Krusialnya Budaya di Microsoft

Microsoft di ambang kejatuhan ketika pria asal India, Satya Nadella, ditunjuk untuk menjadi CEO
Microsoft pengganti Steve Ballmer. Kondisi internal Microsoft dinaungi oleh awan pesimisme dan
ketidakpercayaan para karyawannya terhadap perusahaan tempat mereka bernaung dan bekerja. Lebih
parah lagi, para karyawannya menganggap bahwa Microsoft sedang berjalan menuju kehancuran.
Satya Nadella mempetakan, bahwa CEO Microsoft yang baru—yang itu berarti dirinya—setidaknya
harus mengerjakan beberapa hal yang sangat penting, elementer, dan sangat mendesak pada tahun
pertama menjabat mengingat perusahaan bisa terus stagnan tanpa ada kemajuan sedikit pun. Satya
Nadella lalu memecahnya menjadi beberapa poin yang mudah dimengerti;
1. Mengomunikasikan arah misi, cara pandang terhadap dunia, dan ambisi bisnis dan inovasi
dengan jelas dan teratur
2. Menggerakkan perubahan budaya dari atas ke bawah serta menempatkan orang yang tepat
di tempat yang tepat
3. Membangun kemitraan baru dan mengejutkan agar dapat mengembangkan bagian kue
pasar dan menyenangkan konsumen
4. Bersiap menyambut gelombang inovasi dan pergeseran platform berikutnya. Membatasi
ulang peluang kami di dunia yang menomorsatukan seluler dan cloud, sera mengarahkan
eksekusi kami dengan segera.
5. Mempertahankan nilai-nilai abadi, dan memperbaiki tingkat produktivitas dan ekonomi bagi
setiap orang.

Lima hal itu menjadi acuan Satya Nadella untuk bertindak sebagai CEO Microsoft yang baru. Namun
poin-poin di atas bukanlah sebuah rumus kesuksesan yang harus ditiru. Hal itu terjadi karena Microsoft
pun sedang mengarah kepada sebuah perubahan yang sangat dinanti-nanti oleh banyak pihak, terutama
pihak-pihak internal perusahaan sendiri: karyawan.
Karyawan Microsoft tersebar di seluruh di dunia dan memiliki cara yang berbeda untuk menyelesaikan
masalahnya. Pada Kamis 10 Juli 2018, hanya beberapa hari sebelum dimulainya tahun fiscal baru
Microsoft, Satya Nadella mengirimkan email ke seluruh bagian perusahaan, sejenis buah pemikiran, di
pukul 6.20 sore sehingga masuk ke kotak masuk email pada awal hari di seluruh zona waktu Amerika
dan sebelum akhir pekan bagi semua pagawai di seluruh dunia.
Apa isi dari email tersebut? Satya Nadella menekankan bahwa Microsoft merupakan perusahaan global
dan harus berpikir secara satu kesatuan. Ia juga menegaskan betapa pentingnya untuk kembali
menemukan jati diri Microsoft yang sebenarnya, sehingga perusahaan tidak keluar dari jalur yang telah
ditentukan dan disepakati pendiri pada tahun-tahun awal berdiri.
Para pegawai di seluruh dunia merespons email yang telah dikirimkan oleh Satya Nadella. Dalam 24 jam
dirinya mendengarkan ratusan karyawan dari setiap bagian perusahaan dan dari setiap belahan dunia.
Mereka membalas email tersebut dengan penuh semangat dan keyakinan. Dan hal inilah yang
mendasari Satya Nadella, bahwa stagnansi perusahaan bisa diakhiri, dengan modal optimisme dari
internal mereka sendiri.
Yang Satya Nadella dan para eksekutifnya sadari bersama adalah, mereka perlu duduk bersama sebelum
melakukan transformasi budaya dalam tubuh Microsoft. Satya Nadella memutuskan untuk keluar dari

kantor dan mengajak para eksekutif untuk berjalan keluar menuju pegunungan kecil selama dua jam. Di
sana mereka akan banyak berbicara tentang masa depan Microsoft dan budayanya. Namun di luar
dugaan, mereka datang dengan bersemangat, banyak bertanya, bercerita panjang lebar tentang
perjalanan mereka dan terus mendorong Microsoft untuk menjadi lebih baik.
Walaupun begitu, dalam semua diskusi dengan bantahan-bantahan argumen, Satya Nadella selalu
mengambil langkah kongkrit sebagai kesimpulan dari segala diskusi, yaitu komitmen. Lalu para eksekutif,
peneliti, insinyur, penjual, pemasar, dan seterusnya ikut bergabung dan dibuat kelompok bersama,
sehingga mereka saling mengenal. Ketika itu terjadi, budaya yang digaungkan Satya Nadella sedang
berlangsung.
Satya Nadella menulis semua pengalamannya selama menjadi CEO Microsoft semenjak pertama kali
ditunjuk dalam buku Hit Refresh. Kamu bisa membacanya lebih lanjut dan mendapatkan bukunya di sini.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *