Komparasi atau membanding-bandingkan sejatinya sangat lekat dengan kehidupan kita. Istilah “ingin menjadi yang terbaik”menjadi trigger agar kita berusaha lebih baik daripada orang lain, siapapun itu. Apalagi dengan kemudahan orang-orang menggunakan media sosial seperti saat ini, komparasi menjadi hal lumrah, yang tanpa kita sadari menimbulkan sisi kompetitif pada diri setiap orang. Tak terkecuali para ibu yang aktif mengggunakan media sosial sebagai wadah untuk membagikan kegiatan sehari-hari.

Berkaitan dengan hal itu, mari kita kutip salah satu bagian dari Komik Persatuan Ibu-Ibukarya Puty Puar yang berbunyi “karena ‘perjuangan’ di media sosial yang paling berat adalah untuk menerima, mensyukuri, dan merasa cukup”. Sadar atau tidak, keberadaan media sosial membuat kita seperti berlomba-lomba, dengan orang-orang yang bahkan tidak pernah kita kenal sebelumnya. Melalui satu postingan ke postingan lainnya, kita merasakan komparasi itu menjadi sebuah hal yang tidak bisa dihindarkan lagi. Ada standar kasatmata yang secara tidak langsung ingin kita penuhi, dan hal ini dapat membuat pergolakan batin yang luar biasa. Bahkan, sebuah penelitian di Journal of Child and Family Studiesmengatakan bahwa banyak ibu yang rentan merasa malu karena merasa tidak memenuhi ekspektasi di lingkungan sekitarnya sekaligus tidak ingin menerima kritik.

Tekanan ini tentu saja membuat kita ingin terus memperbaiki diri dan berusaha lebih keras. Kita tanpa sadar melampaui batasan yang ada pada diri sendiri dengan terus memenuhi tuntutan dari lingkungan sekitar. Kita memiliki kekhawatiran akan tidak terpenuhinya tanggung jawab sebagai seorang ibu. Padahal, menjadi seorang ibu merupakan fase yang baru bagi setiap wanita. Tuntutan untuk bisa melakukan apa saja akan memunculkan pertanyaan “mengapa setelah menjadi ibu aku menjadi seperti ini?”

Sudah banyak penelitian yang menjelaskan bahwa banyak wanita mengalami kehilangan jati diri setelah menjadi seorang ibu. Faktor terbesarnya adalah mengasuh anak dan mengurus rumah tangga. Seringkali kita merasa harus menjadi ibu yang seperti ini dan seperti itu. Anggapan ini lantas diamini oleh orang-orang di sekitar kita. Tuntutan demi tuntutan tanpa sadar terlalu sering kita lakukan karena takut akan ditegur, dikritik, atau dianggap paling berbeda. Lama-kelamaan, hal itu menjadi tekanan besar yang tanpa sadar kita lampiaskan tidak pada tempatnya. Ada yang melarikan diri, ada yang melampiaskan dengan memarahi anak-anaknya, dan yang paling buruk adalah dengan mengakhiri hidupnya.

Tekanan demi tekanan yang datang bertubi-tubi membuat banyak ibu mengalami krisis kebahagiaan. Hal ini sering dianggap sepele oleh banyak orang, atau bahkan tidak dipedulikan sama sekali. Padahal, sangat mudah untuk menghindarkan para ibu dari krisis ketidakbahagiaan, yakni menerima ketidaksempurnaan dalam diri sendiri. I love my imperfections. Kita tidak perlu berusaha terlalu keras, sampai melampaui batas limit agar bisa setidaknya sama atau bahkan lebih baik daripada orang lain. Karena menjadi seorang ibu adalah perjalanan, bukan lomba lari, semua punya rute dan tujuan masing-masing.

Melihat fenomena banyak ibu yang mengalami krisis kebahagiaan, Bentang Kids bekerja sama dengan tabloid Nova menyelenggarakan diskusi sederhana terkait The Beauty of Mother Imperfections yang akan dibersamai oleh Puty Puar (penulis Komik Persatuan Ibu-ibu, ilustrator,dan bloger), Ulil Maulida (Editor Bentang Kids), dan Dian Kardha (Managing Editor Tabloid Nova). Diskusi ini bertujuan untuk menjadi tempat curhat pagi para ibu tentang ketidaksempurnaan dalam mengasuh anak dan mengurus rumah tangga, serta cara yang baik untuk menanggulangi krisis kebahagiaan itu dengan “Me Time” meskipun hanya #5MenitAja. Diskusi ini berlangsung di Function Room Gramedia Matraman pada 27 Oktober 2018 mulai pukul 14.00 sampai dengan 16.00 WIB. Acara ini disponsori oleh Youvit dan S.O.S, serta Momikologi sebagai media partner.

Diskusi ini diharapkan dapat membuat para ibu tidak minder, apalagi merasa tidak berbeda dengan ibu-ibu lain karena pengasuhan anak atau cara mengurus rumah tangga yang terlihat berbeda. Sebab, kita tidak pernah tahu jika ketidaksempurnaan menjadi salah satu sumber kebahagiaan.