Andrea Hirata

Idealisme, Masih Perlukah?

Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, umumnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya, lalu secara menyedihkan terseret arus deras sungai besar rutinitas dan basa-basi birokrasi lalu tunduk patuh pada sistem yang buruk.

Guru Aini, Andrea Hirata

 

Di era pragmatisme sekarang ini, kita kerap bertanya-tanya, masih adakah tempat bagi idealisme dalam hidup ini? Idealisme biasa dimiliki oleh kaum muda. Perhatikan mereka yang baru lulus. Mereka menggenggam cita-cita setinggi langit. Dalam batin, mereka bertekad mengabdikan seluruh ilmunya bagi kemaslahatan orang banyak. Begitu pun saat memasuki dunia kerja, mereka dipenuhi keyakinan mengubah dunia. Bekerja dengan jujur. Memaksimalkan potensi. Melayani segenap masyarakat dengan sepenuh hati.

Akan tetapi, ketika anak-anak muda ini mulai menjalani keseharian, godaan dan tantangan mulai bermunculan menggerogoti idealisme yang semula menggebu. Kebutuhan sehari-hari yang makin tinggi. Tuntutan keluarga dan orang-orang terdekat, atau malah gaya hidup kerap menyurutkan langkah mereka. Memang tidak semua seperti ini. Masih banyak anak-anak muda yang tetap berpegang pada idealisme. Kita bisa menemukan sosoknya dalam guru honorer di daerah pelosok, tenaga medis di daerah-daerah yang tidak mudah diakses, atau bahkan dalam diri seorang petugas keamanan di belantara kota metropolitan yang tidak mudah disuap.

 

Mengapa Kita Perlu Idealisme?

Sejatinya idealisme diperlukan untuk membuat kita tetap waras bertahan dalam hidup yang semakin buas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, idealisme adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna. Ya, tanpa memiliki patokan tersebut, pastinya kita akan mudah terombang-ambing saat menghadapi hal-hal yang di luar rencana.

Misalnya, Bu Desi dalam novel Guru Aini memiliki idealisme untuk mengajar matematika di daerah pelosok dan mencetak seorang genius matematika. Sebagai seorang anak pemilik toko yang berkecukupan, tidak heran jika Bu Desi mendapatkan tantangan keras dari ibunya untuk meneruskan impiannya menjadi guru matematika. Sikap sang ibu sangat bisa kita pahami. Manalah dia tega melepas anak gadisnya yang masih belia. Meskipun demikian, berkat idealisme yang telah mengakar kuat dalam dirinya, Bu Desi pada akhirnya berhasil mendapatkan restu sang ibu dan melenggang pergi ke Ketumbi dengan hati gembira.

 

Mempertahankan Idealisme

Kisah semacam ini jamak kita temukan, bahkan mungkin kita alami sendiri. Kehadiran idealisme akan menguatkan diri kita untuk mempertahankan cita-cita, terutama saat sedang menghadapi hambatan. Idealisme juga memberikan kepuasan batin karena kita merasa sedang mengejar sesuatu yang kita anggap baik untuk diri kita.

Sejauh mana kita perlu mempertahankan idealisme? Jawabannya sangat bergantung pada diri kita masing-masing. Sejauh mana kita bisa menarik-ulur sesuai keadaan. Seperti Bu Desi yang sempat merasa terpuruk saat mengajar matematika di Ketumbi, wajar jika kita terkadang merasa lelah mempertahankan idealisme. Kita merasa sendiri dan ditinggalkan di tengah perjuangan. Kita dihantui perasaan apakah semua ini pada akhirnya akan sia-sia belaka. Saat itu terjadi, hentikan dahulu semua pekerjaan. Renungkan apa yang sesungguhnya kita inginkan dalam hidup ini. Apa yang sesungguhnya kita harapkan dari idealisme ini.

Desmond Tutu mengatakan, untuk mempertahankan idealisme, orang harus terus bermimpi. Jika akhirnya kita memutuskan untuk terus mempertahankan idealisme, selalu ingat kembali mimpi tersebut saat kelelahan melanda.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *