Book Launch 99 Nama Tuhan untuk Jiwa yang Lelah, Gus Nadir Ajak Pembaca Menghidupkan Asmaul Husna dalam Keseharian

Selama ini, umat Muslim mengakrabi Asmaul Husna sebagai bacaan selepas sholat, hafalan, maupun bagian dari wirid. Namun, apakah selama ini 99 nama Allah telah menjadi pegangan ketika seseorang sedang menghadapi persoalan hidup?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan yang dibawa Gus Nadir dalam buku terbarunya, 99 Nama Tuhan untuk Jiwa yang Lelah, yang akhirnya resmi diluncurkan dalam acara Book Launch pada Sabtu (29/8/2026) di Aula Lantai 3 PP Cemerlang An-Najah, Bahrul Ulum. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Muktamar Ke-35 NU.
Melalui buku terbarunya, Gus Nadir mengajak pembaca melihat Asmaul Husna dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama melalui berbagai persoalan yang dihadapi manusia modern.
Dari Asmaul Husna untuk Persoalan Jiwa yang Lelah
Dalam acara tersebut, Gus Nadir menjelaskan bahwa buku ini lahir dari kegelisahannya melihat berbagai persoalan manusia modern terkait fenomena kelelahan mental yang makin marak dibicarakan, juga berbagai kegelisahan jiwanya sendiri.
“Saya mulai berpikir, apa sih, solusi dari persoalan-persoalan manusia modern ini? Nah, saya kembali kepada Asmaul Husna,” terang Gus Nadir.
Beliau juga menjelaskan bahwa buku ini ditulis bukan untuk menggantikan buku-buku tentang Asmaul Husna yang sudah ada, juga bukan untuk mengatakan bahwa Asmaul Husna tidak perlu diwiridkan. Melainkan bagaimana Asmaul Husna yang kita baca itu bisa menjadi relevan ketika kita menghadapi suatu masalah.
Bagi Gus Nadir, di situlah pentingnya menghidupkan Asmaul Husna dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau menggambarkan hubungan manusia dengan Allah seperti sinyal. Tidak semua orang selalu memiliki “sinyal” yang kuat kepada-Nya. Karena itu, Asmaul Husna diharapkan dapat menjadi jalan untuk menghubungkan kembali manusia dengan Allah.
Melihat Asmaul Husna sebagai Peta Perjalanan Hidup
Alih-alih menjelaskan 99 nama Allah berdasarkan urutan yang umum dikenal, Gus Nadir menyusunnya seperti sebuah peta perjalanan manusia.
Menurutnya, perjalanan hidup tidak selalu berjalan lurus. “Namanya hidup ini tidak sesuai dengan urutan. Ada kalanya kita bablas, nyasar, ada kemudian kita lelah dan berhenti sejenak,” jelasnya.
Dari sana, Asmaul Husna dipetakan ke dalam enam langkah perjalanan yang kemudian dikembangkan menjadi 59 bab.
Pendekatan tersebut membuat buku ini tidak hanya berbicara mengenai makna nama-nama Allah, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman manusia sehari-hari.
Asmaul Husna sebagai Jalan untuk “Pulang”
Dr. M. Izzul Islam An Najmi, S.Ag., M.Ag., seorang Akademisi dan Peneliti Studi Keislaman yang turut hadir dalam acara tersebut, menilai pendekatan ini menjadi salah satu kekuatan buku.
Menurutnya, meskipun pembahasan mengenai Asmaul Husna sudah banyak ditemukan, buku Gus Nadir menghadirkan narasi yang dekat dengan persoalan manusia modern, terutama generasi muda.
Beliau menyebut bahwa buku ini mengajak manusia kembali kepada “akar” yaitu Asmaul Husna. “Ketika kita kehilangan arah, ketika mental kita terganggu, maka akar kita adalah Asmaul Husna,” ujarnya.
Ditulis dari Pengalaman Jiwa yang Pernah Lelah
Menurut Gus Nadir, proses terpanjang bukan terletak pada penulisan, melainkan proses mengendapkan gagasan. Terlebih, buku ini ditulis ketika dirinya sendiri pernah mengalami kelelahan.
“Penulisnya sudah duluan lelah. Tapi dengan menulis tentang Asmaul Husna ini, jiwa saya yang lelah itu menjadi lillah,” ujarnya.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari semangat buku ini. Agar pembaca tidak hanya mengetahui Asmaul Husna, tetapi dapat menjadikannya teman dalam menghadapi berbagai fase kehidupan.
Harapan itu pula yang disampaikan Gus Nadir dalam acara Book Launch ini. Ia ingin ketika seseorang sedang menghadapi masalah, ada nama Allah yang kemudian teringat dan menjadi tempat untuk kembali.
Asmaul Husna untuk Dipahami dan Dihidupkan
Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro, Guru Besar UNISA, turut mengapresiasi cara Gus Nadir menjelaskan Asmaul Husna dengan bahasa yang dekat dengan masyarakat. “Saya membaca sebagian yang sempat saya baca, itu luar biasa. Gus Nadir bisa menyampaikan Asmaul Husna itu dengan nalar masyarakat.”
Menurutnya, Asmaul Husna memang memiliki dasar kuat dalam tradisi doa dan zikir. Namun, pemahaman terhadap nama-nama Allah juga perlu dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, KH A. Helmy Faishal Zaini, Sekjen PBNU 2015–2021, menilai penerbitan buku ini turut menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi menulis dan khazanah keilmuan, khususnya di kalangan santri.
Beliau juga menjelaskan bahwa rasa lelah adalah maqam. “Jiwa-jiwa yang lelah itu adalah jiwa yang sedang diuji, sebenarnya. Dan siapa yang bisa melampaui atau lulus dalam kelelahan ini, maka dia akan memiliki maqam, satu kedudukan yang semakin berderajat.”
Apa Kesan Pembaca Tentang Buku 99 Nama Tuhan untuk Jiwa yang Lelah?
Peserta yang hadir dalam Book Launch mengakui bahwa buku ini memberikan pengalaman yang sangat personal.
Lu’luatul Chizanah, salah satu peserta, mengaku bagian yang paling berkesan baginya adalah pembahasan mengenai dua nama Allah yang paling ia sukai, yaitu Al-Hayyul dan Al-Qayyum. Ia bahkan mengaku harus menahan tangis ketika membacanya.
Baginya, pengalaman membaca 99 Nama Tuhan untuk Jiwa yang Lelah terasa seperti pengalaman spiritual, terutama pada bagian refleksi yang dianggapnya sangat tepat sasaran.
Kenapa Harus Membaca 99 Nama Tuhan untuk Jiwa yang Lelah?
Sejak ditulis, buku 99 Nama Tuhan untuk Jiwa yang Lelah tidak menawarkan Asmaul Husna sebagai sesuatu yang baru. Ia justru mengajak pembaca kembali kepada sesuatu yang mungkin sudah lama mereka kenal, tetapi belum selalu mereka rasakan kedekatannya.
Karena ketika hidup terasa kehilangan arah, ketika hidup dilingkupi banyak keresahan, yang kita butuhkan mungkin bukan jawaban baru. Bisa jadi, kita hanya perlu menemukan jalan untuk kembali pulang. Kembali ke akar, kepada Allah, melalui Asmaul Husna.
Dan buku 99 Nama Tuhan untuk Jiwa yang Lelah adalah buku yang cocok untuk mengawali perjalananmu dalam menyusuri jalan untuk kembali pulang.
Ikuti seluruh media sosial Bentang Pustaka untuk mendapatkan informasi terbaru terkait buku 99 Nama Tuhan untuk Jiwa yang Lelah: Asmaul Husna sebagai Peta Hidup Manusia Modern.





Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!