Sering kali kita menemukan perbedaan konotasi dan makna antara “desa” dan “kota”. Komparasi kemajuan kota dan desa terus diperbincangkan setiap tahunnya. Polarisasi antara desa dan kota terus-menerus menggali jurang di antara keduanya, kendati sebenarnya, desa dan kota bisa berhubungan dan terus berkesinambungan.

Desa selalu diartikan sebagai suatu wilayah yang tertinggal, kampungan, dan tidak melek teknologi. Oleh karena itu, desa selalu mendapat image yang buruk, walaupun tidak selamanya dan tidak semua desa seperti tersebut. Sekarang kita mengenal desa wisata, desa budaya, dan desa-desa lain dengan banyak keunggulan lainnya.

Kebalikan dari desa, kota selalu mempunyai kelebihan-kelebihan serta daya tarik yang tinggi bagi orang-orang desa untuk datang ke kota. Kota selalu hidup dengan glamor, kaya, canggih, up to date, juga dihuni oleh orang-orang yang terpilih, pintar, dan unggul dalam segala hal. Namun, kota juga mempunyai banyak masalah yang timbul karena aspek-aspek lain seperti banyaknya gelandangan, narkoba, seks bebas, dan lain sebagainya.

Walaupun begitu, kota selalu terlihat menjanjikan ketimbang terus hidup di desa. Anak-anak desa sengaja bersekolah demi sertifikat dan ijazah yang mengantarkannya untuk meraih pekerjaan di kota, hingga mereka berurbanisasi. Tidak sebatas hijrah tinggal dan bekerja dari desa ke kota, tetapi mereka juga mengubah segala lini dan sendi kehidupan. Dengan banyaknya uang yang didapat di kota, mereka merasa nyaman sehingga terus menetap di kota tanpa kembali ke desa.

Hal tersebut menyebabkan pelebaran jurang antara desa dan kota. Desa makin miskin dan kota makin maju. Ketimpangan ini semakin membuat orang-orang desa berbondong-bondong pergi ke kota karena hidup di desa semakin tidak menjanjikan. Fenomena ini akhirnya menyorot perhatian banyak pihak, termasuk pemerintah. Pemerintah kini fokus untuk membangun infrastruktur desa hingga membuat jenis-jenis desa seperti desa wisata, desa budaya, desa kerajinan, dan lainnya.

Budayawan Emha Ainun Nadjib dalam tulisannya yang berjudul ‘Mengubah Desa, Mengubah Negara’ yang ada dalam bukunya, Gelandangan di Kampung Sendirimenjelaskan keadaan ini melalui adanya program kuliah kerja nyata (KKN) yang diselenggarakan kampus-kampus yang ada di kota. Program KKN selalu memilih desa sebagai tempat sasaran untuk menjalankan kegiatan-kegiatannya.

Desa dipilih karena institusi pendidikan seperti kampus serta mekanisme yang berada di dalamnya tumbuh berakar dalam masyarakat. Kita kenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian. Terdapat pengabdian karena kristalisasi hasil pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi yang ada di kota sudah seharusnya bisa berbuah dan berguna setelah dipetik manfaatnya oleh masyarakat luas.

Cak Nun mendeskripsikan bahwa orang desa butuh banyak belajar untuk menempa pikiran-pikirannya sendiri dan mencoba terbiasa dengan permasalahan-permasalahan yang mereka alami.

Kan, orang desa perlu belajar merumuskan pikiran-pikirannya sendiri, perlu membiasakan diri mengartikulasikan persoalan persoalan mereka sendiri. Makin seseorang pandai merumuskan dirinya, makin matang pula pengetahuannya tentang diri sendiri dan tentang lingkungannya. (Hal. 219)

Cak Nun mencoba menjabarkan kondisi bagaimana anak-anak dusun dan mahasiswa-mahasiswa yang sedang ber-KKN ini seharusnya menjadi simbiosis mutualisme: saling belajar. Ilmu-ilmu yang telah dipelajari di kampus seharusnya tidak membuat mereka tinggi hati. Karena sejatinya, mereka pun sedang belajar untuk bisa dengan tepat menerapkan ilmu-ilmu mereka di dalam masyarakat.

Momentum-momentum ilmu dan pilihan-pilihan anak muda terpelajar dari kota justru harus dilihat sebagai gejala dinamika  kreatif. Anak-anak itu berada dalam fase mencari sehingga memang selayaknya kalau kepada penduduk dusun pun mereka mau belajar. (Hal. 219)

Diceritakan mahasiswa-mahasiswa tersebut mencoba untuk membentuk tradisi sarasehan dan kelompok diskusi. Namun, tema-tema yang dipilih oleh mahasiswa-mahasiswa KKN terkadang muluk-muluk sehingga tidak menarik minat anak-anak muda di desa. Selain itu, penduduk juga kurang paham dengan tema-tema diskusi yang ditawarkan.

Diluar dugaan, anak-anak dusun mengusulkan tema-tema sendiri yang tidak terpikirkan oleh mahasiswa-mahasiswa KKN. Contohnya “Kenapa Sesudah 12 Tahun Dibangun, Balai Desa Tidak Kunjung Jadi, padahal Hampir Tiap Tahun Tarikan Iuran Diselenggarakan Terus-Menerus?” atau “Kenapa Pak Lurah Tidak Pernah Bertanya kepada Rakyatnya: Siapa yang Berasnya Sudah Habis? Siapa yang Anaknya Sakit dan Tak Punya Uang untuk ke Dokter?”

Tema-tema yang ditulis Cak Nun seakan-akan menampar wajah-wajah mahasiswa masa kini yang tidak peka dan kurang mengerti lingkungan sekitarnya. Terlebih, memahami persoalan-persoalan yang dialami oleh warga desa pada umumnya. Kenapa mahasiswa sekarang selalu tidak memahami begitu banyak problema yang dihadapi oleh rakyat, bahkan warga desa sekalipun.

Padahal, perkara membangun desa berawal dari pembahasan masalah-masalah yang dialami oleh warga desa itu sendiri. Tidak perlu muluk-muluk untuk mengajari warga desa karena mereka tahu apa yang mereka lakukan. Mindset mahasiswa yang selalu tertanam sebelum KKN dimulai adalah bahwa mereka harus mengajari warga desa untuk berteknologi, dan sebagainya. Padahal, seharusnya mahasiswa KKN itulah yang belajar dari warga desa.

Akan tetapi, usulan tema-tema yang disampaikan pemuda desa justru ditolak oleh mahasiswa KKN. Karena mereka menganggap tema-tema tersebut akan mengganggu “keamanan”, lebih-lebih tidak enak dengan Pak Lurah. Hal tersebut menunjukkan ketidakberanian mahasiswa itu sendiri untuk mengupas masalah-masalah dengan lingkup yang tidak terlalu besar. Kendati yang kita tahu adalah mahasiswa adalah calon-calon pemimpin negara masa depan. Dimulai dari berani menyuarakan suara warga desa merupakan satu langkah kecil bagi mahasiswa atau siapa pun yang berniat membangun negara karena membangun negara berawal dari desa.

Mau tahu cerita selanjutnya dan tulisan-tulisan lain dari Cak Nun yang menggelitik nalar lainnya? Dapatkan buku Gelandangan di Kampung Sendiri hanya di sini!