Kalap Belanja Karena Iming-iming Praktis? Ini Solusinya

Pada masa pandemi ini, waktu kita memang lebih banyak dihabiskan di rumah. Untuk mengatasi kebosanan, tak jarang kita membuka-buka marketplace lalu menemukan barang-barang menggiurkan untuk dibeli. Belum lagi kalau barang unik tersebut di-review oleh kenalan dengan embel-embel “Wajib punya, deh. Praktis banget soalnya!”. Bisa kalap belanja pastinya.

Praktis, cepat, dan mudah. Tiga kata itu seakan menjadi magnet bagi kita untuk semakin kalap belanja. Apalagi kalau barangnya terlihat berguna dan berpotensi memudahkan hidup kita. Eh, tunggu dulu. Apa benar barang-barang yang katanya praktis itu benar-benar kita butuhkan saat ini? Menurut Nagisa Tatsumi, pakar membuang barang dan berbenah dari Jepang, sebagian barang praktis memang bermanfaat namun sebagian lain justru akan teronggok tak berguna. Dalam buku Suteru! Gijutsu (Seni Membuang Barang: Enyahkan Berantakan Raih Kebahagiaan), Nagisa memberikan contoh barang praktis yang bisa jadi tidak terlalu kita butuhkan.

 

Kalap Belanja Makanan Instan

Karena PSBB, ini berarti harus menyetok makanan di rumah. Hmm … berarti aku harus beli bakso instan, nugget, sarden, kentang beku, sayuran beku, mie instan …. Memang lebih enak yang instan karena praktis. Pokoknya semua aku borong deh, demi keamanan perut.. Ini bukan kalap belanja, lho. Jaga-jaga saja.

Betul sekali. Dengan mobilitas serba terbatas seperti sekarang, kita memang wajib mempersiapkan diri. Terutama makanan. Namun sebelum belanja semua jenis makanan itu, kita perlu pahami dulu seberapa banyak sih porsi makan kita dan keluarga. Jangan sampai kita menimbun terlalu banyak stok dan ujung-ujungnya tidak merasa sreg. Lebih suka makan sayur olahan sendiri yang bahan mentahnya bisa dibeli online, misalnya. Atau ternyata beberapa makanan beku yang sudah dibuka sebagian, tidak segera diolah lagi dalam waktu sepekan. Lewat deh, masa kadaluwarsanya. Sayang kan, kalau akhirnya hanya dibuang.

 

Alat Pembersih Otomatis

Rumah harus selalu bersih setiap hari. Tapi kalau mengepel dan mengelap setiap sudut tiap hari pasti makan waktu. Nah, berarti aku harus beli alat pel dan penyedot debu otomatis. Penyedot debunya juga harus yang lengkap. Harus yang punya berbagai fitur mulai dari sedot debu karpet, sofa, hingga ke celah-celah kecil tak terlihat. Alat pelnya juga yang bisa berputar mandiri mengelilingi rumah. 

Menggiurkan sekali ya, dua alat pembersih di atas. Kalau dibayangkan, pekerjaan rumah tangga kita pasti sangat terbantu dengan adanya dua benda itu. Eh, apa iya? Sekali lagi, kuncinya adalah kenali dirimu dulu. Penyedot debu bisa jadi memang sangat sangat berguna untuk rumah dengan segala macam kondisi. Namun alat pel yang bisa berputar otomatis? Barang ini sudah pasti berguna jika rumah kita luas dan memang melelahkan sekali untuk mengepel keliling rumah. Tapi jika ruang kita terbatas dan sebenarnya dipel menggunakan alat manual saja cukup, kenapa repot membeli yang lebih mahal?

 

Aksesoris Berkebun

Berkebun sekarang lagi tren. Koleksi tanamanku juga mulai banyak. Harus sering-sering dirawat, nih. Kemarin aku lihat di Instagram, si Rika berkebun sambil pakai bucket hat. Dia juga pakai sepatu boot supaya kakinya nggak kotor. Keren banget sepertinya. Praktis dan bermanfaat lagi. Aku harus punya juga.

Sebelum buru-buru ke toko online, coba perhatikan dulu seberapa luas kebun atau taman yang kita punya. Jika lahannya cukup luas dan sebagian besar masih tanah, sepatu boot adalah pilihan yang tepat. Kita juga bisa pakai bucket hat untuk melindungi diri dari panas. Tapi jika taman kita mungil, atau malah tanaman-tanaman itu ditempatkan di teras, untuk apa membeli kedua barang itu? Jangan sampai setelah dibeli dan dipakai sekali dua kali untuk posting di media sosial, aksesoris berkebun itu hanya tersimpan begitu saja di sudut rumah. Jadi sebelum kalap belanja, perhatikan baik-baik perlengkapan berkebun yang benar-benar bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

 

Bisa disimpulkan, solusi paling tepat untuk tidak kalap belanja adalah mengenal diri. Seperti kata Nagisa Tatsumi dalam Suteru! Gijutsu, “Anda bukan orang lain. Anda adalah Anda. Jika Anda mencamkan baik-baik hal ini maka Anda akan tahu bahwa Anda tidak menginginkan barang yang menurut Anda tidak perlu. Setiap kali perusahaan mengembangkan produk, perusahaan niscaya berusaha menciptakan permintaan untuk  produk tersebut. Produk mereka tidak dikembangkan untuk menjawab “permintaan”; “permintaan” justru diciptakan oleh produk itu. Saya takkan membahas praktik marketing secara panjang-lebar di sini, tetapi akan saya katakan bahwa sudah waktunya kita terbebas dari strategi semacam itu.”

Informasi dan tips berharga lainnya tentang perilaku anti menimbung barang, bisa didapatkan di sini.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *