Sekarang ini kita mengenal pemimpin sebagai figur yang menonjol muncul berkat lingkungan majemuk, lalu terpilih melalui sistem demokrasi oleh mayoritas masyarakat yang ada. Berbeda dari zaman dahulu, kini demokrasi kita warnai dengan hadirnya teknologi yang begitu canggih. Pemimpin dituntut untuk bisa memanfaatkan dan mengikuti teknologi yang ada tersebut untuk terus dekat dengan rakyatnya. Hingga tercipta persepsi bahwa pemimpin pada zaman sekarang harus selalu akrab dengan teknologi.

Itu jika terjadi pada pemimpin. Jika pemimpin memang tidak bisa mengontrol dirinya maka yang bereaksi adalah lapisan grassroot alias lapisan akar rumput, yakni masyarakat. Pemimpin harus bisa menanggapi kemajuan teknologi dengan arif dan bijaksana serta berjiwa besar. Karena pemimpin pada saat ini sangat mudah diberi label oleh masyarakat: kafir, antek asing, komunis, boneka, dan lainnya.

Cak Nun membahas fenomena pelabelan terhadap pemimpin dan cara menyikapinya lewat kisah teladan yang dimuat dalam tulisannya yang berjudul “Meludahi Wajah” pada buku Kiai Hologram. Pada tulisan ini misalnya, sarat terkandung renungan yang mampu menyadarkan jiwa agar lebih bijaksana.

Cukup beberapa episode pertarungan kecanggihan bermain pedang, Amr tergeletak. Ujung pedang Ali menyentuh leher Amr, tinggal menancapkannya untuk membunuh Amr dan membuat seluruh pasukan Ali menang.

Tiba-tiba dari posisi telentangnya, Amr meludah ke wajah Ali dan mengenai sebelah pipinya. Termangu beberapa saat, Ali kemudian menarik pedang dan menyarungkannya. Dia tidak menggunakan kesempatan dan haknya untuk menusukkan pedang ke leher Amr.

Betapa terkejutnya semua yang menyaksikan—kedua pasukan, terutama Amr sendiri. Tatkala ditanya kenapa mengambil keputusan itu, Ali menjawab, “Aku terhina dan marah diludahi olehnya. Kutarik pedangku karena aku kawatir membunuhnya karena amarah dan kebencian.” (Hal. 168)

Cak Nun menghubungkan peristiwa ini dengan keadaan sekarang saat orang-orang tidak hanya berpikir mengenai ketepatan tindakan dan ucapan. Keadaan sekarang adalah zaman ketika sebuah bangsa tak habis-habisnya bertengkar karena kehilangan kemampuan dan ilmu untuk merawat wajah (harga diri) dan menjaga lidah mereka. Namun, pada zaman media sosial seperti sekarang juga manusia perlu untuk menjaga jarinya, terutama pemimpin yang dituntut mengenal dan memanfaatkan teknologi.

Akan tetapi, keberadaan teknologi saat ini bagaikan buah  simalakama. Jika pemimpin tidak memanfaatkan teknologi maka pemimpin itu akan dicap gagap teknologi alias “gaptek”. Terlebih Indonesia, kini sedang dan akan mengalami bonus demografi, ketika jumlah masyarakat yang sedang berada dalam usia muda dan produktif lebih banyak jika dibandingkan dengan kelompok usia yang lain. Tentunya, kelompok usia yang produktif ini lebih mengenal teknologi daripada kelompok-kelompok usia yang lainnya. Jika pemimpin atau calon pemimpin sukar memanfaatkan teknologi untuk bisa “meraih hati” para pemilih muda ini, apalagi memilih cara-cara kolot dalam berteknologi khususnya bermedia sosial dengan blocksuspendunfollow, dan lainnya, pemimpin tersebut berisiko untuk kehilangan suara hari ini dan masa depan.

Sebaliknya, jika pemimpin memilih jalan teknologi untuk bisa dekat dengan masyarakatnya, kemungkinan-kemungkinan seperti ujaran kebencian, berita palsu, apalagi akun-akun buzzer atau robot media sosial yang menggiring opini akun asli menjadi batu terjal dalam perjalanannya. Sudah lazim pada zaman sekarang melihat banyak pemimpin dan calon pemimpin diserang dengan berbagai macam serangan. Dengan mudah, kini berbagai elemen masyarakat dibentrokkan dengan berbagai macam kemungkinan. Pemimpin dituntut untuk bisa lebih arif dan bijaksana dalam mengurus persoalan ini.

Seperti pada kisah Ali dan Sayyidina Ali ketika mereka berdua adalah figur pemimpin yang mempunyai pengikut di belakangnya. Jika saja Ali jadi menghunuskan pedangnya ke leher Amr, pertarungan yang lebih dahsyat tidak akan terelakkan. Sifat sabar, tepat dalam mengambil kebijakan inilah yang sepatutnya dijadikan tuntunan oleh para pemimpin saat ini.

Ingin membaca berbagai kisah lainnya dari Cak Nun? Dapatkan buku Kiai Hologram dan buku-buku Cak Nun lainnya di sini!