Dikotomi Benar dan Salah

Sejak kecil terkadang kita selalu diajarkan untuk mendikotomisasi salah dan benar, kemudian selalu diajak untuk mengenalinya dan mengamalkannya oleh Ibu dan Ayah. Namun, kini yang terjadi berbeda. Tidak kecil atau besar, tidak anak-anak  atau dewasa seakan-akan sangat haus untuk menjadi benar dengan menginjak-injak yang salah.

Padahal, yang benar belum tentu tidak salah, dan yang salah pun belum tentu selalu salah. Proses menuju benar terkadang melalui salah dan konsistensi benar tidak lain melalui kesalahan. Cak Nun mengkritik fenomena ini dalam bab yang berjudul “Tak Bisa Benar Tanpa Menyalahkan”. Cak Nun menyebut bahwa manusia yang hidup pada saat ini terlalu muter-muter menyalahkan sesamanya hanya demi mendeklarasikan bahwa ia adalah makhluk yang benar.

Cak Nun menjelaskan bahwa fenomena ini justru banyak terjadi pada kalangan pembesar alias penguasa. Secara implisit, rakyat kecil sanggup melaksanakan “organisme kebenaran” yang sangat natural dan kultural, seperti yang bisa dilihat di dusun-dusun dan kampung-kampung. Sebaliknya, “organisme  kebenaran” ini bahkan tidak hadir dan tidak terselenggara pada kalangan pemimpin elite.

Lalu, apa yang menyebabkan segalanya menjadi abu-abu? Padahal, benar atau salah merupakan hitam atau putih. Apakah hal ini karena ketidakyakinan atas kebenaran yang kita klaim? Atau, kebenaran itu datang dengan setengah-setengah sehingga tidak paripurna untuk dikonsumsi? Atau bahkan ini, menurut Cak Nun, adalah kelemahan mental yang memerlukan orang untuk disalahkan agar kita dapat diklaim sebagai “Si Benar”?

Cak Nun menjabarkannya lebih luas dan lebih jelas lagi. Pada saat Iblis menolak sujud, Iblis lalu bersumpah untuk memelesetkan langkah Adam dan mengaburkan pandangannya ke depan untuk menyesatkannya. Menggoda hatinya dan menggerogoti imannya. Dan, sejak itu terjadilah polarisasi yang kita kenal hingga hari ini: siang-malam, cahaya-gelap, suci-maksiat, tunduk-ingkar, efisien-boros, atau sabar-tergesa.

Apakah pada waktu itu Tuhan menolak keinginan Iblis? Tidak. Justru Tuhan memfasilitasi baik atau benar ini dengan surga dan neraka. Iblis diberi waktu hingga hari kiamat untuk menyesatkan umat manusia. Tujuan Iblis tidak lain adalah membuat manusia merusak dirinya dan sesamanya, menciptakan pertumpahan darah, dan sebagainya. Visi dan misi Iblis ini adalah suatu realisasi penolakan dirinya untuk bersujud kepada Adam.

Tuhan juga menyiapkan malaikat untuk membantu para manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia. Sayangnya, para manusia tidak mendidik anaknya di mana pun: rumah, sekolah, universitas, taman baca, dan di rumah-rumah ibadah untuk menyadari kehadiran malaikat itu sendiri. Justru mereka mengenalkan dan mengajarkan cara kerja Iblis di dunia dan dituntut untuk mengikutinya. Anak-cucu manusia pada akhirnya hanya berorientasi pada ketamakan dan keserakahan—ini adalah program kerja Iblis—tanpa menyadari ada malaikat di dalam masing-masing jiwa mereka.

Cak Nun meragukan, apakah manusia dimakan oleh silaunya hakikat dari hidupnya sendiri? Cahaya yang disadari dan dirindukan kala gelap tiba. Malam tiba-tiba diinginkan ketika adanya terik siang. Dan, penderitaan yang menyeret dambaan untuk memperoleh kebahagiaan. Begitu naifnya manusia ketika dihadapkan oleh dua hal yang berbeda kontras dan tidak pernah bersyukur terhadap keduanya.

Pada akhirnya, kita hanya berharap malaikat tidak bosan melihat tingkah manusia yang seperti ini dan memakluminya, terutama rakyat Indonesia. Karena mereka sedang sibuk membenarkan pilihan politiknya dan menjatuhkan sesamanya yang punya pilihan berbeda, berdebat tentang impor beras dan tol cepat, dan utang-utang yang digunakan untuk infrastruktur, padahal mereka tidak mengerti sama sekali apa itu utang dan apa itu infrastruktur.

Cak Nun mencurahkan segala keresahan dan pendapatnya dalam buku terbarunya, Pemimpin yang Tuhan. Cak Nun banyak mengomentari peristiwa-peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi dan merangsang kita untuk mengevaluasi dan mawas diri dalam kehidupan. Bukunya bisa kamu dapatkan di sini.

 

Sumber foto: mymodernmet.com.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *