Kekangan anak

Kekangan pada Anak

Orang dewasa sering kali tidak menyadari kalau mereka melakukan kekangan pada anak. Setiap kali ditanya bagaimana mereka mengasuh anak-anak, jawaban mereka menunjukkan sebuah pembelaan. Misalnya, mengatakan kalau mereka sudah melakukan yang terbaik atau sudah mengorbankan banyak hal. Tapi apakah benar hal terbaik yang dilakukan ini juga “terbaik” menurut anak?

Salah satu tugas orang dewasa adalah untuk mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak. Namun, orang dewasa malah cenderung memberikan pengaruh terlalu banyak atau memberikan batasan-batasan pada anak sehingga mereka terisolasi. Mereka juga cenderung menjadi sangat protektif dengan alasan untuk melindungi anak. Demikian yang dikatakan Maria Montessori dalam bukunya, Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang Terlupakan.

 

Kekeliruan Orang Dewasa

Fenomena ketika orang dewasa memberikan kekangan pada anak bukanlah hal yang baru. Semua orang dewasa yang selalu berkata kalau mereka telah melindungi anak dari pengaruh luar biasanya memunculkan kekeliruan. Kekeliruan ini bukan saja tak disengaja, tetapi juga yang tidak disadari. Tujuan mereka memang untuk melindungi anak, tetapi sering kali cenderung jadi bersikap terlalu protektif dan malah menghalangi langkah-langkah anak.

Semua orang mengecam kekeliruan yang disadari dan tertarik akan kekeliruan yang tidak disadari. Mereka baru akan sadar akan kekeliruan mereka ketika kita menegur mereka. Sejak awal dalam pikiran orang dewasa ialah mereka merasa bahwa perlindungan mereka terhadap anak-anak adalah hal yang wajar. Padahal, jika orang lain yang melihatnya, mereka menganggap orang dewasa ini terlalu mengekang anak.

Supaya anak dapat memperoleh perlakuan yang tidak demikian dan bisa berdampak terhadap pertumbuhan psikisnya, langkah pertama yang esensial adalah mengubah orang dewasa. Kita harus mulai menyadari bahwa anak-anak memiliki dunia dan pemikiran mereka sendiri. Kita perlu menerima bahwa anak-anak harus mengeksplorasi segalanya dimulai dari diri sendiri dan kita orang dewasa hanya perlu membantu mereka.

 

 

Anak memiliki banyak hal dalam diri mereka yang masih belum diketahui. Masih ada anak yang belum kita kenal kepribadian dan pemikirannya. Anak masih perlu ditelaah supaya bagian yang belum diketahui bisa dikuak. Untuk menemukan hal-hal yang masih belum diketahui ini, kita perlu terbuka dengan diri mereka. Membiarkan anak untuk mengeksplor banyak hal dengan dibantu oleh orang dewasa juga perlu, tetapi tidak menghalangi langkah-langkah mereka.

Orang dewasa akan menjadi egosentris ketika berhubungan dengan anak. Maka dari itu, ia menjadikan sudut pandangnya sebagai patokan dari segalanya dan gagal memahami anak. Sudut pandang seperti ini yang melahirkan pendapat bahwa anak seperti “kosong” dan harus diisi oleh orang dewasa. Orang dewasa juga menjadikan diri mereka sebagai patokan baik dan buruk sehingga anak hanya perlu menirunya. Dengan berlaku seperti itu, orang dewasa merasa mereka telah mengasihi dan berkorban untuk anak. Padahal tanpa mereka sadari, hal itu telah membungkam kepribadian anak dan mengekang diri mereka.

 

Enda Sinta Apriliana

0replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *