EMHA AINUN NADJIB atau akrab disapa Cak Nun, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur. Pernah meguru di Pondok Pesantren Gontor, dan “singgah” di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Emha Ainun Nadjib merupakan cendekiawan sekaligus budayawan yang piawai dalam menggagas dan menoreh kata-kata. Tulisan-tulisannya, baik esai, kolom, cerpen, dan puisi-puisinya banyak menghiasi pelbagai media cetak terkemuka.

Dalam masa pandemi saat ini,Cak Nunkembali menyapa jamaah Maiyah melalui buku terbarunya yang berjudul Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar.

Buku ini merupakan tulisan terbaru bergaya novel karya Cak Nun, yang membahas interaksi antara Simbah bersama tiga penerusnya dengan watak dan latar belakang yang berbeda; Gendon, Pèncèng dan Beruk, dalam memaknai setiap tujuan hidup manusia serta dinamika di dalamnya.

Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar, banyak melibatkan fenomena yang terjadi di masa kini dan lampau, mulai dari agama, politik, budaya, sejarah, hingga kehidupan setelahnya, yang seolah mengajak kita berkaca kembali, apakah Indonesia saat ini sudah tercipta sesuai dengan harapan para pendahulunya?

SINOPSIS:

Mereka tidak punya kebiasaan untuk mencari kebenaran bersama-sama. Tidak cenderung datang dengan “biso rumongso”. Malah menantang siapa saja di luar dirinya dengan sikap mental “rumongso biso”, merasa unggul, merasa paling benar, merasa pasti masuk surga, dan semua yang akan ditemuinya adalah para penghuni neraka.

Itu pun mereka sibuk dan selalu ribut dengan menyimpulkan “siapa yang benar” dan “siapa yang salah”. Siapa-siapa yang dianggap benar, sehingga dia “pro”, maka disimpulkan benar 100%, sedangkan yang salah pasti salah 100%.

ARTIKEL

cak nun
/
Pada saat pre-order, buku Lockdown 309 Tahun karya Emha Ainun…
lockdown
/
Sebentar … setan yang mana dulu, nih? Ya, setan, makhluk ciptaan…
Cak Nun
/
Bagi kita, pandemi Coronavirus atau Covid-19 ini sudah seperti…

Spesifikasi produk

Ditulis oleh Emha Ainun Nadjib / Cak Nun

Disunting oleh Arief Koes Hernawan, Nurjannah Intan, & Eka Arief Setyawan

260 halaman, soft cover, 230gram

Bookpaper 55gr, dilengkapi pembatas buku

Keunggulan Buku

  • Tulisan terbaru Cak Nun dengan gaya novel.
  • Ditulis dengan bahasa yang ringan, penuh “guyonan” ala Cak Nun.
  • Dilengkapi ilustrasi menarik yang memanjakan mata pembaca.
  • Menawarkan diskusi mengenai pemaknaan setiap tujuan hidup manusia serta dinamika di dalamnya.
  • Membahas fenomena yang terjadi pada masa kini dan lampau, mulai dari agama, politik, budaya, sejarah, hingga “kehidupan” setelah mati.
  • Penuh refleksi akan sikap menghargai perbedaan pendapat dan keyakinan.
  • Buku ini akan mengobati kerinduan para Jamaah Maiyah yang ingin bertemu dan berdiskusi dengan Cak Nun.Dilengkapi ilustrasi menarik.
  • Menghadirkan nilai-nilai filosofis kota Yogyakarta sebagai cerminan jati diri bangsa.

KATA MBAH NUN

Wongso, The Legend

Kepada Beruk, Gendhon, dan Pèncèng, saya berkisah puluhan tahun silam di sebelah barat perempatan Wirobrajan selatan jalan, ada warung wedangan Mbah Wongso. Ini warung legendaris. Khas angkringan Yogya. Tidak hanya nasgithel-nya, nasi kucing, dan variasi kecil cemilannya, tapi juga karakter Mbah Wongso-nya, filosofi dan budayanya

Rasulullah Bukan Teladan Indonesia

Berbicara urusan penyakit dan wabah, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah Allah Swt. menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari)

“Tha’un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian, Dia jadikan rahmat kepada Kaum Mukmin. (Thaun adalah pembengkakan parah yang mematikan.)

Demikianlah Coronavirus, menurut muatan pikiran Jamaah Maiyah:

Tak Ada Suka atau Duka

Coronavirus yang menggegerkan dunia ini— terserah pandangan Anda dari mana datangnya, alamiah atau konspirasi—ujung terjauhnya adalah maut atau kematian pada dan bagi manusia.

Dan, memang sesungguhnya peradaban manusia, termasuk kehidupan setiap pribadi manusia, ditentukan oleh akar pandangannya tentang kematian. Kebanyakan manusia meyakini bahwa di dunia ini mereka sedang menjalani kehidupan dan masing-masing menantikan saat kematiannya rata-rata dengan hati yang tidak hanya cemas dan gelisah, tapi bahkan tidak rela.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka Yogyakarta