup. Dia telah menulis sejumlah buku yang banyak di antaranya yang telah diterjemahkan.

Baca Juga: Seni Membuang Barang ala Jepang

Membuang Barang = Persoalan Fundamental

Semua orang memiliki terlalu banyak “barang” dewasa ini. Kita tak henti-henti mengenyahkan barang, tetapi ini-itu tetap saja tidak habis-habis. Di kantor, kita menghadapi segunung kertas; di rumah, tempat penyimpanan sebanyak apa pun yang kita miliki tak kunjung cukup. Barang kian lama kian banyak dan hunian kita menciut. Kita terkepung. Kita tahu bahwa kita mesti bertindak. Andai kita bisa menyingkirkan semua, alangkah leganya!

Kesadaran lingkungan bertumbuh pesat pada era 1990-an, terus hingga ke milenium baru: jagalah Bumi …. Lakukan daur ulang …. Kurangi sampah …. Perspektif tersebut melahirkan pola pikir baru mengenai barang, salah satunya adalah kebutuhan tidak sama dengan keinginan. Namun, kita tetap saja kebanjiran barang. Mengapa?

Kita tahu betapa plong perasaan kita apabila barang-barang itu enyah—lantas kenapa kita malah menyimpannya terus? Kenapa kita selalu merasa bersalah ketika membuang barang?

Anggaplah Membuang Barang Sebagai Kegiatan yang Positif

Membuang barang tak lagi menjadi permasalahan kita setelah kita beranggapan bahwa ternyata itu menjadi bagian dari kegiatan yang positif. Maka dari itu, buku ini menjadi jawabannya.

Nagisa Tatsumi memberikan kesadaran kepada kita dengan menyikapi kegiatan membuang secara positif. Untuk membenahi kehidupan kita yang repot karena kebanyakan barang, kita harus mulai menyingkirkan barang. Alih-alih takut mubazir, mari manfaatkan keharusan untuk membuang sebagai kesempatan untuk merenungi nilai sejati harta benda kita.

Lihat berbagai barang yang bisa kita kumpulkan. Dengan memikirkan alasan kita menyimpan barang-barang itu, akan terbayangkan pula alasan barang-barang tersebut menjadi semacam benda keramat yang tak boleh dijamah. Begitu kita menentukan mana yang mesti dibuang dan mana yang perlu disimpan, akan kita sadari apa tepatnya yang betul-betul penting.

Lengkap sudah perkenalan awal dengan Suteru! Gijutsu. Kini, kita tinggal menunggu masa pre-order bukunya yang akan dibuka dari tanggal 7–27 September 2020, ya!

 

Anggit Pamungkas Adiputra.

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *