Sinopsis
“Jika maut tidak menjemput kita hari ini, ia hanya sedang menunggu di tikungan esok pagi.”
Gugurnya sang suami di tengah kecamuk Revolusi 1946 tak melumpuhkan Sitti Sastrani. Berbekal luka dan senjata warisan sang suami, perempuan Minang ini melangkah mantap ke jantung garis depan pertempuran Yogyakarta: Benteng Vredeburg.
Namun, perang bukan sekadar soal angkat senjata. Di balik kepulan asap mesiu dan pekatnya intrik konspirasi memburu mata-mata musuh, Sastrani berhadapan dengan musuh yang tak kalah berbahaya: berseminya cinta yang menguji prinsip hidupnya.
Di antara desing peluru dan pengkhianatan, Sastrani menyadari satu hal—perang tidak hanya menuntut darah dan nyawa, tetapi juga keberanian untuk tetap berdiri di atas kehancuran hatinya sendiri. Bersama Laskar Wanita Indonesia, Sastrani membuktikan diri sebagai bagian dari mereka yang berjuang demi sejengkal tanah Indonesia yang merdeka.