“The Naked Traveler” telah terbit tujuh judul. Kesemuanya menawarkan cerita yang berbeda dan
berkesan. Seolah setiap orang yang membaca buku tersebut dibuat iri oleh pengalaman Trinity.
Selama pembuatan “The Naked Traveler”, Trinity detail dan fokus dalam menggarap proyeknya. Trinity
seakan niat untuk membuat “virus” bagi pembacanya supaya berani keluar dari zona nyaman.
Setidaknya, dari membaca buku-buku traveling karyanya, kita diajari untuk mulai menabung, mengambil
cuti, hingga berani menikmati traveling ke tempat yang kita kagumi. Bisa dibilang series “The Naked
Traveler” selalu dinanti dan dicari oleh penggemar traveling. Selain karena bahasa yang digunakan
ringan dan tidak menggurui, Trinity berusaha untuk bercerita apa adanya di dalam setiap buku-bukunya.
Jika kalian tak lupa, ada kisah menggetarkan hati ketika Trinity yang berkunjung di perbatasan Palestina.
Padahal seperti yang diketahui, Palestina terbilang negara yang belum aman dikunjungi. Namun,
ternyata ia mampu melaluinya. Belum lagi cerita serunya berenang di laut mati, hingga berkomunikasi di
Tiongkok. Ada yang bisa tebak pada seri manakah cerita tersebut?
Jika kalian masih ingat juga, ada cerita Trinity yang merasakan mahalnya hidup di Timor Leste, cerita ia
akhirnya bisa mencicipi masuk ke rumah artis Bollywood. Tidak hanya itu, Trinity juga pernah mandi
bersama orang Jepang dan bisa jalan bareng cowok Korea.
Perjalanan wisata alam pun tidak kalah menarik. Trinity juga berbagi pengalamannya saat menyelam di
Wakatobi, sampai kejadian-kejadian menggelikan akibat badannya yang lumayan gede. Selain
perjalanan, Trinity juga pernah membagikan kisahnya saat menikmati berbagai jajanan dari setiap
negara. Dari pengalaman tersebut, Trinity menyadari bahwa orang Indonesia termasuk memiliki
kemampuan perut yang kuat sebab tidak banyak warga asing yang bisa menahan rasa pedas.
Soal kewaspadaan, Trinity juga membahasnya. Dari banyaknya karakteristik, orang Indonesia tampak
lebih waspada daripada orang asing. Hal ini terlihat dari kebiasaan orang-orang asing yang lebih cuek
meletakkan paspor dan visanya ketika di hotel atau hostel. Sementara orang Indonesia, mereka lebih
rapi dan waswas sehingga akan menyimpannya rapat-rapat dalam tas tersendiri. Bahkan, tak jarang
orang Indonesia yang menyimpannya di balik baju, saking takutnya kehilangan.
Semua kisah sedih, senang, mengagumkan, mengherankan, dan segala rasa mewarnai perjalanan Trinity
saat traveling ada dalam buku seri “The Naked Traveler”.
Puas menceritakan kisahnya dalam tujuh seri “The Naked Traveler”, hasrat Trinity untuk menulis tidak
berhenti begitu saja. Hal ini diwujudkan dengan terbitnya buku 69 Cara Traveling Gratis. Buku ini lebih
menjelaskan bagaimana teknik untuk mendapatkan kesempatan traveling tanpa mengeluarkan biaya
sendiri.

Buku ini berisi tentang panduan traveling minim budget. Buku 69 Cara Traveling Gratis ini juga baru saja
diluncurkan pada Ramadan tahun ini.
Lain cerita dengan “The Naked Traveler” yang lebih banyak memaparkan kisah penjelajahan, kali ini
Trinity lebih banyak memberikan saran pada tubuh-tubuh tulisannya. Bersama Yasmin, sahabatnya,

Trinity memaparkan 69 kemungkinan profesi yang bisa digeluti pembaca, khususnya generasi milenial
supaya bisa menikmati jalan-jalan secara gratis karena pekerjaannya.
Menurut Trinity, para traveler Indonesia memiliki kekuatan dalam backpaker. Mereka mampu
menghadapi segala macam halangan ketika traveling. Kuncinya adalah kesabaran. Saat mereka mampu
menghadapi segala kondisi, pasti mereka akan mendapatkan learning point-nya.
Setelah menyelesaikan The Naked Traveler 7 dan menerbitkan 69 Cara Traveling Gratis, sepertinya ada
kesan pamitan dari Trinity yang ia tuangkan dalam tulisannya di blog. Namun, apakah benar begitu?
Sebagai penerbit “The Naked Traveler Series” dan karya Trinity lainnya, Bentang Pustaka menyatakan
bahwa hal tersebut memang benar, Trinity berniat untuk mengakhiri perjalanan “The Naked Traveler
Series”.
Jadi, yang belum sempat membaca buku seri “The Naked Traveler”, yuk, segera dapatkan kesemua
serinya di sini.