Bagi mereka yang telah hidup dengan mengasuh anak kecil pada beberapa tahun terakhir atau lebih, mungkin sudah cukup akrab dengan istilah "hygge" (diucapkan 'hooga'). Hygge ini merupakan konsep Denmark yang secara harfiah diartikan sebagai ’kenyamanan bersama‘. Pada intinya, hygge ini adalah tentang menghabiskan waktu berkualitas dengan orang yang kita cintai. Sebuah kunci yang menjawab pertanyaan mengapa orang Denmark dianggap sebagai orang paling bahagia di dunia.

Namun, bagaimana bisa berlaku untuk orang tua yang memiliki anak-anak kecil?

Selama enam bulan terakhir ini, saya kurang sadar akan “hygge” sebagai sebuah gaya hidup baru yang bisa dinikmati oleh anak-anak. Melalui filter kurang tidur dan drama yang berkurang secara konstan, saya telah melihat gambaran indah orang-orang bahagia yang beristirahat dan meringkuk di sekitar kaus kaki mereka, membaca buku dan minum cokelat panas di depan api perapian. "Itu terlihat bagus," pikirku.

Menurut Iben Sandahl sendiri, seorang ahli parenting dari Denmark dan penulis The Danish Way of Parenting: Kiat-Kiat Membesarkan Anak dengan Bahagia, Iben mengatakan bahwa keluarga Denmark meluangkan waktu untuk “hygge” sebagai bagian dari rutinitas standar mereka, dan itu tidak sulit untuk dilakukan para orang tua. Cukup “nyalakan lilin, buat beberapa cokelat panas, duduk bersama anak-anak kita, dan beri mereka perhatian penuh.”

Dengan melakukan hal sederhana ini, Iben berpendapat bahwa mereka akan merasa "distimulasi dengan baik, diperhatikan, didengarkan, dan diakui, dan itu adalah sesuatu yang selalu bermanfaat bagi anak-anak karena menumbuhkan kedamaian batin.”

Minggu ini, saya mencobanya. Di suatu sore yang sangat dingin. Bukannya memaksa semua orang keluar rumah seperti biasanya, saya membiarkan putri saya kembali ke piamanya dan "kaus kaki"-nya, membuat cokelat panas dengan marshmallow dan duduk bersamanya di dapur, sambil memangku adiknya di lututku, kami mengobrol. Itu berjalan sangat baik. Lalu kita semua makan piza untuk minum teh. Pada akhir hari, putri saya berkata bahwa “dirinya adalah gadis paling beruntung di seluruh dunia karena saya sebagai ibu adalah sahabatnya.”

Saya bertanya-tanya apakah menjadi “hygge” sebenarnya menjadi 'malas'? Jika demikian, mungkin saya sudah berada di suatu tempat.

Lalu, bagaimana menjadi orang tua hygge?

Iben Sandahl, penulis The Danish Way of Parenting berpendapat bahwa ada beberapa yang boleh dan tidak boleh dilakukan:

JANGAN berkata "Sekarang waktunya kita melakukan hygge!"—akan ada terlalu banyak harapan yang dapat memblokir kehadiran dari hygge sendiri. Hygge adalah konsep tidak berwujud, sesuatu yang terjadi pada saat itu, dan karena itu sulit digambarkan.

Tinggalkan drama. Ada waktu lain untuk fokus pada masalah apa pun yang mungkin Anda alami. Hygge adalah tentang menciptakan tempat yang aman untuk bersantai bersama keluarga.

JANGAN gunakan iPhone atau iPad. Matikan atau lepaskan. Dengan memberikan perhatian penuh kepada anak-anak, Anda menjadikan waktu lebih mudah karena mereka biasanya siap melakukan sesuatu tanpa Anda berinteraksi.

Buat rutinitas harian/mingguan. Itu membuat anak-anak merasa aman dan mereka akan tahu bahwa itu terkait dengan sesuatu yang menyenangkan dan nyaman.

Jalankan upaya untuk menciptakan suasana nyaman yang menyenangkan. Mungkin menyalakan beberapa lilin, bermain game atau memanggang kue. Bagian dari fenomena “hygge” dimulai dengan persiapan yang Anda lakukan bersama.

Simak kisah – kisah menarik selanjutnya disini

---- ---- ----

Kisah di atas merupakan salah satu pengalaman yang ditulis secara langsung oleh penulis buku The Danish Way of Parenting. Bentang Pustaka telah mendapatkan rights untuk menuliskannya ulang dan mempublish dalam laman resmi kami demi tujuan mulia – melahirkan anak yang bahagia, keluarga yang bahagia, dan negara yang bahagia.

Artikel asli dapat dilihat di link berikut :

http://thedanishway.com/how-to-be-a-hygge-parent/

Sumber gambar : www.unsplash.com