Jalan Berliku menuju Kedewasaan

Judul                : Am I There Yet?
Penulis             : Mari Andrew
Penerbit           : Bentang Belia
Cetakan            : 1, 2018
Tebal                 : xii+188 halaman
ISBN                 : 978-602-430-289-4
Peresensi         : Al Mahfud

Am I There Yet adalah buku menarik yang berisi perjalanan berliku Mari Andrew, seorang ilustrator dari New York. Ilustrator yang memiliki lebih dari 840.000 followers di Instagram ini memiliki kisah inspiratif dan unik tentang bagaimana ia memaknai setiap kejadian di masa remajanya. Memasuki usia dua puluhan, ia yakin itu merupakan waktu yang tepat untuk bertualang. Seorang kawan mengatakan pada Mari bahwa selama sepuluh tahun ke depan adalah waktu yang tepat untuk mencoba banyak hal, menguji batas-batas diri. “Saran kawan saya itu kemudian menjadi pegangan saya,” tulis Mari.

Mari kemudian mencoba berbagai pekerjaan yang bukan bidangnya. Dan dari sana, ia belajar mengenal lebih dalam tentang minat, bakat, dan kemampuan diri sendiri. Masa remaja tak sekadar bersenang-senang, namun juga kerap diisi rintangan dan cobaan. Mari sempat terperosok dalam kesedihan mendalam saat ayahnya meninggal. Ia sempat berpikir bahwa ia bisa menghilangkan kesedihan lewat sosok pacarnya. Tapi Mari mendapati pada kenyataannya ayahnya tak akan bisa kembali. Tidak ada orang yang bisa menggantikan sosok ayahnya.

Mengharapkan seorang lelaki untuk menjadi pengganti sang ayah bukanlah hal yang tepat. Alenjandro, pergi meninggalkannya. Sedangkan Digo membuatnya kecewa karena tak bisa menjadi seperti yang diharapkannya. Saat itulah, Mari tersadar ia harus bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah tiada. Penerimaan bukan berarti rasa duka yang telah hilang, namun bagaimana memahami dan menerima keadaan tersebut dengan kebesaran hati.  “Saya harus mengemban rasa kehilangan ini sendirian, dan semua terserah saya: apakah itu membuat saya semakin lemah atau semakin kuat,” tulis Mari.

Ketika Mari mulai menggemari seni menggambar, ia mengunjungi Granada. Ia ingin bertemu manusia-manusia berjiwa bebas; bisa menggambar di kafe unik atau bar bawah tanah. Namun, Mari justru terserang penyakit dan akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit. Menariknya, Mari selalu bisa memaknai setiap perjalanannya dengan hal-hal inspiratif. Ketika terbaring di RS dan tak bisa melakukan apa-apa berminggu-minggu, ia baru menyadari kesehatan begitu penting. Karena sakit, ia tak punya pilihan apa pun untuk berbuat selain istirahat. “Dengan cepat saya belajar bahwa memiliki pilihan adalah sebuah kemewahan dan andilnya besar untuk membuat kita bahagia,” tulisnya (hlm 123).

Setelah sembuh dan bisa kembali ke apartemen, Mari pun masih harus beristirahat selama beberapa minggu. Di sinilah, ia memanfaatkan masa-masa tersebut untuk semakin konsisten berkarya. Ia menggambar satu ilustrasi setiap hari dan mengunggahnya ke Instagram. Beberapa bulan kemudian, ia bisa ke New York untuk menjual ilustrasi cetaknya untuk pertama kali. Tak disangka, ternyata cukup banyak orang tertarik membelinya. Mari sempat tak percaya diri dan selalu mengatakan “Saya bukan seniman beneran. Itu cuma iseng-iseng aja” setiap kali ada orang yang menghampiri stand-nya.

Namun, kepercayaan diri itu tumbuh seiring makin banyaknya orang yang membeli karyanya. “Seniman sungguhan itu memangnya seperti apa? Saya  berpikir, seniman adalah orang yang membuat karya seni dan itulah yang saya lakukan,” tulis Mari (hlm 137). Di sini, kita melihat bahwa dalam berkarya, mula-mula seseorang tetap harus memiliki keyakinan dan kepercayaan diri, meskipun masih dalam tahap menjadi pemula. Jangan sampai rasa rendah diri menghalangi kita untuk belajar dan berkembang.

Mari juga menyinggung bagaimana menemukan gaya kita sendiri. Di kalangan remaja, gaya menjadi penting. Kita melihat bagaimana para remaja saling berlomba mengikuti tren terkini. Namun, bagi Mari, gaya bukan tentang mengikuti trend. “Kamu bisa bergaya dalam berpakaian tanpa harus mengikuti tren. Kalau kamu sudah bisa memahami gaya personalmu sendiri, bawalah gaya itu ke area lain dalam hidupmu,” katanya (hlm 147). Gaya personal perlu diidentifikasi di dalam diri kita masing-masing. Kita tak sekadar larut dalam tren, namun juga harus berpikir bagaimana menciptakan gaya sendiri yang bisa menjadi tren dan diikuti orang banyak.

Buku ini mendokumentasikan berbagai fase hidup seorang remaja yang digali di berbagai momen ketika mengunjungi berbagai kota, seperti Washington DC, San Fransisco, Berlin, Lisbon, Meksiko, Granada, Rio De Jeneiro, dan New York. Di tiap kota, Mari mengisahkan suasana, cuaca, kehidupan orang-orang di dalamnya, dan dipadu pergulatan batin dan perasaan yang dirasa. Dengan narasi mengalir renyah dan dipadu ilustrasi menarik di dalamnya, buku ini cocok dijadikan bahan bacaan kalangan remaja.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *