Di Balik Transformasi Besar-Besaran Perusahaan Microsoft

Judul : Hit Refresh
Penulis : Satya Nadella
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : Cetakan 1, Agustus 2018
Tebal : 360 halaman
ISBN : 978-602-291-504-1

Karakter pemimpin berpengaruh besar terhadap jalannya sebuah perusahaan. Di
tangan seseorang dengan karakter tertentu, sebuah perusahaan bisa bertransformasi besar-
besaran. Ini tergambar dalam perusahaan raksasa Microsoft di bawah kepemimpinan Satya
Nadella. Satya Nadella adalah CEO Microsoft yang ketiga setelah Bill Gates dan Steve
Ballmer dalam 40 tahun perjalanan Microsoft. Satya dikenalkan sebagai CEO Microsoft yang
baru pada 4 Februari 2014.
Menurut Bill Gates, dalam kata pengantarnya, Satya berhasil melakukan transisi
besar-besaran dalam Microsoft dari pendekatan yang sebelumnya terlalu Window-sentris.
“Dia memimpin perusahaan dengan mengadopsi misi yang benar-benar baru. Dia selalu
menjadi bagian dari percakapan dan tak pernah absen menyapa konsumen, peneliti, top,
hingga para eksekutif” (hlm xii). Di buku ini Satya menjabarkan bagaimana proses
transformasi itu terjadi, baik pada dirinya sendiri maupun bagi perusahaan yang ditanganinya.
Satya mengisahkan ketertarikannya pada olahraga kriket sejak kecil sehingga turut
memengaruhinya dalam memimpin. Ada tiga prinsip bisnis dan kepemimpinan dari olahraga
kriket yang diterapkan Satya. Pertama, bersaing dengan penuh semangat dan gairah dalam
menghadapi ketidakpastian dan intimidasi. Kedua, mengutamakan kepentingan tim di atas
pencapaian dan penghargaan pribadi. Ketiga, pentingnya kepemimpinan yang memiliki
empati yang kuat sehingga bisa memunculkan sisi terbaik dari setiap orang yang dipimpin.
Hal mendasar yang menggerakkan Satya ketika memimpin Microsoft adalah rasa
empati dan kehendak untuk memberdayakan orang lain. Mengutip Tracy Kidder dalam buku
The Soul of a New Machine, Satya menjelaskan bahwa teknologi tak lebih dari kumpulan
jiwa para pembuatnya. Inilah jiwa perusahaan, yaitu suara dari dalam yang memberikan
memotivasi untuk memanfaatkan kemampuan kita. “Bagi Microsoft, jiwa tersebut adalah hal
yang memberdayakan manusia, tak hanya individu, tapi juga instuisi yang mereka
dirikan—sekolah, rumah sakit, perusahaan, badan pemerintah, dan lembaga swadaya,”
jelasnya (hlm 98).

Bagi Satya, Microsoft harus kembali menumbuhkan jiwanya sebagai perusahaan yang
menciptakan teknologi kuat yang bisa mendemokratisasi teknologi bagi banyak orang. Tahun
1970-an, Bill dan Paul Allen memulai Microsoft dengan tujuan membantu menyediakan
komputer di setiap meja dan di setiap rumah. Itu terwujud dan sekarang dunia sudah berubah.
Satya tertantang lebih jauh lagi, “Saya tak akan menjadi CEO yang masuk Fortune 500 kalau
tidak untuk mendemokratisasikan kekuatan Microsoft di seluruh dunia” (hlm 99).
Transformasi Microsoft di tangan Satya Nadella terlihat misalnya saat peluncuran
Windows 10. Alih-alih menggelar pesta penjualan tengah malam yang mewah dengan
histeria media seperti dua puluh tahun lalu saat peluncuran Windows 95. Satya lebih memilih
meluncurkan Windows 10 di wilayah perkotaan miskin di Nanyuki Kenya. Satya ingin
mendemonstrasikan misi dan budaya baru tentang semangat perusahaan dalam memahami
keadaan setiap konsumen, seperti menyediakan internet murah bagi masyarakat, anak
sekolah, dan petani di desa-desa terpencil di Afrika. “Peluncuran Windows 10 bukanlah
tentang produknya, melainkan tentang misi kami,” tegasnya (hlm 140).
Peluncuran Windows 10 di Kenya juga menyimpan pelajaran tentang membangun
budaya perusahaan agar bisa lebih mendengarkan: lebih banyak belajar dan lebih sedikit
bicara. Hal tak kalah penting di samping membangun jiwa dan budaya perusahaan adalah
membangun kepercayaan. Memang persamaan matematika tak bisa digunakan untuk
membuat hasil humanistik. Tapi sebagai insinyur komputer, Satya merumuskan kepercayaan
sebagai: E+SV+SR=T/t (Empathy+Shared Values+Safety and Reliability=Trust over time).
Kepercayaan dibentuk dari adanya rasa empati dan nilai-nilai yang sama (seperti konsistensi,
adil, dan keberagaman), serta memprioritaskan keselamatan dan keandalan (hlm 256).
Di bawah kepemimpinan Satya Nadella, Microsoft mengalami transformasi besar-
besaran. Sebelumnya, di tangan Bill Gates dan Steve Ballmer, perusahaan raksasa penyokong
besar revolusi digital tersebut tumbuh pesat. Namun, dengan jiwa empati dan demokratisnya,
Satya Nadella kemudian hadir membuat Microsoft menjadi perusahaan yang lebih humanis
dan berkontribusi bagi banyak manusia secara luas.

Diresensi oleh Al-Mahfud

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *