proses kreatif Cak nun

Proses Kreatif Cak Nun dalam Buku Lockdown 309 Tahun

Gimana sih proses kreatif Cak Nun bisa produktif menerbitkan buku? Pada saat pre-order, buku Lockdown 309 Tahun karya Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun berhasil terjual hingga lebih dari 1.000 eksemplar, sekaligus menandai cetak ulangnya yang kedua. Hal ini menyiratkan, jika para pembaca tak hanya menunggu bagaimana buah produktivitas dihasilkan dari seorang penulis senior sekaliber Cak Nun, tetapi mereka juga membutuhkan pandangan lebih lanjut mengenai pendapat sekaligus refleksi hidup Cak Nun, terutama mengenai kemunculan pandemi virus Corona atau Covid-19 ini.

proses kreatif Cak nun

Proses Kreatif Cak Nun

Tulisan-tulisan Cak Nun yang dinilai menyejukkan serta menenangkan hati, diharapkan dapat memberikan perspektif baru kepada para pembacanya−terutama respons atas munculnya virus berukuran mikro di Indonesia sejak awal Maret itu. Meski sekali lagi, Cak Nun tak pernah menganggap dirinya dapat mengajari apa pun, sebab yang beliau inginkan hanya satu: semua dapat belajar bersama-sama, mencari jawaban bersama-sama, serta mampu mengamalkannya pula secara bersama-sama. Istilah khasnya, yaitu sinau bareng.

Maka dari itu, jika berbicara seputar proses kreatif Cak Nun dalam kepenulisan seputar virus Corona, hampir semua tulisan yang dibuat, selalu berhubungan dengan perilaku manusia, baik responsnya, akhlaknya, kedekatan kepada Tuhannya, hingga ulah-ulahnya yang sering kali menimbulkan kerusakan. Termasuk virus Corona, yang sering dimaknai oleh sebagian manusia lainnya sebagai upaya konspirasi, ataupun bocornya suatu proyek laboratorium uji di sebuah daratan jauh di sana.

Mendekatkan Kepada Yang Kuasa

Akan tetapi, terlepas dari semua itu, Cak Nun selalu mengingatkan kepada kita agar justru semakin mendekatkan diri kepada Yang Kuasa, terlebih dalam ancaman pandemi yang sejak tahun lalu belum usai. Pada akhirnya, rasa ikhtiar serta tawakallah yang mampu kita serahkan kepada Tuhan Maha Kuasa karena hanya diri-Nya-lah Pencipta serta Penghilang virus tersebut nantinya. Begini kira-kira pendapat Cak Nun seputar komposisi proses kreatifnya dalam menuliskan buku Lockdown 309 Tahun:

Semua tulisan saya di buku ini tentang segala sesuatu yang terkait Coronavirus, memakai pola pandangan dan pemetaan yang mengungkapkan keterkaitan antara virus dan kesehatan jasad, struktur kejiwaan, kekuasaan Tuhan, metode takwa dan tawakal, iman, doa, wirid, zikir, hizib, dan seluruh famili konteksnya menurut pola pandang yang saya pakai.

Maka dari itu, jika ditilik dari proses kreatif oleh Cak Nun, dapat kita simpulkan bahwa salah satu hal terpenting. Serta menjadi bekal dari kepenulisannya adalah riset. Riset termasuk tahap yang cukup penting karena tak hanya mengetahui seluk-beluk serta awal mula gagasan itu ada, tetapi juga memberikan semacam perbandingan atas suatu pendapat yang diutarakan.

Lockdown 309 Tahun

Hal tersebut dengan mudah dapat kita amati dalam beberapa paragraf pada buku Lockdown 309 Tahun. Cak Nun selalu mengikuti kabar seputar jumlah penderita positif virus Corona setiap harinya. Lalu, mengikuti apa saja kebijakan terbaru pemerintah setiap harinya, mempelajari apa saja isu yang beredar semasa pandemi. Hingga, bagaimana sejarah wabah pada masa lampau, terutama pada zaman Rasulullah Saw. serta kepemimpinan khalifah Umar bin Khaththab setelahnya. Bisa dikatakan bahwa Cak Nun tak hanya sekadar menulis. Tetapi, juga melihat serta mendengar apa saja yang ada di sekitar beliau.

Selain itu, riset juga dapat mempertajam pendapat yang diutarakan. Misalnya, ketika Cak Nun membahas hikayat Ashabul Kahfi yang ditidurkan oleh Allah Swt. Di dalam gua selama 309 tahun, demi terlindungi dari pemimpin kejam yang berusaha memaksa para pemuda itu untuk berpindah keyakinan.

Kisah nyata seputar Ashabul Kahfi itu akhirnya dapat digunakan oleh Cak Nun sebagai perantara atas keluh kesahnya. Agar dapat langsung menyadarkan kita bahwasanya kita harus meneladani kisah mereka. Yang nurut serta tunduk pada apa yang menjadi perintah Tuhan, yakni berlindung di dalam gua. Maka, ketika masa pandemi sedang berkecamuk seperti ini, seruan untuk tetap tinggal dan beraktivitas di rumah tak seharusnya kita acuhkan. Sebab, salah satu cara untuk memutus rantai penyebaran virus, yakni melalui pencegahan kontak antar-manusia itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa virus dapat menyebar melalui droplet, yang medianya berupa air liur serta ludah.

Proses Kreatif Cak Nun: Pentingnya Riset dalam Menuliskan Buku

Pentingnya riset itulah yang kemudian menjadi kunci produktivitas Cak Nun dalam menuliskan berbagai sudut pandangnya. Selain itu, mengutamakan rasa saling mengingatkan juga menjadi perhatian Cak Nun selama ini. Terbukti dalam hampir seluruh karyanya, selalu mengingatkan kepada kita bahwa hidup ini harus selalu ditujukan kepada Tuhan. Baik ketika senang, bahagia, sedih, murung, hingga susah, semua harus tetap kita kembalikan kepada Allah SWT. Sebab kelak roh kita juga yang akan kembali kepada-Nya.

Hal ini menjadi nilai penting, sebab manusia seperti kita sering kali dihinggapi rasa lupa dan malas. Sehingga, tak luput juga dalam kesalahan serta ketidakingatan kita kepada Yang Kuasa. Maka, sudah seharusnya kita bersyukur jika Tuhan memerantarakan hidayah-Nya melalui pemikiran serta tulisan-tulisan Cak Nun. Yang nantinya dapat kita baca dan renungkan. Semoga Cak Nun juga selalu diberi kesehatan. Sehingga dapat terus produktif dalam menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas serta menggugah hati pikiran kita.

Pada akhirnya, Cak Nun sangat berharap agar Allah Swt. dapat segera mengangkat virus Corona ini−sehingga hilang dari bumi agar nantinya Jamaah Maiyah dapat bercengkerama kembali serta sinau bareng Cak Nun. Tak hanya melalui tulisan-tulisan sebagaimana saat ini, yang kemudian mendasari terbitnya buku Lockdown 309 Tahun setebal 260 halaman itu.

lockdown

Setan Adalah Produk Jin dan Manusia, Kok Bisa?

Sebentar … setan yang mana dulu, nih? Ya, setan, makhluk ciptaan Allah yang dalam bahasa Arab berarti ‘syaithon’, dan dalam bahasa Inggris berarti ‘satan’. Setan yang sejak zaman Nabi Adam hingga hari kiamat nanti hanya memiliki dua tugas, yakni menggoda jin dan manusia, serta menyesatkannya sehingga dapat terjungkal bersama ke dalam neraka.

Meski keberadaan setan atau iblis di bumi ini juga termasuk bagian dari skenario Allah, tetapi pada dasarnya, mereka adalah produk yang dibuat oleh jin dan manusia. Walaupun wujud mereka sejatinya sudah ada sejak Nabi Adam, dan akan terus hidup dan beranak pinak hingga Hari Kiamat tiba.

Maksud dari produk jin dan manusia ialah, setan selalu hadir di dalam rusaknya peradaban jin serta manusia. Segala hal yang sudah diciptakan dengan sebaik-baiknya oleh Allah, jika pada akhirnya dirusak oleh kedua makhluk tersebut, sejatinya setan telah masuk ke dalamnya untuk memengaruhi serta membisikinya untuk melakukan kerusakan tersebut.

Masih bingung? Mari kita simak kutipan dari Emha Ainun Nadjib atau yang sering kita sapa Cak Nun, dalam tulisan-tulisannya yang dibukukan dengan judul Lockdown 309 Tahun. Kira-kira seperti ini kutipannya:

“Tuhan menginformasikan lebih lanjut bahwa sumbernya setan, mata air dan server-nya adalah jin dan manusia ini sendiri. Mungkin maksudnya semacam ini: malfungsi peralatan jiwa manusia akan melahirkan setan. Mal-manajemen atau dis-manajemen. Mal-akhlak. Mal-haq dan ketidakjujuran, ketidaktepatan, ketidakbaikan, disproporsi dan improporsi. Walhasil, setan adalah produk kita sendiri dan kaum jin.”

Bagi Cak Nun, segala hal yang menjadi keburukan dalam perilaku manusia serta jin adalah buah dari pengaruh setan. Tak hanya perbuatannya, tetapi dampaknya juga terlibat. Kerusakan yang kita saksikan selama ini, baik rusaknya akhlak manusia, hingga hancurnya semesta alam, merupakan biang masalah yang ditimbulkan oleh perbuatan-perbuatan setan.

Maka dari itulah, Allah Swt. sudah mewanti-wanti melalui Al-Quran, bahwasanya semakin lama, semakin mendekati Hari Kiamat, peradaban manusia semakin rusak, meski secara pemikiran semakin berkembang dan juga secara teknologi lebih canggih. Namun, jika tak diimbangi dengan amal serta ibadah yang baik kepada Allah Swt. maka kita sebetulnya tak jauh beda sebagai bagian dari kerusakan zaman tadi.

Termasuk virus Corona atau Covid-19 yang saat ini masih membayangi seisi bumi. Virus tersebut terus berkembang selama masih ada inangnya−yaitu manusia. Sebetulnya tak hanya virus Corona, tetapi seluruh jenis virus di dunia ini juga membutuhkan inang untuk hidup, yakni pada manusia ataupun hewan.

Maka dari itu, virus ini sejatinya dapat dihindari bagi banyak manusia, apabila tetap menjalani hidup sesuai protokol kesehatan yang sudah ada serta selalu menjaga daya tahan tubuh supaya tetap kuat. Pada akhirnya, virus ini tak hanya membuat penderitanya sakit dan lemah, tetapi juga mengganggu kekhusyukan ibadah dan juga fokus kita kepada Allah Swt., yang pada saat masih sehat misalnya, dapat menjalankan ibadah wajib serta beberapa sunah.

Sejatinya, kita tak perlu takut terhadap virus Corona, asalkan kita sudah berikhtiar dengan melakukan berbagai hal yang sekiranya dapat menjauhkan kita dari potensi terpaparnya virus. Jika kita sudah melakukannya sebaik mungkin, serta berusaha menjalani hari-hari dengan baik dan tak lagi khawatir secara berlebihan, insya Allah virus ini akan secepatnya hilang. Bukankah Allah sudah berjanji jika setiap penyakit itu ada obatnya?

Sebetulnya, tak semua virus itu bencana. Semua bergantung kepada siapa pun yang menghayatinya. Jika ia menganggapnya sebagai bencana, hal itu akan benar-benar menjadi sesuatu yang mematikan. Sementara itu, jika ia menganggapnya sebagai rahmat dan hikmah, kebaikan pun dapat ia rasakan, seperti: semakin mendekatkan diri kepada Allah dan semakin menerapkan pola hidup bersih. Hal itu juga menjadi refleksi Cak Nun (baca renungan Cak Nun tentang Covid-19) sepanjang masa pandemi, jika sumber terbesar dari penyakit yang diderita manusia itu, tak lain berasal dari kekhawatiran yang mereka rasakan sendiri.

“Coronavirus lebih populer dari apa pun dan siapa pun akhir-akhir ini di seluruh dunia. Sebabnya adalah karena membuat semua umat manusia menderita. Andaikan Coronavirus itu membahagiakan dan menggembirakan, ia tak sepopuler sekarang. Andaikan Coronavirus adalah nutrisi unggul, gizi tertinggi, zat utama kesehatan, atau ia rahmat, berkah, dan hikmah langsung bagi kehidupan manusia, ia tidak seterkenal sekarang.”

Maka dari itu, jauh sebelum diciptakannya manusia, terutama saat dibuatnya kitab Lauh Mahfudz, Allah telah memerintahkan kepada kita, umat manusia, melalui Al-Quran agar senantiasa mengingat diri-Nya, salah satunya adalah dengan berdoa. Apalagi masa pandemi yang belum usai ini, jalan terbaik bagi kita hanya bermunajat serta memohon doa kepada Allah karena siapa lagi Dzat Pemberi dan Penyembuh dari Segala Penyakit−jika bukan Allah? Maka, sudah saatnya kita menyadari bahwa pandemi saat ini tak hanya sekadar sebuah ujian, melainkan juga sebuah petunjuk dan bimbingan, menuju obat yang tak lama lagi akan kita temukan sehingga dapat menyembuhkan semua penderitanya, pun tak lagi ada keresahan di antara umat manusia. Aamiin.

“Kesembuhan itu lokal, parsial, fakultatif, dan eksklusif. Petunjuk atau hidayah itu universal, tanpa batas, inklusif apa aja, termasuk kemungkinan untuk sembuh. Oleh karena itu, selama era Corona, shalat kita bukan terutama “mohon penjagaan dan kesembuhan”, melainkan “mohon petunjuk, panduan, tuntunan, bimbingan”. “Ya Rahman Ya Rahim, Ya Hadi Ya Mubin.”

cara memutus penyebaran covid

Bagaimana Cara Memutus Penyebaran Virus Corona Menurut Cak Nun?

Cara memutus penyebaran covid-19 masih menjadi misteri bagi kita. Pandemi Coronavirus atau Covid-19 ini sudah seperti bola salju besar yang menggelinding dan menimpa siapa saja yang berhadapan dengannya, bahkan tak pandang bulu. Mulai dari masyarakat biasa, pekerja, pejabat kota, menteri, hingga presiden pun tak luput dari serangan virus yang kini mewabahi dunia itu. Namun, di balik fenomena langka itu semua, lantas bagaimana sikap kita sebagai manusia dalam menghadapi virus tersebut?

Cara Memutus Penyebaran Covid-19 Menurut Cak Nun

cara memutus penyebaran covid

Bagaimana cara memutus penyebaran virus corona menurut Cak Nun?

Tentu secara logika, langkah yang bisa kita lakukan adalah berusaha supaya virus tersebut dapat segera menghilang dari bumi. Sekaligus memutus rantainya agar tak terus berinang dalam tubuh manusia, khususnya paru-paru. Karena sudah menjadi sifat asli manusia, jika ada sesuatu yang mengancam dirinya, sebisa mungkin harus dimusnahkan. Apalagi yang sampai mengorbankan banyak jiwa itu.

Akan tetapi, tak semudah itu pula memusnahkan virus yang merupakan turunan dari virus SARS tersebut. Kita harus bisa bersama-sama dan bergotong royong untuk menyelesaikan masalah kesehatan ini karena tak semua masalah bisa diselesaikan sendiri. Apalagi virus ini berperan dengan memanfaatkan droplet atau air liur dari manusia satu ke manusia lainnya sehingga penyebarannya pun serupa tali yang disengat oleh api, mudah sekali merembet ke mana-mana. Siapa pun bisa berperan dalam menyebarkan virus atau disebut carrier, dan siapa saja bisa terkena dampak penyakitnya.

Saya pun teringat oleh salah satu poin yang disampaikan oleh Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun melalui bukunya yang berjudul Lockdown 309 Tahun. Buku ini khusus membahas keluh kesah serta refleksi Cak Nun dalam menyikapi fenomena virus Corona yang sukses merusak tatanan ekonomi dan keamanan dunia, dan kesemua isinya merupakan bagian dari proses kreatif Cak Nun selama beraktivitas di rumah, yang saking produktifnya, Cak Nun mampu menciptakan dua tulisan dalam sehari, lho. Semua itu dalam rangka ikut memutus penyebaran virus tersebut.

Kira-kira seperti ini isi poinnya, yang terdapat dalam artikel berjudul: “Ngono Yo Ngono, Nanging Ojo Ngono”

“Setiap orang sekarang ini memang dianjurkan atau diseyogyakan untuk membangun sendiri di dalam hati dan pikirannya kesadaran lockdown atas hidupnya, disuruh atau tidak, oleh pihak mana pun. Kenapa? Bukan karena supaya ia selamat dari kemungkinan tertular Coronavirus di pasar, sekolahan, terminal, mal, stadion, kantor, atau tempat kerumunan mana pun, melainkan sebaliknya, agar ia bisa menghindari dari kemungkinan mencelakakan siapa pun yang ia bertemu dengannya, melalui penularan Coronavirus.

“Semoga Tuhan lebih menyayangi hamba-Nya yang lebih mementingkan keselamatan orang lain daripada mengutamakan dirinya sendiri.”

Apa yang bisa kita dapat dari petikan tulisan di atas? Ya, kesadaran masyarakat. Itu sangat dibutuhkan oleh semua elemen dalam menurunkan angka penderita virus tersebut. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang ngeyel dan melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah bersama elemen kesehatan, seperti tidak memakai masker, tidak rutin mencuci tangan, selalu keluar rumah padahal tidak mendesak, hingga berkumpul dalam jumlah banyak dalam satu lokasi.

Apalagi yang paling disayangkan ialah, ada beberapa masyarakat yang sudah mengalami gejala-gejala dari penularan virus Corona itu, seperti demam tinggi, batuk, pilek, dan lainnya. Namun, mereka justru malah menganggap enteng, dan tak ada bedanya dengan sakit ringan pada umumnya. Padahal, kekurangsadaran itulah yang justru membahayakan bagi orang lain, terutama orang berusia lanjut dan tenaga medis. Sudah banyak orang tua yang menjadi korban dari virus Corona. Bahkan sampai menyebabkan kematian. Karena memang virus ini dapat berevolusi bersama penyakit lain. Sehingga muncullah penyakit komplikasi, asma akut, dan sebagainya.

Peran Manusia Meminimalisir Risiko Pendemi

Belum lagi para tenaga medis yang hingga kini terus menjadi garda terdepan dalam menghadapi virus dengan nama lain Covid-19 itu. Sudah banyak terjadi kasus di Indonesia, para pasien yang tak jujur dalam mengatakan keluhan penyakitnya padahal telah terpapar virus Corona, hingga akhirnya malah menjadi carrier bagi para medis yang memeriksa, bahkan pegawai rumah sakit, sampai tukang sapunya pun ikut terdampak penyakitnya.

Maka dari itu, salah satu cara memutus penyabaran covid-19 ini dibahas dalam buku Cak Nun. Sudah sepantasnya kita belajar dari Cak Nun bahwa kita sendiri harus menyadari betapa pentingnya peran tiap manusia dalam meminimalisasi risiko pandemi ini dengan tanpa diperintah atau diarahkan siapa pun. Sudah seharusnya kita berpikir secara mandiri terhadap suatu marabahaya yang sudah ada di depan mata, bahkan bisa saja sewaktu-waktu menyerang kita. Kita tak boleh sampai egois. Memikirkan keselamatan diri itu boleh, tetapi lebih penting lagi adalah memikirkan keselamatan orang lain.

Bentuk Gotong Royong dan Solidaritas Manusia

Melalui apa? Ya dengan ikut memutus rantai penyebaran virus Corona tersebut. Sebagaimana yang telah digaungkan oleh Kementerian Kesehatan dan pihak terkait, terkhusus pula Cak Nun. Itulah salah satu bentuk gotong royong yang bisa kita lakukan sehingga kebahagiaan tak hanya tercurah. Ketika virus Corona musnah dari bumi, tetapi tingginya solidaritas sesama manusia juga sangat berharga bagi kita semua.

Semoga Allah Swt. segera menyadarkan seluruh isi hati manusia sehingga menarik kembali virus Corona dari negeri ini. Kita semua yakin bahwa apa yang diciptakan oleh Allah SWT. Tentu memiliki fungsi dan tujuannya. Termasuk dengan adanya makhluk sekecil virus Corona ini. Yang sepertinya untuk menyadarkan kita bahwa jangan sampai lupa dengan hakikat yang kita miliki sebagai manusia. Yakni sebagai makhluk sosial, makhluk yang tak dapat hidup sendiri, dan selamanya akan terus bergantung pada manusia lainnya.

bagaimana menghadapi virus

Bagaimana Seharusnya Kita Menghadapi Virus?

Banyak orang bertanya bagaimana menghadapi virus. Pertanyaan di atas tentu memerlukan jawaban yang beragam karena ada banyak perspektif yang dapat diambil dalam menemukan jalan keluarnya. Keberadaan virus Covid-19 atau Corona tak bisa dianggap enteng. Posisinya yang kini telah mencapai pandemi dan menguasai hampir seluruh negara di bumi, harus disikapi dengan pikiran yang jernih serta sejuk pula. Pasalnya, eksistensinya saja sudah hampir merobohkan banyak sendi negara, seperti ekonomi, politik, pemerintahan, keamanan, karier, budaya, hingga mobilitas masyarakat. Sementara itu, kita yang belum pernah merasakan bagaimana terkungkung oleh virus yang berkuasa, mau tak mau harus terus memutar otak agar kehidupan tetap baik-baik saja.

Bagaimana Seharusnya Kita Menghadapi Virus?

bagaimana menghadapi virus

Coronavirus tidak punya kesalahan dan dosa apa pun. Ia bukan makhluk pikiran dan hati yang punya kemungkinan untuk berniat sesuatu, merancang kebaikan atau keburukan, menyatakan dukungan atau perlawanan atas kehidupan umat manusia di muka bumi.

 

Lalu, bagaimana cara menghadapi virus jika pertanyaan ini kita tanyakan kepada Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun? Tentu beliau memiliki jawaban tersendiri dalam menyikapinya. Pemikiran dan tulisan Cak Nun seolah menyajikan sebuah oase kehidupan yang mendinginkan pikiran serta hati kita. Sekalipun di tengah panas prahara Covid-19 ini. Keberadaan ancaman virus tersebut seolah memberi semangat baru bagi Cak Nun untuk terus produktif dalam menulis, bahkan dalam sehari Cak Nun mampu menyelesaikan dua tulisan tentang Corona sekaligus.

Belum lama ini juga, sebagian dari tulisan beliau telah diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Lockdown 309 Tahun. Melalui 55 tulisan beliau setebal 260 halaman itu pula, kita dapat mengetahui sekaligus belajar dari keluh kesah serta refleksi yang beliau utarakan atas munculnya virus Corona yang telah merenggut banyak jiwa dan kesiapsiagaan finansial itu.

Salah satu poin yang dimaksud, terdapat pada tulisan beliau yang berjudul “Corona Tosca”, yang tampak relevan dengan pertanyaan di atas tadi. Kira-kira seperti ini:

Ada Jamaah Maiyah yang bersama keluarganya berupaya membangun hijab atau tabir tebal dengan cara memaksimalkan self lockdown. Lewat tengah malam, ia shalat Tahajud dan memasrahkan permohonan dari ketidakberdayaannya kepada Allah Yang Maha Berdaya.

Ada yang membiasakan baca Ayat Kursi dengan ‘wala ya`uduhu hifdhuhuma’ diulang 9x untuk memantapkan hatinya baru diakhiri ‘wa huwal ‘aliyyul ‘adhim’. Ada yang tetap bekerja keluar rumah, ke kantor, warung, atau kegiatan penghidupan yang lain, dengan sebelumnya menggosokkan sabun serbuk di seluruh tubuhnya, terutama tangan dan wajahnya.

Jamaah Maiyah yang melakukan itu lantas meyakini bahwa ia sebagai wakil Tuhan yang diamanati untuk mengelola kehidupan dengan prinsip maslahat dan berkah, pada tahap tertentu diperkenankan oleh Allah untuk mengatasi warna merah itu sehingga menjadi tosca. Dari bahaya menjadi indah. Dari ancaman menjadi kenikmatan.

Cak Nun Interpretasikan Perilaku Manusia

Cak Nun menginterpretasikan perilaku bijak manusia ke dalam jenis manusia yang tak jauh dari kita semua, yakni Jamaah Maiyah. Siapa yang tak mengenal sekumpulan manusia haus akan ilmu agama ini. Yang setiap bulannya selalu ikut belajar bersama Cak Nun di banyak tempat dan kota. Sebut saja seperti “Sinau Bareng”, “Mocopat Syafaat”, “Kenduri Cinta”, hingga lainnya.

Cak Nun menggambarkan bahwa sudah seharusnya manusia bisa menyadari akan dirinya yang amat kecil di hadapan Allah Swt., sekaligus menganggap bahwa virus Corona juga serupa makhluk, yang diciptakan dan ditugaskan oleh Allah Swt. untuk menyadarkan umat manusia agar selalu mendekatkan dirinya kepada Yang Kuasa. Alangkah baiknya kita juga jangan sampai melaknat atau bahkan mencela virus tersebut karena yang menentukan kemunculannya hanya Allah Swt. semata.

Cara mendekatkan diri pun bermacam-macam. Jika terkait dengan kutipan Cak Nun di atas, salah satu upaya mendekatkan diri adalah dengan cara tawakal kepada Allah Swt. Tawakal secara definisi ialah menyerahkan semua urusan kita kepada Allah, setelah kita melakukan sesuatu hal dengan semaksimal mungkin. Begitu juga dengan aktivitas semasa pandemi Corona ini. Kita harus saling membentangkan “tirai besar” atau “hijab” sebagai bentuk penjagaan pada diri kita sendiri atau Cak Nun menyebutnya self lockdown, seperti misalnya beraktivitas di rumah saja, memperbanyak intensitas dalam beribadah, lalu makan makanan sehat, menjauhi kerumunan, atau tak keluar rumah jika tak ada hal yang mendesak.

Bagaimana Orang Lain Menaati Instruksi Pencegahan Tersebut?

Setelah itu mungkin kita bertanya. Bagaimana dengan manusia lainnya yang mungkin tak bisa menaati instruksi tersebut? Sebab, tersekat oleh faktor ekonomi atau pekerjaan yang harus dikerjakan di luar rumah. Seperti tukang ojek, sopir angkutan umum, pedagang asongan, pedagang pasar, dan lainnya?

Maka, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah tetap menyerahkan semuanya kepada Allah atas rezeki yang kita dapatkan nantinya. Dengan kita wujudkan tetap bekerja mencari nafkah sebagaimana biasanya, memperbanyak berdoa selama di luar rumah. Ditambah dengan penerapan aturan-aturan kesehatan agar sebisa mungkin kita tak terjangkau oleh perantara virus tersebut. Seperti mencuci tangan dengan sabun, makan makanan yang bergizi, hindari kerumunan, dan memilih tidak bekerja jika badan terasa demam cukup tinggi.

Semua itu merupakan bentuk tawakal yang sudah seharusnya manusia lakukan agar kecintaannya kepada Allah SWT. Tetap terjaga. Dan seharusnya pula, dengan adanya virus yang masih membayang-bayangi itu. Kita dapat lebih meningkatkan intensitas ibadah kita kepada Allah SWT. Dengan selalu berdoa agar virus ini dapat segera hilang dari muka bumi.

Kiamat Kecil corona

Cak Nun: Perang Besar Kiamat Kecil Akibat Corona

Menurut Cak Nun, saat ini kita sedang mengalami kiamat kecil akibat corona. Dan mungkin juga kebanyakan orang, saat ini dunia sedang mengalami stres atau tekanan yang diakibatkan oleh kehadiran virus Corona yang merupakan perang besar bagi manusia. Karena, musuhnya kali ini bukanlah sebuah kelompok atau negara, melainkan sebuah benda mikroskopis yang mengancam eksistensi manusia. Coronavirus juga dapat dikatakan sebagai Qiyamah Sughra jika dilihat dengan cara pandang Allah dalam menciptakan makhluk.

Tidak ada satu pun manusia yang tidak terlibat dalam peperangan melawan virus Corona. Meski demikian, manusia yang biasanya sangat percaya bahwa dirinya serbadigdaya, kali ini bahkan tidak memiliki peta serangan yang jelas, apalagi strategi serang. Bagaikan perang dengan prajurit buta, saat ini kita hanya dapat melakukan perang dengan segala upaya yang memungkinkan bagi diri kita. Bukan tanpa alasan, panglima perang yang harusnya menjadi acuan pun, bingung bukan kepalang. Maka, sudah barang tentu, arahannya pun simpang siur.

Kiamat Kecil Akibat Corona

Kiamat Kecil corona

Manusia tidak bisa menyerang Coronavirus. Tidak bisa menyerbu Coronavirus sebagai subjek. Paling jauh hanya mempertahankan diri agar tidak terlalu kalah oleh virus siluman itu. Posisi saat ini, umat manusia, dengan segala kecanggihan teknologinya, termasuk sophistikasi senjata-senjata perangnya sudah kalah dan semakin kalah. Padahal, penduduk bumi sekitar 6,5 miliar dan virus Corona hanya semata wayang. Ia menempel ke manusia, numpang replikasi sampai sebanyak berapa pun manusia yang ditempelinya. Lebih mengerikan lagi kalau kekalahan manusia itu tidak hanya berupa sakit dan mati, tapi juga gila.

“Orang-orang yang makan mengambil riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila.”

Riba dan Kebohongan

Riba adalah suatu jenis dusta ekonomi, manipulasi hitungan, kebohongan ilmu, dan kecurangan akhlak. Itu berlangsung tidak hanya dalam dunia perbankan, tapi juga dalam sistem politik, sistem kekuasaan, arus informasi, budaya komunikasi, hubungan negara dan rakyat dan apa pun yang manusia kerjakan. Maka menurut Tuhan, kita semua ini gila, baik dalam urusan dengan-Nya maupun dengan sesama manusia.

Kegilaan yang dimaksud oleh Cak Nun dalam hal ini adalah sebuah kebohongan. Meskipun kebohongan adalah suatu hal yang tampak sepele, tetapi ia merupakan pengingkaran terhadap kesehatan mental dan tertib berpikir yang dimiliki oleh akal kita. Hal ini membuat akal kita tidak berfungsi. Padahal, Tuhan sudah berkali-kali memberi warning dengan sebuah pertanyaan retoris Afala ta’qilun? Afala tatafakkarun?” yang merupakan sindiran halus bagi kita, ketika Tuhan mempertanyaan fungsi akal kita. Mungkin jika diterjemahkan dalam kultur bahasa Indonsia, ini akan lebih seperti, “Pakailah otakmu, jangan pakai dengkul.”

Firman Allah SWT Tentang Kekufuran dan Kemusyrikan

Firman-firman Allah tentang dusta atau kebohongan dalam Kitab-Nya pada umumnya menyangkut eksistensi Allah, yang muaranya adalah kekufuran dan kemusyrikan. Namun, kalau manusia mau berpikir secara dialektis, kita akan menemukan bahwa dusta tentang Allah pada praktiknya melimpah menjadi dusta atas atau tentang ciptaan-Nya. Maka, kemusyrikan dan kekufuran sebenarnya sangat teraplikasi dan terimplementasi pada kehidupan horizontal umat manusia sendiri, pada skala kecil maupun besar, dari rumah tangga hingga negara, dari keluarga hingga globalisasi.

Cak Nun juga memberikan kita peringatan bahwa mestinya, setiap orang yang mengerti rangkaian berpikir dan berpikir rangkaian, dapat memiliki asosiasi bahwa dusta tentang dan kepada Allah terkait erat dengan dusta pada atau tentang segala ciptaan-Nya: manusia, alam, makhluk-makhluk non-manusia, Hari Akhirat, dan seterusnya. Alih-alih menerima dan memperhitungkan konteks Akhirat sebagai Hari Pembalasan.

Baca Juga: Muhasabah Jamaah Maiyah Selama Pandemi

Pandemi Menundukkan Ego dan Hawa Nafsu

Dengan demikian, pandemi ini tidak hanya mengharuskan kita untuk menundukkan ego dan hawa nafsu, tetapi juga mengaktifkan kembali akal sehat serta kemampuan kita untuk berpikir tertib. Karena, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang terlalu besar tanpa dimulai dari hal yang paling kecil. Jika hal tersebut berupa kelalaian, mungkin hal ini juga bermula dari kelalaian kecil kita melakukan manipulasi, kebohongan, dan membiarkan akal sehat kita mati akibat terlalu lama tidak berfungsi.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Manusia dengan ilmu, kebudayaan, dan peradabannya selalu mendahului Allah. Artinya, mengedepankan dirinya dan membelakangkan Tuhan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.

Perlikau Budaya dan Nilai Peradabannya

Bagi kebanyakan manusia, tecermin dari perilaku budaya dan nilai peradabannya, menomorduakan Tuhan dan menomorsatukan dirinya sendiri. Kalau pakai idiom Allah, “Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi,” maka ciri utama akhlak kebudayaan manusia adalah merendahkan Nabi. Merendahkan Nabi adalah merendahkan Tuhan, dengan berbagai kemungkinan luas pemaknaannya.

Kita, dengan segala keterbatasan kapasitas yang kita miliki saat ini, dapat berkontribusi untuk melakukan perlawanan atas situasi yang sedang terjadi. Jika kemampuan kita hanya sebatas rapalan doa maka maksimalkan. Jika memiliki kelebihan rezeki untuk makanan sehari-hari, hendaknya kita tidak berbuat atau tidak berpikir untuk mementingkan diri sendiri. Karena kita adalah bagian dari makrokosmos yang telah menyebabkan datangnya kondisi ini maka hendaknya kita juga turut andil dalam menyelesaikannya.

Allah SWT Mengingatkan Kita: Kiamat Kecil dan Corona

Jika kita memiliki kesempatan untuk membagi sebuah informasi, kita harus mengingat pesan yang tanpa tedeng aling-aling Allah sampaikan dalam Surah Al-Hujurat itu.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Sekarang, sampai waktu yang akan lama, kita ikut menanggung sifat takabur umat manusia kepada Tuhan: kiamat kecil akibat Corona merebahkan kita semua ke belakang punggung di rumah kita masing-masing. Dapatkan buku Lockdown 309 Tahun karya Cak Nun di sini.

 

tips menjadi manusia terbaik

Tips Menjadi Manusia Terbaik Menurut Cak Nun

Pada masa pandemi Covid-19 atau Corona ini, Cak Nun memberikan tips menjadi manusia terbaik. kita pasti sering mendapat kabar berita jika masih banyak masyarakat yang tak mengindahkan seruan social atau physical distancing, yang bahasa akrabnya “Di Rumah Saja”, padahal mereka sedang tidak ada keperluan khusus, dan justru melakukan hal-hal yang kurang urgen seperti nongkrong, membuat pesta berskala besar, hingga berkumpul pada satu titik tertentu. Mereka yang melanggar aturan pun kemudian ditindak secara tegas oleh kepolisian dan TNI, seperti pembubaran, bahkan ada juga yang disetrap di kantor polisi. Padahal, gerakan social atau physical distancing semacam ini cukup penting dan berperan dalam memutus rantai penyebaran virus yang kini menguasai dunia.

Sementara itu, kita yang menyaksikan pelanggaran demi pelanggaran juga pasti merasa jengkel, bahkan tak sedikit pula yang mencelanya di media sosial dengan kata-kata yang kurang pantas. Namun, apakah bijak perilaku seperti itu? Tentu keduanya dinilai kurang bijak karena sama-sama tak mampu mengontrol keinginan diri dengan baik dalam menghendaki sesuatu, terutama dalam menyikapi sesuatu yang menjadi perintah atau larangan dalam kehidupan bermasyarakat ini.

Tips Menjadi Manusia Terbaik Menurut Cak Nun

tips menjadi manusia terbaik

Lockdown adalah buku terbaru karya Cak Nun

Akan tetapi, kira-kira bagaimana pendapat Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun mengenai fenomena ngeyelnya masyarakat dalam menaati aturan negeri ini? Beginilah kira-kira pendapat Cak Nun, yang sebagian tulisannya telah beliau sampaikan dalam buku terbarunya berjudul Lockdown 309 Tahun.

Demikianlah budaya manusia. Yang pasti direlatifkan, yang relatif dipastikan. Dan, yang sulit dipermudah. Serta, yang mudah dipersulit. Kalau bahasa Jombang-nya, manusia memang ngewohi. Jika lapar tidak bisa mikir. Dan, kalau kenyang malas mikir. Ketika jomlo mengeluhkan kejomloannya, ketika sudah nikah mengeluhkan rumah tangganya.

Sesungguhnya dunia adalah negeri rantauan dan bukan negeri tempat menetap. Dan, Nabi Adam alaihis salam diturunkan di dunia untuk menjalani hukuman. Karena itu, berhati-hatilah. (Az-Zuhd, Ibnu Abi Dunya, No. 50)

Allah menciptakan manusia sesudah makhluk-makhluk yang lain sehingga disebut “ahsanu taqwim”. Paling oke. Paling sempurna dibanding yang lain-lain.

Bagaimana Seharusnya Perilaku Kita dalam Menghadapi Hal-Hal Seperti Itu?

Sebagai manusia, tentu kita dianugerahi oleh cerdasnya akal pikiran serta kepekaan hati yang cukup tinggi sehingga mampu memilah sesuatu yang benar dan yang salah. Begitupun dalam menghadapi dinamika dunia yang terus-menerus dan akan terus berubah ini. Kita sebagai umat manusia harus mampu menyesuaikan terhadap segala kemungkinan dampak baik atau buruknya perilaku manusia.

Jika saat ini kita sedang diuji oleh pandemi Covid-19 yang menurut Cak Nun disebabkan oleh rusaknya dan angkuhnya ilmu pengetahuan manusia. Sehingga lupa bahwa dirinya tampak kecil di hadapan semesta, dan amat sangat kecil di hadapan Allah Swt. Maka, seharusnya kita semua mulai menyadari dan memekakan diri bahwa bisa jadi, pandemi yang kini banyak menyerang imun manusia merupakan teguran keras dari Allah Swt. agar jangan mudah terlena dengan urusan dunia yang fana ini, yang saking fananya selalu dianggap sebagai tempat persinggahan, atau istilah terkenalnya “sebagai panggung sandiwara saja”.

Bagaimana lagi jika kita ternyata sudah melakukan segala hal itu dengan cukup baik?

Kita sudah berperilaku dengan baik, bijak dalam bermedia sosial misalnya. Bahkan sangat tunduk dan patuh pada pemerintah perihal seruan dalam mencegah penyebaran virus Corona ini? Ingat, bahwa kebaikan itu tidak hanya kita yang merasakan, tetapi juga orang lain, khususnya di sekitar kita. Maka dari itu, sesungguhnya kebaikan tak perlu diutarakan, tak perlu dipamerkan. Bahkan kalau perlu simpanlah rapat-rapat, sebagaimana kita menyimpan dosa secara erat. Biar orang lain yang mengetahui dan menilai bagaimana baiknya sikap kita, yang nantinya akan berbuah sebuah timbal balik, yang bisa saja timbal balik itu akan bermanfaat bagi kita, meskipun kita tak menyadarinya.

Misalnya, kita sudah mengikuti anjuran pemerintah untuk selalu beraktivitas “Di Rumah Saja” agar memutus rantai penyebaran Covid-19. Nah, bisa jadi, kebaikan yang kita dasarkan dari hati kepada Allah Swt. demi kemaslahatan orang banyak mampu menolong mereka-mereka yang mungkin saja rentan. Para dokter dan perawat tak lagi kewalahan menghadapi jumlah pasien misalnya, atau kita yang kemungkinan kecil tak termasuk sebagai carrier atau pembawa virus, atau bahkan kita bisa menyehatkan fisik bumi secara tidak langsung melalui angka penggunaan kendaraan serta polusi industri yang terus menurun, udara di bumi yang kita pijaki ini bisa berangsur sejuk dan normal kembali. Bahkan, di langit DKI Jakarta, sampai terlihat wujud Gunung Salak yang pada tahun-tahun sebelumnya jarang muncul.

Petuah Cak Nun

Pada akhirnya, virus Covid-19 yang telah menyebar luas ini tak hanya bertugas untuk melemahkan sistem imun dan paru-paru. Tetapi, juga menyadarkan kita, bahkan menampar dengan keras akan kesombongan dan keangkuhan kita. Yang menurut Cak Nun, pada akhirnya kita tetap kalah dengan sebuah benda kecil yang bermikro-mikro ukurannya. Salah satu jalan agar kita menang kembali adalah jadilah tawaduk, jangan pernah sombong, jangan pernah merasa bisa mengalahkan apa pun. Karena bagi Cak Nun, satu-satunya yang bisa mengalahkan kita hanyalah keagungan Allah SWT. Yang salah satunya melalui makhluk ciptaan-Nya berupa virus bernama Corona. Dapatkan buku Lockdown 309 Tahun di sini.

Sekelumit Kutipan Buku Cak Nun yang Membuat Hati Luluh Lantak

Setiap sakit ada obatnya, setiap penyakit ada penawarnya. Allah kasih sakit, Allah kasih sembuh. Tinggal soal waktu misterinya. Kalimat ini bisa menjadi renungan bagi kita semua kapan kita bisa sembuh dari kondisi sekarang ini, sembuh dari yang namanya pagebluk Covid-19. Mungkin pemerintah maupun WHO hanya mengira-ngira kapan virus ini akan selesai. Tepatnya kapan? Sungguh hanya Allah dan waktu itu sendiri yang bisa menjawab misteri tersebut.

 

Hampir seluruh penduduk bumi saat ini takut pada benda kecil ini. Namun, apakah orang-orang itu sadar bahwa makhluk kecil ini hanya menjalankan tugasnya dari si pemilik? Siapa pemiliknya? Pernahkah kalian mengira virus kecil ini juga merupakan salah satu dari makhluk-Nya? Jika memang benar virus mungil ini berasal dari Sang Pemilik Jagat Raya, berarti virus ini pun selayaknya makhluk, dia akan tunduk dan patuh terhadap perintah Sang Pemilik.

Namun, apakah selama ini kita sebagai makhluk-Nya sudah tunduk, takut, taat, dan patuh terhadap-Nya?“Mungkin justru karena semua tidak takut kepada Allah maka Allah kasih fakta amat kecil, Coronavirus, yang tak seorang pun tak takut kepadanya. Mungkin Allah menunjukkan betapa tidak rasionalnya kehidupan umat manusia.”

 Bahkan, tidak ada pemimpin agama yang mengajak umat manusia untuk mencari apa kesalahan kita semua ini sebagai manusia sehingga kedahsyatan ilmu dan peradaban kita diejek, dihina habis-habisan oleh hanya seekor virus Corona. Inilah sifat manusia: ketamakan, kesombongan, dan jauh dari rasa tawaduk terhadap Sang Pencipta.

Manusia tidak pernah mau belajar, merasa sudah mempunyai ilmu yang tinggi. Namun, tingginya ilmu tidak sebanding dengan pemikiran dan kesadaran mengenai peran dan kekuasaan Allah, Tuhan Semesta Alam ini. Semestinya manusia berpikir jauh bahwa seekor makhluk yang bahkan lebih kecil dari nyamuk ini telah memberikan pelajaran bagi kita semua betapa berkuasanya Ia.

Muatan dan aspirasi ilmu kita semua berbeda antara pra-Corona, sedang Corona, serta nanti pasca-Corona—andaikan Allah bermurah hati dan berkenan kita “menangi” waktu pasca-Corona itu. Saat ini kita sedang dan masih berada pada zaman Corona. Bagaimanakah zaman nanti setelah Corona ini berakhir? Apakah Allah masih memberikan kita waktu untuk menemui waktu pasca-Corona? Apakah manusia tetap akan bertahan dengan ilmunya yang begitu sombong tanpa ingat sedikit pun dengan Sang Maha Kasih? Ataukah manusia akan semakin mendekat kepada-Nya, semakin takwa, setakwa takwanya takwa?

Kutipan-Kutipan Cak Nun Ini Cocok sebagai Renungan #DiRumahAja

Ramadan tiba. Kita semua berharap, pandemi ini segera berakhir. Kalau kita sebagai manusia bisa menawar, caranya hanya dengan berdoa semoga Corona berakhir sebelum Lebaran. Namun, lagi-lagi manusia hanya bisa berharap dan berdoa dengan kesemogaannya. Kita sering mendengar bahwa doa insya Allah akan lebih mustajab jika dilantunkan oleh banyak orang, oleh jamaah. Namun, sejak wabah ini menyerang dunia, suasana menjadi sunyi senyap. Tablig akbar ditiadakan, tidak dianjurkan lagi shalat berjamaah di masjid. Tidak ada ajakan wirid, zikir, mengaji total, atau istigasah dari NU, MUI, maupun Muhammadiyah. Tidak ada pencerahan logika maupun spiritual. Tidak ada introspeksi, muhasabah, atau apa pun yang didorongkan oleh para pemimpin agama. Dan, kalau kemudian Tuhan memperkenankan seorang pasien Corona sembuh dan pulih, juga tidak ada suasana syukur, tidak ada sujud syukur, tidak ada “slametan” atau bentuk apa pun yang mencerminkan ada hubungan antara manusia dan Tuhan.

Ada tak terhitung labirin dan lapisan-lapisan hijab di bumi dan langit, di siang dan malam, di kemarin dan esok. Sekarang seluruh umat manusia penduduk bumi sedang diajak main petak umpet dengan Hijab Corona. Menurut KBBI, salah satu arti hijab adalah dinding yang membatasi hati manusia dan Allah Swt. Saat ini, manusia tengah disibukkan oleh musibah yang muncul mendunia secara tiba-tiba. Inilah saatnya kita untuk memperbaiki diri, waktu yang tepat untuk membuka Hijab Corona. Kita sibak penutup hati kita selama ini. Apa lagi dengan datangnya Ramadan, semoga Allah mengabulkan semua doa yang dipanjatkan seluruh umat-Nya di dunia ini, khususnya doa segera hilang pandemi Covid-19.

Sampai detik ini, sudah berapa persenkah warga Indonesia yang telah meninggal karena Covid-19? Mungkinkah masih akan terus bertambah? Sebenarnya, kematian itu merupakan proses perjalanan manusia untuk menemui Sang Penciptanya. Hal tersebut berarti kematian merupakan berita bahagia. Namun, pada sisi lain, kematian merupakan hal yang paling ditakutkan oleh sebagian manusia. Bisa dibilang, manusia tidak ingin mati, mereka ingin hidup selamanya. Maka “Innalillahi wainnailaihi raji’un”, selalu dianggap, dirasakan, dan disimpulkan sebagai ucapan duka atas maut yang menimpa seseorang. Padahal, kalimat itu hanya informasi teknis, steril, dan datar—bahwa “siapa dan apa saja berasal dari Allah dan kembali pula kepada Allah”. Tidak ada nada suka atau duka.

Pemerintah telah menganjurkan untuk tidak keluar rumah supaya mata rantai pandemi ini segera terputus. Meskipun demikian, rakyatnya ajaib. Mereka bisa tenang dalam kecemasan. Mereka berlaku normal dalam situasi darurat. Mereka sanggup bergembira dalam kesedihan. Mereka terbiasa “nekat”, mencapai level sangat tinggi di atas “tekad”. Kalau mau keluar rumah, ya, keluar saja. Hati kecilnya berkata, Di rumah ya bisa mati, di luar rumah ya bisa mati.

© Copyright - Bentang Pustaka