Keluarga adalah salah satu unit terkecil dalam tatanan sosial dan masyarakat yang berperan sangat penting dalam keberlangsungan masa depan suatu negara. Lewat keluarga, anak-anak mengenal arti endless love dan overwhelming support yang sesungguhnya. Lewat keluarga, anak-anak mengenal pendidikan pertamanya tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Tentunya, keluarga juga menjadi tempat kembali setelah kita mengembara keliling dunia.

Akan tetapi, tidak jarang kita mendapati banyak anak-anak yang memilih untuk burnout dari sekolah, memutuskan untuk pisah rumah dengan orang tua, bahkan menjadi trouble maker di lingkungannya yang disebabkan oleh keluarga yang tidak solid dan kuat. Jika dalam hal individu, kita mengenal adanya individu yang resilient atau tahan banting dalam menghadapi kesulitan dan stres, nah di dalam keluarga pun sebenarnya ada yang disebut dengan resilient keluarga. Di Indonesia, kita sudah mengenalnya dengan ketahanan keluarga.

Keluarga yang resilient dimaksudkan sebagai keluarga yang menunjukkan interaksi antarindividu sebagai sesuatu yang dinamis, saling membantu untuk beradaptasi, mengatasi persoalan dan permasalahan dengan solid, serta menekankan konsep tentang family is the greatest team. Tentu kita tidak bisa memungkiri bahwa terkadang masalah dalam keluarga dapat memengaruhi keberlangsungan hidup dan masa depan dari para anggota di dalamnya. Seperti ketika orang tua bertengkar, bahkan hingga bercerai, anak akan merasa terluka dan tidak dipedulikan sehingga banyak kasus-kasus youth crime datang dari unfinished problem yang bersumber dari keluarga.

Masalah lain yang sering kita hadapi adalah ibu-ibu baru, yang stres luar biasa menyesuaikan peran baru mereka: kekurangan tidur dikombinasikan dengan semua tugas sebagai orang tua baru; kesulitan dalam menghadapi masa transisi dari yang sebelumnya hanya mengurus suami, sekarang harus mengurus anak. Jika mereka tidak mendapatkan family support yang masif, bisa jadi stres berkepanjangan tidak akan segan-segan datang pada mereka hingga mungkin dapat memengaruhi ketahanan sebuah keluarga tadi.

Masalah akan terus datang karena pada dasarnya hidup adalah perjuangan, tinggal bagaimana agar diri kita menjadi lebih tangguh sehingga berdampak pada keluarga kita untuk lebih tahan banting. Jika kita boleh menengok sebentar ke negara dengan tingkat kebahagiaan paling tinggi selama 40 tahun berturut-turut, Denmark, maka yang harus kita tingkatkan adalah togetherness atau kebersamaan. Melalui togetherness, kita akan belajar merajut kembali kehangatan dan belajar betapa krusialnya peran dari masing-masing anggota keluarga yang sering kali kita lupakan. Ada kita sebagai orang tua yang memiliki kewajiban mendengarkan setiap cerita dari anak-anak, ada kita sebagai orang tua yang memiliki andil dalam mengarahkan anak untuk stay motivated dalam menjalani kehidupan, dan ada sosok anak-anak yang ternyata kehadirannya mampu mempererat hubungan dan kehangatan dalam keluarga.

Melalui togetherness ini, Moms & Dads juga bisa menikmati family time yang mungkin sudah jarang dilakukan bersama si kecil. Sebenarnya masih banyak cara agar fondasi ketahanan keluarga tetap kuat dan keluarga yang resilient dapat terwujud. Bentang Kids sudah menerbitkan buku The Danish Way of Parenting dan sudah cetak ulang ketiga pada bulan ini dan akan membantu happy parents di rumah dalam memahami dan memaknai arti sebuah keluarga dan kebahagiaan.

 

Tulisan ini dirujuk dari buku The Danish Way of Parenting.

Sumber gambar : www.tumblr.com