Sejak awal berdirinya negara ini, rakyat Indonesia telah menghadapi berbagai tantangan dari dalam atau luar. Sejak agresi militer yang dilakukan Belanda untuk mengembalikan hegemoni kolonialnya, hingga rezim korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang terus mendarah daging sampai hari ini, rakyat Indonesia bisa dibilang telah mafhum dengan asam garam dalam bernegara.

Kita paham betul dengan sifat tamak penguasa—bukan pemimpin—yang semakin hari semakin menjadi. Berlomba-lomba meraih kekuasaan dengan berbagai cara telah disaksikan bertahun-tahun, hingga seakan-akan hafal dengan tindak tanduk calon penguasa yang gila jabatan.

Perlombaan ini berlangsung hingga membuat suasana di lingkungan sekitar runyam. Suasana politik, agama, dan kebudayaan menular hingga ke media massa dan sosial yang digandrungi masyarakat hari ini. Perlombaan-perlombaan tersebut sarat dengan intrik-intrik dari berbagai macam pihak sehingga membentuk paradigma yang mendikotomi rakyat Indonesia yang majemuk.

Terlebih para penguasa tadi telah menganggap remeh Tuhan. Mereka menganggap Tuhan bisa diperdaya, dimanfaatkan, diregulasi, dimanipulasi, diperalat, dijadikan properti kamuflase, pemalsuan, dan penggelapan. Seakan-akan Tuhan selalu bersama mereka dalam melakukan apa pun yang mereka inginkan untuk melanggengkan kekuasaan.

Dengan keadaan ini, para pejabat itu dengan rasa percaya diri dan optimis terus melakukan penjajahan yang tidak ada bedanya dengan apa yang dilakukan Belanda ratusan tahun yang lalu. Mereka merasa telah mengenggam nama Tuhan untuk meraih alam semesta dengan segala isinya.

Selain memanfaatkan Tuhan, para pejabat atau penguasa ini melakukan pembodohan-pembodohan yang terjadi di lingkungan akademik, seperti di sekolah dan kampus atau di lembaga kependidikan dan di media-media massa. Produk-produk dari lembaga pendidikan tersebut adalah insan-insan yang inferior kariernya dan lemah mentalnya, padahal mereka adalah kaum cerdik nan pandai.

Kenyataan-kenyataan seperti ini merupakan tantangan yang dihadapi oleh rakyat Indonesia, terlebih tantangan sudah bukan datang dari luar, tetapi dari diri sendiri: dari rakyat sendiri. Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun menantang kita sebagai individu maupun kelompok untuk bisa bersuara, tidak tinggal diam, dan melawan keadaan ini. Ketika nanti telah sampai waktu untuk meninggalkan dunia ini, kita tidak lagi terbayang oleh keadaan yang runyam yang kita tinggal mati.

Napas-napas tantangan itu ditulis Cak Nun dalam catatan hariannya yang berjudul Anak Asuh Bernama Indonesia, yang dibukukan dengan judul yang sama dalam seri “Daur”. Cak Nun mencoba mengetuk nurani kita sebagai anak bangsa terhadap suasana negara yang telah sedemikian rupa. Dalam esai ini, Cak Nun memberondong kita dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus membuat merenung:

Atau kau sekadar akan menyelenggarakan revolusi? Atau mungkin lebih lunak: reformasi? Atau penggal kepala kezalimannya saja: kudeta? Siapa nanti tokoh nomor satu pemerintahannya? Siapa saja menteri- menteri dan pejabat-pejabat kuncimu? Mana perlihatkan kepadaku susunan kabinetmu.

Dalam buku ini juga hadir tulisan-tulisan Cak Nun yang merupakan penemuan jawaban atas pertanyaan, perenungan, pembacaan diri atas situasi sosial, dan yang lainnya. Melalui edisi “Daur” ini Cak Nun tidak menyediakan tulisan yang siap dikonsumsi oleh pembaca, tetapi selalu mengajak pembaca untuk terus masuk ke pembelajaran hidup selanjutnya. Cak Nun pada akhirnya menitipkan kalimat yang mengajak kita merenungi posisi sebagai anak bangsa yang memikul tanggung jawab atas kelangsungan hidup di negara ini: “Indonesia adalah salah satu dari sekian anak asuhmu.”

Ingin baca tulisan Cak Nun lainnya? Buku Anak Asuh Bernama Indonesia dan seri “Daur” lainnya terbitan Bentang Pustaka bisa didapatkan di sini.